11 Desa di Maluku Masuk Zona Merah Peredaran Narkoba

oleh -257 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Peredaran narkoba di wilayah Maluku saat ini tidak hanya menyasar wilayah perkotaan namun juga wilayah pedesaan.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Maluku mencatat ada 11 desa di Maluku yang masuk dalam kategori zona merah atau daerah rawan peredaran narkoba.

Kepala BNN Provinsi Maluku, Brigjen Pol HM Zainul Muttaqien mengatakan, dari 11 desa di Maluku yang masuk zona merah peredaran narkoba, lima di antaranya berada di Kota Ambon.

“Untuk desa yang masuk zona merah itu ada lima desa di Ambon, dan dua di Seram Bagian Barat,” kata Muttaqien, seperti dilansir dari Kompas.com, Sabtu (13/2/2021).

Selanjutnya, di kabupaten Maluku Tengah, Buru, Buru Selatan dan Kota Tual masing-masing satu desa yang berstatus zona merah peredaran narkoba.

Baca Juga  Bos Bank BNI Bobol Dana Nasabah Senilai Rp 135,5 Miliar

Muttaqien tidak mengungkap nama ke-11 desa tersebut.

Sebelas desa itu berstatus zona merah karena adanya aktivitas peredaran dan penggunaan narkoba secara ilegal di desa-desa tersebut.

“Iya, karena ada peredaran narkoba dan penggunaan narkoba di sana,” ujar dia.

Menurutnya, peredaran dan penggunaan narkoba di 11 desa tersebut umumnya didominasi oleh sabu ganja dan ganja sintetis.

“Sabu nomor satu, kedua ganja dan ketiga itu ganja sintetis,” ujar dia.

Adapun narkoba yang beredar di Maluku khususnya di daerah-daerah zona merah umumnya didatangkan dari Manado, Makassar dan Jakarta.

“Kami akan terus pantau, kami juga akan pantau aktivitas di daerah-daerah zona merah itu,” kata dia.

Ia mengakui, di Maluku pengguna narkoba rata-rata merupakan kaum milenial dengan batasan usia mulai dari 15 hingga 39 tahun.

Baca Juga  Lobloby: Dana tak terduga digunakan untuk pelantikan Bupati

Ia menyebut, masa pandemi saat ini ada kecenderungan banyak warga yang terpaksa memilih  menjadi pengedar karena kesulitan hidup.

Untuk memerangi penggunaan dan peredaran narkoba di Maluku BNN telah berkoordinasi dengan, Gubernur, Polda Maluku, Kodam XVI Pattimura, Kejati Maluku hingga pimpinan umat bergama di daerah tersebut.

Dia menuturkan, perang terhadap peredaran narkoba di Maluku tidak hanya menjadi tanggung jawab BNN tapi juga semua pihak termasuk pemerintah dan pihak kampus.  

“Sehingga kami berharap dukungan dari semua pihak dari TNI Polri, MUI, GPM, Keuskupan dan juga perguruan tinggi,” ujarnya.

“Saya juga sudah datang ke kanwil Kemenag dan sudah video konferens dengan semua Ketua MUI kabupaten kota dan Klasis serta pastori untuk satukan persepsi,” tambah dia.

Baca Juga  Fraksi Bupolo DPRD Buru Lakukan Kunjungan Kerja ke Watempule

Pihaknya terus berupaya untuk mencegah peredaran narkoba di wilayah Maluku baik dengan pendekatan penindakan maupun secara persuasif.

Sejak empat bulan terakhir BNN Maluku telah menyita sebanyak 1.175 gram ganja dengan harga Rp 117 juta, sabu 621, 45 gram dengan harga Rp 2,1 miliar dan ganja gorila sebanyak 688 gram Rp 68 juta. 

“Ini sebagai bagian upaya melawan peredaran narkoba di Maluku. Sebab, kasus narkoba di Maluku ini paling tinggi sekali, data yang saya terima napi di lapas paling banyak itu napi kasus narkoba kedua pencabulan dan ketiga itu korupsi,” papar dia.

(red/kompas.com)