57 Pastor Asli Papua Kutuk Rasisme, Tolak Ketidakadilan dan Kekerasan Berantai di Papua

oleh -91 views
Link Banner

Porostimur.com | Nabire: Sebanyak 57 Pastor Asli Papua (PAP) yang sedang mengemban misi kegembalaannya di 5 Keuskupan se-Regio Papua dari Merauke hingga Sorong, mengutuk rasisme, menolak ketidakadilan serta segala bentuk kekerasan yang terjadi di atas tanah yang penuh onak dan duri (Papua).

Seruan para Imam Katholik Asli Papua ini disampaikan oleh Jhon Alberto Bunay selaku Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) dan sebagai Pastor yang dipercayakan oleh 57 Pastor Asli Papua (PAP).  

Dalam seruan siaran Pers yang diterima redaksi porostimur.com, Kamis (11/6/2020), Pastor Jhon dan 56 Imam Katholik Asli Papua menyikapi berbagai persoalan yang menjurus kepada tindakan rasisme dan ketidakadilan terhadap OAP.

PAP menyebutkan, ketidakadilan terhadap para aktivis korban rasis, kekerasan dan pembunuhan terhadap OAP, serta ujaran dan tindakan yang masih memandang keterbelakangan OAP. “Kami para pastor tergerak untuk ikut serta dalam seruan Paus Fransiskus berkenaan dengan kasus rasis di Amerika dan tergerak menimba inspirasi dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik ini untuk menyuarakan kasus rasis Papua,” kata PAP.

Link Banner

Dikatakan PAP, seruan para pastor berpedoman pada dukumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup bersama, yang ditandatangai oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar.  

“Ini merupakan peta jalan berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa panduan yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia,” imbuh mereka.

Baca Juga  Airmata Haru Warnai Acara Perpisahan Anggota DPRD Bitung

Karena itu, menurut PAP  dalam seruan mengatakan, OAP membutuhkan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan.  

Bukan seperti Jaksa Penuntut Umum (JPU) memberikan tuntutan kepada Tuan Bucthar Tabuni 17 tahun, Agus Kossay dan Stafanus Itlay 15 tahun, Alexander Gobay, Ferry Kombo masing-masing 10 tahun dan 5 tahun untuk Irwanus Uropmabin dan Hengky Hilapok. 

PAP menilai, disitu adanya ketidakadilan dalam memberikan tuntutan kepada 7 orang aktivis karena  yang kini mendekam dibalaik terali besi di Balikpapan Kalimantan adalah korban rasisme bukan pelaku rasisme.

“Mengapa dituntut hukuman seberat itu padahal  7 Tapol anti rasisme adalah korban rasisme dan bukan pelaku rasisme pada hal mereka ditangkap dalam situasi demo demi harga diri manusia  Papua yang direndahkan,”tanya PAP.

Ditegaskan PAP dalam  seruannya meminta segera bebaskan 7 Tapol Papua korban kriminalisasi pasal Makar, sebab mereka bukan pelaku makar ataupu rasisme, mereka adalah korban dari kedua itu.

Selain itu PAP meminta kepada Mahkamah Agung RI segera memutus mata rantai praktek kriminalisasi pasal makar, menggunakan sistem peradilan pidana di Papua sebagaimana yang dialami 7 Tapol Papua.

“Kami PAP menolak dengan tegas, cara-cara menegakkan hukum (JPU) yang tidak adil, yang kesannya berat sebelah kepada semua terdakwa entah entah Orang Asli Papua atau Non Papua di wilayah Pemerintahan Republik Indonesia, contohnya pelaku rasis divonis hanya 5 bulan penjara, sedangkan mereka yang menjadi korban rasis diputuskan 5 tahun penjara dan 17 tahun penjara,”tegas mereka.

Baca Juga  Hingga Sabtu Pagi Terjadi 475 Kali Aktivitas Gempa Bumi Susan di Ambon

Terkait dengan penganan persolan kemanusian di tanah Papua, PAP menilai belum tertangani dengan baik seperti kasus  pembunuhan di luar proses hukum, penangkapan sewenang-wenang serta kejahatan dibawa hukum Internasional yang melanggar hak Orang Papua atau hak Orang Asli Papua, dan kebebasan menyatakan pendapat.

Kebebasan Pers, pemblokiran internet di Papua, kriminalisasi aktivis Papua, dan kondisi pengungsi di Nduga.

Menurut PAP, masih ada pandangan bahwa OAP, miskin, bodoh, terbelakang, dan belum maju, yang merupakan benih lahirnya ideologi rasisme. 

“Bila pandangan itu diterima sebagai ideologi, sampai kapan dan di manapun, dalam dunia kerja Pemerintahan maupun swasta, orang asli Papua (OAP) tidak akan diperhitungkan nilainya sebagai manusia,” cetusnya.

Hal itu para Imam Katholik ini tegas menolak terhadap semua kata-sikap, perlakukan yang diskriminatif terhadap OAP di atas tanah leluhurnya Papua dan wilayah Indonesia lainnya.

PAP mengajak kepada semua pihak untuk menyebarkan budaya toleransi dan hidup bersama dalam damai, agar mengadakan intervensi pada kesempatan paling awal untuk menghentikan penumpahan darah orang yang tidak bersalah dan mengakhiri konflik bersenjata, kerusakan lingkungan, serta kemerosotan moral dan budaya yang dialami dunia saat ini.

“Para intelektual, filsuf, tokoh agama, seniman, pakar media dan semua laki-laki dan perempuan berbudaya di setiap wilayah di kepulauan Indonesia untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan untuk menegaskan pentingnya nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua,  dan untuk memajukannya di mana-mana,”pinta mereka.

Baca Juga  Sejumlah Kasus Korupsi Jadi "PR" Kapolres M. Irvan, Ini Harapan GNPK - RI

PAP juga meminta, kepada pemerintah Indonesia, agar konflik di Tanah Papua dapat diselesaikan dan OAP dapat Hidup Damai Sejahtera di atas Tanah Leluhurnya, seperti suku bangsa lain di Indonesia dan dunia. 

Sangat baik dibuka ruang dialog, untuk membahas akar masalahnya. Menurut PAP, apapun masalahnya tanah Papua bukan tanah kosong.

Tanah Papua milik OAP, mereka ada dalam tujuh wilayah adat. Oleh karena itu, sangat bermartabat apabila diselesaikan dengan cara dialog.

Dialog tidak membunuh, dialog tidak menyakitkan & dialog tidak membuat kita bodoh.

Sebaliknya, bila kita gunakan cara-cara kekerasan, selalu akan meninggalkan luka lahir dan batin.

Apapun alasannya, membunuh adalah salah dan dosa. “Umat Katholik di tanah Papua untuk berdoa memohon keadilan dan kebijaksanaan bagi OAP di atas tanah Leluhurnya.

Berbuat sesuatu demi keadilan dan kebijaksanaan kepada sesama di seluruh Tanah Papua dan menjadi manusia pembawa damai di seluruh tanah Papua, Indonesia dan dunia,” imbuh mereka. (red/rtm/ppnc)