AJI Makassar Kutuk Kekerasan Polisi Terhadap Jurnalis Saat Liput Unjuk Rasa

oleh -57 views
Link Banner

Porostimur.com | Makassar: Tiga  jurnalis di Makassar direpresi aparat kepolisian, saat meliput unjuk rasa  penolakan pengesahan UU KPK dan Revisi KUHP, di depan gedung DPRD Sulsel, Selasa (24/9/2019).

Tiga jurnalis tersebut adalah  Muhammad Darwin Fathir (ANTARA), Saiful jurnalis (inikata.com), dan  Ishak Pasabuan (Makassar Today).

Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir menilai kekerasan pemukulan dan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian terhadap jurnalis melanggar Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Pasal 8 UU Pers menyatakan dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. UU Pers juga mengatur sanksi bagi mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasal 18 UU Pers menyebutkan,

demo-di-makassar-ricuh-tiga-jurnalis-jadi-korban-kekerasan-aparat
Wartawan Antara, Darwin Fatir mengalami luka akibat tindakan refresif oknum aparat keamanan.

“Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta,” katanya.

Baca Juga  Ini Penjelasan Kabid Binamarga Soal Anggaran Tiga Proyek Jembatan dari DAK 2019 yang Ditutupi

AJI Makassar mendesak kepolisian untuk memproses tindakan kekerasan tersebut. Sikap tegas dari penegak hukum diharapkan agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Tiga korban dipukul aparat kepolisian Saat melakukan tugasmu. Kita tunggu sikap tegas pihak kepolisian, proses hukum harus berjalan dan tidak boleh pandang bulu,” ujarnya.

Saiful jurnalis (inikata.com), mengalami luka akibat tindakan refresif oknum aparat keamanan.

Mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis sebelumnya. Sebab, hingga kini belum ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tuntas sampai pengadilan.

“Mengimbau masyarakat agar tidak melakukan intimidasi, persekusi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang liputan atau karena pemberitaan,” cetusnya.

Diketahui, Darwin dikeroyok polisi di depan kantor DPRD Sulsel.  Dia ditarik, ditendang dan dihantam menggunakan pentungan di tengah-tengah kerumunan polisi.

Baca Juga  Polda Maluku dan Polresta Ambon Salurkan Bantuan Korban Kebakaran Ongko Liong, Batu Merah

Padahal, dalam menjalankan tugas jurnalistiknya Darwin telah dilengkapi dengan atribut dan identitas jurnalis berupa ID Card ANTARA. Darwin menderita luka sobek pada bagian kepala dan bibirnya.

Dari rekaman video membuktikan tindakan kekerasan polisi terhadap Darwin. Sejumlah rekan jurnalis yang saat itu berusaha melerai tindakan kepolisian terhadap Darwin sama sekali tak diindahkan.

Polisi bersenjata lengkap tetap menyeret dan menghajar Darwin. Kondisi mulai meredah saat Darwin dibawa  rekan-rekan jurnalis lainnya menjauh dari lokasi pengoroyokan. Darwin menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Awal Bross, Makassar.

Jurnalis Saiful juga mendapatkan perlakuan serupa. Ia dipukul dengan pentungan dan kepalan dibagian wajahnya oleh polisi.

Kejadian yang sama persis saat dia meliput aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat di Jalan Urip Suomoharjo. Tepat di depan Warkop Fly Over, lokasi dimana penganiayaan terjadi.

Baca Juga  Pembangunan Taman di Kota Jailolo Tertunda Karena Covid-19

Penganiayaan dipicu saat mengetahui Saiful masih mengambil gambar polisi memukul mundur pengunjuk rasa dengan gas air mata dan water cannon.

Saiful telah memperlihatkan identitas lengkapnya sebagai seorang jurnalis yang sementara menjalankan tugas jurnalistik, peliput demonstrasi. Alih-alih memahami, polisi justru dengan beringas menghajar Saiful.

Saiful menderita luka lebam, di mata kiri dan kannanya akibat hantaman benda tumpul kepolisian.

Sementara itu, jurnalis Ishak Pasabuan dilarang mengambil gambar saat polisi terlibat bentrok dengan demonstran.

Ishak dihantam benda tumpul polisi di bagian kepalanya. Bersama Darwin, Ishak tengah menjalani perawatan medis di RS Awal Bross. (red)