Bassam Kasuba: Pilkada Halsel 2020, Saatnya “Naik Kelas” dari Politik Pencitraan ke Politik Gagasan

oleh -261 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Politisi milenial asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hasan Ali Bassam Kasuba mengatakan, politik gagasan harus menjadi modal utama untuk maju sebagai calon bupati dan wakil bupati dalam Pilkada Halmahera Selatan 2020 mendatang.

Dengan politik gagasan kata putra politisi senior Muhammad Kasuba yang juga mantan Bupati Halsel dua periode ini, maka persoalan tua dan muda tidak menjadi persoalan.

“Soal pengalaman nama-nama yang muncul dalam kontestasi Pilkada Halsel, tentu tidak perlu diragukan. Calon yang memiliki gagasan menandakan ia memiliki prinsip dan road map yang jelas ketika memimpin. Dengan kata lain, pembangunan daerah yang dipimpinnya sudah ada di pikirannya,” tutur Bassam.

Baca Juga  Kampanye di Morotai, AGK-YA optimis dulang lebih dari 50% suara

Menurutnya, masyarakat Halmahera Selatan membutuhkan pemimpin yang memiliki inovasi, gagasan, dan kemajuan dalam berpikir.

“Level politik kita harus naik kelas. Politik kita tidak lagi berada hanya dalam ranah citra, popularitas, atau bahkan ranah politik uang. Membawa politik berbasis gagasan ke dalam arena politik, artinya kita menyingkirkan hal-hal yang membuat gelaran demokrasi tersebut tidak elok dan tidak bermartabat,” ujarnya. 

Bassam yang telah menyatakan dirinya akan bertarung di Pilkada Halsel 2020 ini menjelaskan, popularitas bukanlah hal yang substansial, karena menjadi kepala daerah bukan untuk menjadi selebritis.

“Rekrutmen partai politik dalam menjaring calon menjadi penting untuk kita awasi bersama. Apakah partai hanya mementingkan popularitas dari calon yang melamar, “isi tasnya”, basis massa, atau melihat track record-nya?,” ujarnya dengan nada tanya

Lebih jauh, Bassam mengatakan, kaum muda itu lebih dekat dengan perubahan, surplus energi positif, lebih identik dengan harapan dan ekspektasi baru. Berkaca dari sejarah, pemimpin progresif Indonesia berasal dari kaum muda, Soekarno ketika membacakan pledoi Indonesia menggugat yang legendaris itu berusia 29 tahun dan Hatta berusia 30 tahun saat mendampingi Sukarno di era tersebut.

Baca Juga  Wakapolda Maluku & PJU Sambut Kedatangan Kapolda Maluku Irjen Pol Refdi Andri

“Hamengkubuwono IX dinobatkan jadi raja pada usia 28 tahun dan mampu membuktikan sikap kenegarawannannya dalam krisis. Dr Soetomo berusia 20-an saat mendirikan Boedi Oetomo, demikian juga Sutan Syahrir berusia 21 saat menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Semangat 10 November juga digerakkan kaum muda Surabaya,” papar Bassam.

“Masyarakat dan daerah ini membutuhkan pemimpin yang memiliki inovasi, gagasan, dan revolusioner. Level politik kita harus naik kelas. Politik kita tidak lagi berada hanya dalam ranah citra, popularitas, atau bahkan ranah politik uang. Membawa politik berbasis gagasan ke dalam arena politik, artinya kita menyingkirkan hal-hal yang membuat gelaran demokrasi tersebut tidak elok dan tidak bermartabat,” pungkasnya. (red/rtl/adhy)