2018, Dinkes Ambon lacak 214 kasus HIV/AIDS

oleh -36 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Kota Ambon masih menjadi penyumbang terbesar dalam masalah tingginya kasus HIV/AIDS di tingkat provinsi.

Tingginya jumlah kasus yang terdeteksi ini, juga ditopang dengan adanya kesiapsiagaan aparat yang ada dalam melakukan pelacakan atas kasus HIV/AIDS.

Dalam kurun tahun 2018 saja, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon berhasil melacak 214 kasus.

Dimana, kasus dimaksud melibatkan 141 pria dan 73 wanita, dengan penderita HIV sebanyak 180 orang.

Link Banner

Dalam tahun 2018 kemarin, 34 kasus penderita HIV dan AIDS, 2 kasus di antaranya meninggal dunia.

Saat berhasil dikonfirmasi wartawan, di Ambon, Rabu (23/1), hal ini dibenarkan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy.

Tingginya kemampuan deteksi terhadap potensi penyakit HIV/ADIS ini, akunya, tak lepas dari peran Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada dalam Kota Ambon, yang sudah memiliki kemampuan memberitakan HIV itu sendiri.

”Kami di Kota Ambon memang tertinggi ke 1 (penyumbang kasus HIV/AIDS-red) di Maluku. Itu disebabkan karena kita melacak kasus itu lebih sering. Jadi, setiap bulan kami punya puskesmas itu ada beberapa puskesmas yang bisa langsung memberitakan HIV, selain di RS Umum,” ujarnya.

Baca Juga  Musisi Dunia Sepakat Musik pada Kampanye Harus Berizin

Semakin dini terdeteksinya seorang warga berpotensi HIV, jelasnya, memberikan kesempatan lebih besar kepada pihaknya untuk memberikan pengobatan kepada warga dimaksud.

”Oleh karena itu, pelacakan kasus itu lebih ditingkatkan. Kita dapat jumlah besar dalam periode yang masih dini itu, kita bisa obati lebih mudah dalam taraf dia masih HIV, sebelum penderita tersebut jatuh ke dalam AIDS. Jadi, kita bersyukur. Artinya, bersyukur dalam hal kita bisa menemukan kasus yang lebih dini. Tidak bisa diartikan bahwa kalau misalnya kasus itu rendah, siapa yang bisa pastikan daerah itu tidak ada kasus,” jelasnya.

Tentang sasaran pelackan kasus HIV sendiri, tegasnya, pihaknya masih menempatkan pusat hiburan alam sebagai prioritas utama.

Baca Juga  Gempa 7.1 SR Berpotensi Tsunami, Warga Jailolo dan Sekitarnya Mengungsi

Pasalnya, lokasi hiburan malam merupakan lokasi yang paling mudah terjadinya penularan kasus.

”Kalau misalnya pelacakan, itu dilakukan lebih sering. Kami setiap saat itu melakukan pelacakan di tempat-tempat yang berpotensi seperti di karaoke-karaoke dan sebagainya yang berpotensi terjadinya penularan kasus ini. Itu lebih sering dan dilakukan oleh seluruh Puskesmas yang ada di wilayah Kota Ambon bekerja sama dengan SKPD untuk melakukan pelacakan ini. Apabila ditemukan kasus, kemudian langsung kita obati sebelum penderita ini jatuh ke dalam HIV,” tegasnya.

Ditambahkannya, deteksi dini ataupun pelacakan yang dilakukan memudahkan pihaknya melakukan pengobatan kepada penderita, sebelum penderita dimaksud jatuh ke dalam taraf HIV.

Dimana, contoh konksit ini sudah disebutkannya tadi yakni dari 34 kasus HIV dan AIDS, 2 kasus di antaranya meninggal dunia.

Baca Juga  Soal Pilkades, Komisi I DPRD Akan Panggil Pemda Kepulauan Sula, Selasa Besok

”Penderita HIV dan AIDS 34 kasus di tahun kemarin itu, meninggal 2 kasus. Jadi bagaimana kita melacak kasus sebanyak mungkin, untuk mendapatkan penderita dalam kondisi sedini mungkin untuk bisa diobati, sebelum penderita tersebut sampai ke tahap HIV,” pungkasnya. (keket)