“Abah” di Tengah Krisis Kepemimpinan

oleh -15 views

Oleh: Dr. Edi Sugianto, Peraih Cumlaude dan Doktor Termuda Pascasarjana UMJ

Saya termasuk milenial yang mengenal “Abah” (panggilan akrab Anies oleh netizen) sudah sejak lama, setidaknya sejak saya mahasiswa strata satu, lihat saja tulisan saya tentang “Indonesia Mengajar” di Koran Jakarta, sudah melewati satu dasawarsa. Setelah itu, sering ngopi di cafe belakang Paramadina, juga bersama “Abah” Prof. Abdul Hadi WM, guru saya di bidang sastra.

Siapa yang tak mengidelokan “Abah”? Anak muda yang berhasil menjadi rektor dan mendunia. Sebenarnya, “Abah” bukan tipe orang yang suka bermain kata-kata layaknya kami di dunia sastra, namun ketika ia berbicara memang itulah isi hati dan pikirannya yang genuine. “Menyihir” bukan?

Sebagai mantan aktivis, “Abah” terbiasa turun lapangan, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Menurutnya, anak-anak muda terbaik bangsa mestinya mengisi dunia pendidikan, kalau bisa menjadi guru dan dosen di lembaga-lembaga pendidikan.

Meski “Abah” tidak mengambil jurusan pendidikan, tetapi ia begitu perhatian dengan persoalan-persoalan pendidikan. Mungkin, karena beliau dididik langsung oleh ibu yang luar biasa. “Bangsa yang besar selalu dimulai dari pendidikan,” begitu kira-kira kata yang sering muncul dari lisannya.

“Abah” menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) juga bukan sim salabim. Ia adalah orang yang sangat berjasa sebagai Jubir Tim Pemenangan Jokowi-JK 2014, ini bukan untuk mengungkit kebaikan, tetapi itulah fakta sejarah hidupnya. Apa sih prestasi “Abah” dan jajarannya saat di Kemendikbud? Di antara yang luar biasa pernah disampaikan saat Debat Pilkada DKI Jakarta, sekaligus sebagai klarifikasi terhadap pernyataan Ahok yang keliru. Kemendikbud ketika dipimpin “Abah” peringkatnya melejit dari peringkat ke-22 (dasar klasemen) menjadi peringkat ke-9. Prestasi kepemimpinan yang luar biasa, padahal hanya menjabat 20 bulan.

Baca Juga  Bongkar Rekayasa Pilpres 2024, BEM DIY: Kecurangan Pemilu Terstruktur dan Sistematis

Ketika “Abah” masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, saya adalah akademisi yang terang-terangan di media mendorong beliau untuk maju menjadi presiden. Pada saat bersamaan muncul deklarsi Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES).

Mengapa Harus “Abah”?

Lalu, mengapa “Abah” Anies Baswedan? Atau, mengapa saya mendukung “Abah”? Menurut saya dari kacamata kepemimpinan, “Abah” punya semangat kepemimpinan profetik yang tinggi.

Pertama, pribadi yang berintegritas (shiddiq), “Abah” bersih dari pelanggaran hukum, kasus korupsi, dan sebagainya. Kedua, pribadi yang kredibel (amanah), track record menunjukkan ia mampu menunaikan janji-janji politiknya sebagai Gubernur DKI 2017-2022. Ketiga, pribadi yang transparan (tabligh), “Abah” dan jajarannya menunjukkan transparansi dalam berbagai programnya, dan sangat terbuka dengan kritik. Keempat, pribadi yang cerdas (fathanah), “Abah” adalah cendikiawan Indonesia yang diakui dunia, bahkan pernah masuk Top 100 intelektual dunia.

Kini, kita menyaksikan ketimpangan, ketidakadilan dalam berbagai aspek, dan krisis kepemimpinan, terutama masalah demokrasi yang kini tercemari politik kepentingan keluarga, maka demokrasi mutlak memerlukan perubahan kepemimpinan. Sebagaimana gagasan “Abah”, perubahan dengan empat (4) indikatornya: meningkatkan yang baik, mengoreksi yang kurang, menghentikan yang salah, dan menghadirkan kebaruan yang lebih baik untuk masyarakat.

Baca Juga  Lelang 6 Jabatan Pimpinan OPD di Pemprov Maluku Utara Sepi Peminat

Seharusnya, pemimpin dalam demokrasi mesti menjadi pengendali peluang-peluang oligarki dan kerakusan kekuasaan, bukan justru menuruti politik hawa nafsu dan membangun politik dinasti, baik bagi partai pengusungnya, apalagi bagi keluarganya.

Saya yakin, “Abah” adalah jawaban terhadap krisis kepemimpinan nasional, karena memiliki pemahaman yang mendalam dan semangat demokrasi yang tinggi. Apabila “Abah” mendapat amanah dari Allah Ta’ala, dan masyarakat Indonesia secara umum, “Abah” akan selalu dituntun oleh ilmu dan akhlaknya. Ingat! Kami pun akan selalu berada di barisan terdepan sebagai pengawal demokrasi dan pengkritik kepemimpinannya. Demikian. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.