142 Calon Nominator Ikuti “Hukumonline Award 2019 Termasuk Kantor Advokat Kuswandi Buamona dan Rekan di Sanana

oleh -41 views
Link Banner

Porostimur.com |Jakarta: Survei pengumpulan data calon nominator “Hukumonline Award Pro Bono Champions 2019” telah memasuki hari terakhir, Jumat (1/11) kemarin.

Tercatat sudah ada 142 responden yang mendaftar sejak survei dibuka pada Selasa, 8 Oktober 2019 lalu. Salah satu kantor hukum yang termasuk di dalamnya adalah Kantor Advokat Kuswandi Buamona dan Rekan di Sanana, Kepulauan Sula Maluku Utara.

“Hukumonline Award Pro Bono Champions 2019” adalah ajang penghargaan bagi para advokat dan kantor hukum yang berkomitmen menunaikan kewajiban pro bono (layanan jasa hukum gratis). Penyelenggaraan yang kembali dilakukan untuk kali kedua ini sebagai upaya Hukumonline mewujudkan komitmennya: memberikan edukasi dan pencerahan kepada masyarakat tentang dunia hukum di Indonesia.

Baca Juga  ASN Buru ditatar wawasan kebangsaan oleh Kodim 1506/Namlea

Menjadi mitra kerja sama dalam meningkatkan kualitas profesi hukum termasuk pula dalam komitmen tersebut. Menggaungkan gerakan pro bono advokat adalah upaya konkret memajukan profesi advokat sebagai officium nobile. Pada saat yang sama, Hukumonline berharap gerakan pro bono ikut mewujudkan akses merata kepada keadilan bagi masyarakat.

Link Banner

Sayangnya, para pemangku kepentingan terkait pro bono luput memberikan perhatian yang layak. Bahkan konsep pro bono kerap tertukar dengan bantuan hukum (legal aid) sebagai kewajiban pemerintah.

Sejumlah catatan Hukumonline menunjukkan bahwa gerakan pro bono masih minim perhatian dan apresiasi. Padahal pro bono adalah tanggung jawab moral profesi advokat yang melekat secara individu. Manfaatnya juga sangat dibutuhkan untuk mewujudkan akses keadilan seluas mungkin di masyarakat.

Baca Juga  Gempa 5.1 Magnitude Guncang Maluku Tengah

Ketua Peradi ‘Rumah Bersama Advokat’, Luhut M.P. Pangaribuan bahkan menyatakan profesi advokat akan kehilangan kehormatannya jika tidak melaksanakan pro bono. “Hanya dengan cara itu kita bisa menyebut profesi kita sebagai officium nobile,” kata Luhut.

Sebagai bagian dari tanggung jawab profesi, kewajiban pro bono  ini pun telah lama diatur dalam UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat (UU Advokat). Namun karena memang tidak dilengkapi insentif atau sanksi, pelaksanaannya terkesan seadanya.

Survei yang diselenggarakan Hukumonline adalah langkah awal mengumpulkan data dari calon nominator penerima “Hukumonline Award Pro Bono Champions 2019”. Penilaian dilakukan berdasarkan kuesioner yang diisi dalam survei. Para advokat dan kantor hukum yang telah berdedikasi menjalankan pro bono diharapkan bisa menjadi inspirasi positif bagi dunia hukum Indonesia.

Baca Juga  Jumlah OTG Covid-19 Terus Bertambah, LSM Rorano dan PDI Perjuangan Malut Khawatir

Penghargaan ini tentu saja bukan bermaksud menjadikan pro bono sebagai ajang pamer. Hukumonline sepenuhnya meyakini bahwa kabar baik juga harus disebarkan bersama-sama pahitnya kabar buruk. Jika kabar buruk bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan kontrol sosial, kabar baik bertujuan menghadirkan harapan dan keteladanan.

Keyakinan tersebut diamini oleh Fauzie Yusuf Hasibuan selaku Ketua Dewan Pimpinan Nasional Peradi. “Saya mengapresiasi award yang diberikan Hukumonline, kami harap data-data hasil survei ini bisa memotivasi yang belum menjalankan pro bono,” katanya. (re/rtl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *