Akibat Pandemi Corona, Nelayan Tuna di Pulau Buru Kolaps

oleh -142 views
Link Banner

Porostimur.com | Namlea: Akibat dampak pandemi Covid-19 yang mengharuskan pengambilan berbagai kebijakan serta upaya pembatasan wilayah dan negara oleh pemerintah menyebabkan terkendalnya berbagai aktifitas berskala lokal maupun internasional. 

Di Indonesia bagian timur seperti Maluku.  Selain berdampak pada ekonomi masyarakat lokal yang bekerja di sektor darat,  dampak pandemi ini juga berdampak besar pada pelaku sektor perikanan.  Khususnya para nelayan tuna asal pulau Buru, Maluku, yang baru saja memperoleh sertifikasi MSC internasional.

Ratusan nelayan tuna asal Pulau Buru yang bergantung pada penjualan ikan ke kancah Internasional seperti Amerika terpaksa harus mengalami colaps akibat terkendalanya pengiriman ikan ke Amerika.  Dari banyaknya perusahaan ikan di Maluku,  hanya empat perusahaan saja yang masih bertahan dan menerima suplay ikan dari nelayan tuna.

Erwin, seorang layan tuna menjelaskan. Alasan keempat perusahaan ini bisa bertahan karena masih memiliki ketersediaan tempat penampungan ikan sebagai stok sambil menunggu kelancaran pengiriman ke luar negeri. 

“Setidaknya masih ada empat perusahaan yang masih beroperasi di Maluku.  Salah satunya disini.  Jadi masih bisa menerima ikan kita,  tapi bukan tanpa masalah,  kita juga punya masalah meski masih ada perusahaan yang terima ikan kami”, kata Erwin, Jumat (5/6/2020).

Baca Juga  PPFI Imbau Masyarakat Film Berpartisipasi Tekan Angka Covid-19

Dirinya menambahkan, dengan berbagai alasan yang masuk akal,  perusahaan hanya mampu membeli tuna setengah dari harga seharusnya.  Penurunan harga beli sebesar 50 % ini sangat berpengaruh pada hasil pendapatan nelayan tuna. 

“Ikan kami hanya dihargai setengah dari harga seharusnya,  ini karena ikan belum langsung diekspor.  Tapi masih harus menunggu proses pengiriman”, ungkapnya

Ia juga menjelaskan. Harga BBM yang menjadi jantung bagi para nelayan tuna untuk melaut semakin hari semakin melambung tinggi sehingga memberikan ketidak seimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. 

“Kita bisa mengimbangi harga beli kalau harga BBM juga bisa turun tapi sekarang ini.  Bukannya turun, harga BBM kadang naik.  Malah lebih sering stok terbatas. Jika kita paksakan untuk memancing tuna.  Akan sangat beresiko.  Dimana?  Yang di harga tadi.  Bensin tinggi.  Tapi dijualnya murah”, imbuhnya.

Baca Juga  Kakanwil Kemenag Maluku: Penting Bangun Inovasi Pembinaan Internalisasi Nilai Pancasila Pada Siswa Madrasah

Tidak ingin mengambil resiko, ratusan nelayan tuna bahkan kini beralih menjalani profesi di sektor darat demi menyambung hidup.  Sedangkan beberapa nelayan  yang masih bertahan di sektor perikanan  hanya bisa mencari ikan kecil untuk dijual ke masyarakat.

” Sebagian besar dari kami ada yang bertani kalau punya kebun.  Dan beberapa alternatif pekerjaan lain yang penting bisa membantu kebutuhan sehari-hari.  Tapi ada beberapa teman termasuk saya, masih memilih jadi nelayan.  Cuman jadi nelayan ikan kecil seperti ikan batu-batu.  Dapatnya hanya cukup untuk hari ini”, keluh Irwan

Sebuah organisasi bernama MDPI yang bergerak membina nelayan untuk keberlanjutan aktivitas perikanan juga bekerja keras mencari solusi membantu nelayan tuna. 

Melalui perwakilannya  di Pulau Buru, MDPI bahkan telah menyampaikan kondisi ini ke pihak pemerintah setempat namun  belum mendapatkan solusi. Hal ini disampaikan Onya D. Sriyanti Ely selaku Fairtrade supervisor MDPI kepada wartawan, Jumat (5/6/2020).

“Kami pihak MDPI yang bertugas mengawasi dan melakukan pembinaan kaitannya dengan perikanan sudah mencoba memediasi kondisi ini kepada pihak pemerintah.  Dari hasil pembicaraan yang kami sampaikan memang ada sedikit kemungkinan yang akan dijadikan solusi dari pihak pemerintah.  Namun sampai sekarang memang belum ada realisasi nya.  Kita masih terus menunggu dan menindak lanjuti pernyataan dari mereka. Semoga yang di katakan bisa secepatnya mendapat solusi”, kata Onya Ely.

Baca Juga  Strategi Bima Sakti Bangun Kekompakan Antarpemain Timnas U-16

Untuk menjaga keberlanjutan nelayan tuna di Pulau Buru, MDPI  berupaya mensiasati hasil tangkapan nelayan menjadi sejumlah produk siap konsumsi seperti ikan kering dan abon untuk di perjual belikan ke masyarakat dalam bentuk kemasan. 

” Sambil menunggu solusi yang akan diberikan pemerintah.  Kami berupaya menginisiasi kelompok bagi para istri nelayan untuk bisa membuat olahan dari hasil tangkapan ikan yang akan di buat dalam bentuk kemasan seperti ikan asin dan abon. Tujuannya untuk sedikit membantu nelayan selama musim pandemi covid-19 berlangsung”, pungkas Onya. (ima)