Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Baubau Wakatobi, Minta Tebusan Rp8 Miliar, Wakil Wali Kota: Lakukan Diplomasi

oleh -50 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: -24 September 2019, tiga nelayan asal Baubau dan Wakatobi disandera kelompok yang diduga Abu Sayyaf di Perairan Tambisan di negara bagian Sabah Malasia.

Dilansir dari pemberitaan Kompas.com pada 21 November 2019, tiga nelayan tersebut adalah Maharudin Lunani (48), anaknya Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27).

Melalui rekaman video yang dirilis di Facebook pada Sabtu pekan lalu, kelompok yang diduga Abu Sayyaf tersebut meminta uang tebusan senilai Rp 8 miliar untuk membebaskan tiga nelayan tersebut.

Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, Samiun dalam video tersebut meminta agar perusahaan atau pemerintah membebaskan mereka.

“Kami meminta kepada Presiden Indonesia untuk membebaskan kami. Mereka (Abu Sayyaf) meminta tebusan 30 juta peso (Rp 8 miliar),” ucap Samiun dalam video tersebut.

Dalam video berdurasi 44 detik ersebut terlihat tangan Samiun dan dua rekannya diikat.

Baca Juga  Puisi-puisi Morika Tetelepta

Mereka bertiga bekerja di Malayasia sebagai nelayan di salah satu kapal ikan Sandakan yang terdaftar di Malaysia.

Penyanderaan tiga nelayan asal Baubau dan Wakotabi dibenarkan oleh Kementerian Luar Negeri.

Dilansir dari pemberitaan Kompas.com pada 22 November 2019, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha membenarkan bahwa 3 WNI disandera kelompok Abu Sayyaf.

Saat ini Judha mengatakan pemerintah Indonesia sedang berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk membebaskan tiga nelayan.

“Pemerintah RI terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia dan Filipina untuk upaya pembebasan para sandera WNI tersebut,” tuturnya.

Wakil Walikota Baubau, La Ode Ahmad Monianse, memperlihat dua orang warganya menjadi korban penculikan kelompok Abu Sayyaf

Sementara itu Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse meminta agar penculikan tiga nelayan dari Baubau dan Wakatobi oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, menjadi perhatian serius pemerintah pusat, khususnya Kementerian Luar Negeri.

Menurutnya diplomasi harus dilakukan pemerintah pusat karena sudah melibatkan tiga negara yakni Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Baca Juga  Sama-Sama Gugur di 16 Besar Liga Champions, Ronaldo dan Madrid Tak Terpisahkan

“Saya kira ini sudah menjadi gawean pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Luar Negeri. Saya mengimbau kepada warga Baubau dan warga Wakatobi, mari kita berdoa untuk keselamatan mereka, tidak mengalami kekerasan dan tetap dilindungi jiwanya,” ucap dia.

April 2019, 1 nelayan Baubau tewas saat disandera 

Keluarga korban sandera abu sayyaf, Hariadin, yang berada di Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sangat berduka setelah mendapatkan kabar, Hariadin, tewas tenggelam saat dibebaskan oleh tentara Filipina, Jumat (5/4/2019) kemarin.

Keluarga korban sandera abu sayyaf , Hariadin, yang berada di Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sangat berduka setelah mendapatkan kabar, Hariadin, tewas tenggelam saat dibebaskan oleh tentara Filipina, Jumat (5/4/2019) kemarin.

Pada Jumat (5/4/2019), Hariadin warga Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara tewas tenggelam saat proses pembebasan sandera oleh tentara Filipina.

Selama 2 bulan Hariadin disandera oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Dilansir dari pemberitaan Kompas.com pada 12 April 2019, hari itu Hariadin dan Heri Ardianyah WNI sandera lainnya berusaha berenang ke Pulau Bangalao untuk menghindari serangan angkatan bersenjata Filipina terhadap penyandera.

Baca Juga  Antisipasi rawan Pilkada, Danrem temui masyarakat Tual dan Malra

Bupati Wakatobi Arhawi yang menyambut kedatangan jenazah Hariadin pada Jumat (12/4/2019) sore mengatakan bahwa Hariadin tewas bukan karena tembakan, melainkan tewas tenggelam saat hendak melarikan diri dengan menyeberang ke pulau lainnya.

“Mereka berenang kurang lebih 20 jam. Karena kondisi fisik tidak kuat selama 20 jam, maka akhirnya korban ini tidak bisa diselematkan,” ujarnya.

“Korban ini tidak diselamatkan di laut, tapi jasadnya bisa diselamatkan oleh patroli laut di sana. Sehingga mereka bisa diangkut dan dibawa jasadnya,” ucap Arhawi.

SUMBER: KOMPAS.com (Ardi Priyatno Utomo, Devina Halim, Defriatno Neke, | KOMPAS.com: Diamanty Meiliana, Robertus Belarminus, David Oliver Purba)