Afrika Berpotensi Jadi Medan Perang AS-China, Kenapa?

oleh -20 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Afrika diperkirakan dapat menjadi medan perang AS-China skala besar, ketika Presiden Xi Jinping mulai memperluas klaimnya di Benua Hitam itu.

Negara komunis diam-diam mengembangkan klaimnya ke bagian timur Afrika ketika mendirikan pangkalan militer dan memperluas pengaruhnya melalui proyek infrastruktur di setidaknya 11 negara.

Para ahli mengatakan kepada The Sun Online bahwa Afrika bisa menjadi teater potensial dari perang darat antara AS dan China, karena kekhawatiran konflik terus membara antara dua kekuatan militer terbesar di dunia.

Kedua belah pihak memiliki pangkalan militer yang hanya berjarak 8 mil di negara strategis utama Djibouti, yang dapat digunakan untuk mengontrol pintu masuk ke Laut Merah dan Terusan Suez, seperti yang dilansir dari The Sun pada Kamis (6/5/2021).

AS memiliki sekitar 29 pangkalan militer di Afrika, serta lebih banyak lagi di Timur Tengah di dekatnya, dan China sebelumnya sesumbar ingin meningkatkan kehadirannya di Benua Hitam untuk memperluas kekuatannya.

Baca Juga  Sekda Maluku Pimpin Apel Siaga Pelatda PON XX Papua Tahun 2021

Jenderal AS Stephen Townsend memperingatkan pada Kamis (6/5/2021) bahwa Beijing sedang mencari untuk membangun pelabuhan angkatan laut besar, yang mampu menampung kapal selam atau kapal induk di pantai barat Afrika

Townsend mengatakan China telah mendekati negara-negara yang membentang dari Mauritania ke selatan Namibia, dengan maksud untuk membangun fasilitas angkatan laut.

Jika terwujud, prospek itu akan memungkinkan China untuk menempatkan kapal perang di angkatan lautnya yang berkembang di Samudra Atlantik serta Pasifik.

Sementara itu, Jenderal Xu Qiliang, komandan angkatan bersenjata China kedua setelah Xi, baru-baru ini mengatakan bahwa perang AS-China “tak terhindarkan”.

Komentar tersebut muncul ketika Beijing menyerukan pengeluaran pertahanan yang lebih tinggi untuk menyamai kekuatan AS.

Baca Juga  Alumni SMK N 1 Sanana Bagi Takjil dan Masker Kepada Warga

Pakar militer Robert Clark, dari Henry Jackson Society, mengatakan kepada The Sun Online, “Pusat gravitasi benua adalah pelabuhan yang menawarkan keuntungan strategis bagi siapa pun yang mengendalikannya, dan rute aksesnya lebih jauh ke benua itu.

Menurut Clark, pantai Atlantik relatif aman karena kehadiran NATO dan AS, tetapi pantai timur Afrika mulai dari Djibouti hingga Mozambik akan sangat diperebutkan dalam konflik kekuasaan wilayah China.

“Sama sekali tidak ada keraguan apa pun bahwa China sedang meningkatkan pengaruh mereka di seluruh Afrika,” ucapnya.

China sudah memiliki pangkalan militer angkatan laut di Djibouti dan telah mengintegrasikan pasukan darat dalam berbagai misi penjaga perdamaian PBB, termasuk di Mali, tempat Angkatan Darat Inggris juga beroperasi.

Baca Juga  Bung Karno, Misteri Kacamata Tembus Pandang dan Bocornya Dokumen Rahasia

Ia juga telah banyak berinvestasi di negara-negara Afrika dengan imbalan akses ke sumber daya, terutama Afrika tengah.

Profesor Gerald Horne, dari University of Houston, mengatakan kepada The Sun Online, “Tentu saja, tanda-tanda konflik yang akan datang antara China dan AS mengkhawatirkan, terutama seperti yang dikemukakan dalam novel baru-baru ini oleh mantan pemimpin NATO, James Stavridis.”

“Karena Djibouti berisi pangkalan China dan AS (serta lainnya), kemungkinan besar itu menjadi medan perang,” ujar Horne.

(red/kompascom)