2020 yang Aneh

oleh -50 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Tahun ini sangat berat. Tahun pandemi dimana semua tatanan hidup sosial dijungkirbalikkan. Hidup manusia tidak lagi sosial melainkan harus soliter.

Kita tidak boleh lagi berkumpul. Kita tidak boleh bersalaman. Apalagi cipika-cipiki. Anak-anak kita belajar di rumah. Jauh dari pergaulan sosial. Kita tidak boleh mengunjungi orang yang kita cintai.

Bahkan bernapas pun kita dibatasi oleh benda bernama masker. Kita hidup dalam ketakutan oleh musuh virus yang kasat mata itu.

Nah, sekalipun demikian, manusia dikaruniai akal budi. Dan dengan akal budi tersebut dia mengakali hidupnya.

Mengakali hidup itu yang saya dapati dari sebuah berita dibagikan oleh kawan saya. Berita ini adalah tentang seorang pria dari negara Kazakhstan yang bernama Yuri Tolochko.

Tuan Tolochko adalah seorang binaragawan. Sebagaimana layaknya binaragawan otot-ototnya bagus. Menjadi manusia berotot itu sepenuhnya normal bukan? Namun ada yang menarik perhatian orang tentang Tuan Tolochko ini. Bukan ototnya tapi perkawinannya.

Menjelang Natal kemarin dikabarkan bahwa Tuan Tolocko mengawini pujaan hatinya yang bernama Margo. Normal? Iya. Kecuali bahwa pujaan hatinya itu sebuah boneka.

Baca Juga  Sat Samapta Polres Halsel Intens Laksanakan Edukasi Terkait Penerapan Pencegahan Covid-19 Pada Masyarakat

Dia membuat pesta untuk perkawinannya itu. Hukum di negara yang banyak diparodikan dalam film Borat itu pun tidak melarang perkawinan dua jenis seperti itu. Saya katakan dua jenis karena yang satunya manusia, yang satunya benda.

Singkat kata, perkawinan berlangsung lancar dan gembira. Tuan Tolochko memposting di akun instagramnya foto dia sedang berdansa dengan istrinya, yang tentu saja lemas karena tak bernyawa itu.

Seluruh dunia pun tersenyum melihat adegan yang tak lazim ini. Banyak yang bergembira. Entah karena perkawinan ini maupun karena keanehan yang dipertontonkan.

Namun beberapa fanatik naik pitam karena jelas tidak mungkin orang kawin dengan benda. Ada juga yang mengatakan, “Sedih sekali sehingga orang harus kawin dengan boneka.”

Sekalipun, bertebaran cerita bahwa orang bisa kawin dengan mahluk halus atau jin. Apakah ini sama belaka? Saya tidak tahu dan tidak berani mengambil kesimpulan. Terserahlah orang percaya. Sama seperti Tuan Tolochko yang percaya bahwa dia bisa kawin dengan boneka.

Tuan Tolochko tampaknya menikmati perkawinannya ini. Kadang bininya ‘misuh’ (memaki) namun “dalam hatinya sangat lembut,” demikian tulisnya di IG.

Seperti motivator, Tolochko juga punya nasehat tentang perkawinan. Pasangan dalam perkawinan itu harus lebih mengutamakan komunikasi non-verbal, katanya. “Pasangan itu seharusnya lebih sedikit bicara, tapi banyak saling menyentuh.”

Baca Juga  Kiat Membuat Naskah Film dari Luc Besson

“Seiring bertambahnya waktu dan pengalaman, Margo dan saya sadar bahwa perbincangan itu lebih dari sekedar kata-kata,” tulisnya.

Saya kira, saya bisa paham tentang nasehat ini. Kalau binimu karet dan plastik, tentu kamu harus lebih sering menyentuhnya bukan?

Tolochko mengklaim dirinya sebagai seorang pan-sexual. Saya kira ini juga agak berlebihan. Karena pan-sexual itu berarti orang yang tertarik pada orang lain secara sexual tanpa memandang identitas gendernya — laki, perempuan, setengah salahsatunya, atau seperempat salah satunya, semuanya oke.

Nah, cuman ada satu hal. Menjelang Natal kemarin, Nyonya Tolochko ini rusak. Silahkan pakai imajinasi Anda untuk membayangkan mengapa Nyonya Tolochko ini rusak persis ketika sangat dibutuhkan. Akhirnya dia dikirim balik ke pabriknya untuk direparasi.

Cerita dari Tuan Yuri Tolochko saya kira penting di penghujung tahun pandemik ini. Di masa ini, kita dibiarkan piatu sendirian. Tanpa kawan dan tanpa manusia lain.

Seorang sastrawan pernah menulis bahwa “neraka adlah manusia lain.” Nah, disinilah barangkali Tuan Tolochko menemukan surganya. Dia tidak butuh manusia lain dalam hidup perkawinannya (dan hidup seksualnya juga).

Baca Juga  2 kali dipanggil Bawaslu, Betaubun masih mangkir

Tuan Tolochko memilih mengawini imajinasinya. Ini mungkin tampak gila. Namun, apakah di jaman sekarang ini yang tidak menggunakan imajinasi? Bahkan ada pandemik yang sesungguhnya jauh lebih dahsyat, yaitu pandemik digital.

Di era digital ini, semuanya adalah imaji. Semuanya hanyalah rekaan atau bayangan belaka. Kita bermain, berolahraga, berhubungan seksual, bahkan menjadi intelektual, dalam batas-batas imaji saja.

Tuan Tolochko melangkah lebih jauh. Dia menjadikan Nyonya Tolochko tiga dimensi. Dia adalah tuhan atasnya. Dia menciptakan istrinya seturut kehendaknya. Dialah Hawa yang dibelinya dengan duit sendiri.

Cuman ya itu tadi, dia mungkin memperlakukan istrinya terlalu keras sehingga robek dan rusaklah dia.

Untuk saya, ini sama sekali tidak aneh. Di masa-masa sulit seperti ini, akan lebih banyak orang hidup dalam dunia imaji. Akan lebih banyak orang kawin dengan lelembut dan percaya dia akan menjadi kaya raya karenanya.

Jadi apa yang aneh? Tidak ada yang aneh sebenarnya. Yang aneh adalah bahwa Sandiaga Uno masuk kabinet. Ini aneh karena memberi kekuasaan kepada orang kaum kaya yang sudah berkuasa. Empowering the powerful. Itu yang aneh kalau menurut saya. (*)