Akademisi dan Aktivis Pertanyakan Urgensi Festival Maksaira

oleh -37 views
Link Banner

[carousel_slide id=’11594′]

@porostimur.com | Sanana: Gelaran Festival Maksaira yang tengah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula, mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Hal ini dikarenakan festival tersebut bukan kebutuhan utama masyarakat, melaikan ketertinggalan infrastruktur dan kemiskinan.

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam, Sanana, Syahrul Takim misalnya, kepada porostimur.com, ia mengatakan, pemerintah daerah mesti menggunakan keuangan daerah untuk kepentingan pembangunan yang dibutuhkan langsung oleh masyarakat, bukan berdasarkan keinginan semata, apalagi program tersebut hanya terkesan serimonial dan tidak memiliki dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat atau setidaknya menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.

“Festival maksaira menurut hemat saya tidak menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat”, ucapnya.

Menurut Mantan Ketua HMI Cabang Sanana ini, hal yang rakyat butuhkan saat ini adalah infrastruktur jalan dan jembatan salah satunya adalah penggusuran Lida Mantua yang progresnya tidak terlihat sama sekali, selain itu pembangunan jaringan telekomunikasi dan stabilitas harga kopra.

Baca Juga  Satpol PP Copot Baliho Covid-19 Milik Wawali Bitung

“Seharusnya perencanaan penganggaran harus menjawab keadaan ini bukan justeru sibuk dengan kegiatan serimonial yang ujung-ujungnya tidak ada progres dalam pencapaian visi pemerintah daerah di bawah kepemimpinan HT-ZADI”, tukasnya.

Lebih jauh, Syahrul meminta bupati dan seluruh perangkat daerah mengarahkan perencanaan dan realisasi pembangunan untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan.

Senada dengan Syahrul Takim, Ketua Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Sulabesi Barat (Hipma Sulbar), Irwan Fikatea mengatakan, pemerintah lebih sering membuat program yang sifatnya hura-hura dan pencitraan disbanding memikirkan nasib rakyat secara sungguh-sungguh. Salah satu buktinya adalah festival Maksaira.

“Jadi festival ini lebih penting daripada nasib rakyat. Buktinya ini sudah yang ketiga. Sementara penggusuran gunung Lida Mantua belum pernah sama sekali. Padahal jalan tersebut sudah berulangkali memakan korban jiwa”, tukasnya.

Baca Juga  4 Pebalap Pesaing Berat Marquez pada MotoGP 2021

Untuk diketahui, guna penyelenggaraan Festival Maksaira tahun 2019, pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula menganggarkan dana sebesar Rp. 729 juta.

Dari data yang dihimpun media ini, korban meninggal di jalan Lida Mantua sejauh ini, tercatat sebanyak 4 orang meninggal dunia, 23 orang luka berat dan puluhan lainnya mengalami luka maupun cidera ringan.

“Kami orang Sulabesi Barat sebenarnya sangat tersinggung dengan hal itu. Karena, festival Maksaira jauh lebih penting dimata pemerintah dibanding nasib orang Sulabesi Barat”, ujar Irwan

Irwan mengatakan, sebenarnya Pemerintah Daerah Kepulauan Sula tidak menghargai masyarakat Sulabesi Barat. Kalau memang Pemda Kepsul hargai masyarakat, tidak mungkin seperti itu.

“Festival ini dilakukan demi keuntungannya siapa, jangan-jangan hanya kepentingan segelintir orang saja,” pungkas Fokatea. (raka)