27 Perusahaan Ikut Tender Jalan Dan Jembatan Wayatim-Wayaua, HCW Minta ULP Tidak Main-main

oleh -442 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Direktur Halmahera Coruption Watch (HCW) Maluku Utara (Malut), Rajak Idrus, mengatakan sebanyak 27 perusahaan yang telah mengikuti tender proyek jalan jembatan Wayatim Wayaua, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Oleh karena itu, HCW meminta Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang melaksanakan tender untuk tidak main-main dan lebih mengedepankan aturan.

“HCW minta agar ULP dan Pokja agar pebih mengedepankan aturan dilihat dari sisi kelayakan, mulai dari tingkat penawaran yang terkecil yang harus menjadi prioritas sebagai pemenang. Jangan lagi di otak-atik karena hal tersebut dapat mempengaruhi pembangunan Maluku Utara”, ujarnya kepada Porostimur.com, Jum’at (23/7/2021).

Ia mengaku, dari proses awal hingga saat ini, HCW tetap mengikuti jalannya proyek tersebut dan hasil penelusuran, tim HCW pun menemukan proyek jalan dan jembatan Wayatim Wayaua telah diikuti 27 perusahaan. Dari total 27 perusahaan tersebut diantaranya ada 5 perusahaan yang menjadi prioritas, jika dilihat dari sisi penawaran mulai dari penawaran terendah pertama hingga penawaran terendah kelima.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Ajak Satukan Kekuatan Melawan Covid-19

Untuk itu HCW meminta, agar ULP atau Pokja lebih jeli dan objektif untuk melakukan penilaian, sebab hal ini menurutnya bisa menjadi fatal jika penilaian ULP atau Pokja bersandar pada arahan atau bisikan, sebab semua ini adalah kewenangan ULP atau Pokja untuk memverifikasi semua keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari kantor dan alat pendukung lain seperti alat berat.

“Kami HCW berharap, budaya pembisik atau budaya penekanan itu di hentikan, karena proyek jalan dan jembatan Wayatim Wayaua ini bukan lagi menjadi hal biasa, tapi ini sudah menjadi hal yang luar biasa sebab paket tersebut sudah 3 kali ditenderkan dan bukan hanya HCW, akan tetapi masyarakat pun ikuti dan pantau proyek tersebut yang sementara dilelang di ULP Provinsi Maluku Utara. Dokumen lelang proyek itu bukan lagi menjadi dokumen rahasia akan tetapi semua itu bisa dikroscek atau dilihat di sistem LPSE”, kata Jeck sapaan akrabnya.

Baca Juga  Mahasiswa Kembali Demo di DPR, Lalin Jalan Gatot Subroto ke Slipi Macet

Dirinya berujar, bahwa sebelum proyek tersebut ditayang atau ditender ulang pada Kamis kemarin, HCW menduga sudah ada koordinasi dan permainan dengan orang tertentu. Untuk itu, pihak ULP atau Pokja harus diawasi karena pembangunan proyek ini menggunakan dana pinjaman dari PT. SMI dengan anggaran sebesar Rp.28.396.000.000.

“HCW berharap, sebelum melakukan penetapan pemenang, Pokja atau ULP harus membentuk tim kecil dan dalam tim tersebut harus melibatkan Polisi dan Jaksa untuk mengecek kesiapan perusahaan yang mengikuti lelang proyek jalan dan jembatan Wayatim Wayaua mulai dari kantor, alat berat dan pendukung lainnya, minimal memiliki kantor di Ternate, sebagai bahan pertimbagan ULP atau Pokja sehingga kontraktor lebih berhati-hati saat melakukan pekerjaan”, tutup Jeck. (alena)

No More Posts Available.

No more pages to load.