Aktivis Perempuan Halsel Gelar Aksi Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

oleh -38 views
Link Banner

Porostimur.com | Labuha: Sejumlah aktivis perempuan dari berbagai Organisasi Kemahasiswaan di Halsel galar aksi dengan mengtasnakan Front Gerakan Perempuan Pemerhati Sosial (FGPPS) Halmahera Selatan bertempat di pusat kota depan Tugu Ikan Desa Tomori, Selasa, (10/12/19).

Aksi tersebut, Front Gerakan Perempuan Pemerhati Sosial (FGPPS) Halsel yang terhimpun dari API KARTINI, IMM, GMKI, PMII, GMNI, dan LMND memperingati “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan”, dengan menggunakan satu unit sound System aktif dan umbul-umbul berupa spanduk

Dalam orasi masa aksi dengan tegas mengakatan bahwa, Perempuan berderajat lebih renda dari laki-laki, inilah anggapan umum sekarang ini tentang kedudukan perempauan dalam masyarakat.

“Anggapan ini tercermin dari prasangka-prasangka umum, “seperti istri harus melayani suami, seorang istri turut ke Surga atau Neraka bersama suaminya, seorang istri tidak boleh keluar rumah dll. Prasangka-prasangka ini yang mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan Agama dan Adat. “teriak Ila deligasi IMM

Link Banner

Lanjutnya, Atas dasar inilah perempuan selalu memdapat perlakuan yang tidak baik dalam masyarakat, baik dalam bidang Ekonomi, Politik, Sosial, dan Budaya itu sendiri. “pungkasnya

Baca Juga  Kapolda Malut Kaget Ada Demonstrasi di Mapolres Halsel

Sementara itu, Kordinator Lapangan (Korlap) Reni Hamit dalam orasinya menyampaikan, Meskipun faktor kekerasan terhadap perempuan sering di kaitkan dengan hubungan yang tidak Harminis, kecemburuan dan perselingkuhan tetapi karnya tidak terlepas dari dua hal mendasar yakni, faktor ekonomi dan relasi yang bersifat pariarki.”tegas Reni

Reni yang juga ketua Api Kertini Halsel itu menjelaskan dalam orasinya, “Seiring dengan situasi ekonomi yang memburuk, kekerasan perempuan tidak meredah seperti di tahun 2016.

“seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa, pada tahun 2016 yang di catat Komnas Perempuan (KP), jumlah kasus kekerasan perempuan mencapai 259.160 kasus, Dari jumlah tersebut, sebanyak 75% kasus kekerasan perempuan yang terjadi dalam ranah rumah tangga dan ranah personal. Dari jumlah itu, kekerasan terhadap istri mencapai 58 persen, disusul kekerasan dalam pacaran mencapai 21 persen, dan kekerasan terhadap anak perempuan mencapai 18 persen,”jelasnya

Baca Juga  Jujaro Namlea Kenalkan Hotong Lewat Budaya Tarian Boki Feten

Selain itu Beatrich Nara dalam orasinya menambahkan, Situasi ekonomi yang sulit seperti kemiskinan, kenaikan harga kebutuhan dasar dan relasi keluarga yang bersifat patriarkal samgat berjasah dalam memicu kekerasan dalam Rumah Tangga,”cetus Beatrich

Sekertaris GMKI Halsel ini juga menambahkan, Hal ini dikarenakan posisi laki-laki sebagai pemegang kuasa, sementara perempuan diharuskan patuh dan melayani tanpa banyak protes.

“sebab, seringkali kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena perempuan (Istri/anak perempuan) di anggap menentang kausa laki-laki padahal, perempuan membutuhkan kebebasan dalam berpendapat, “tutupnya

Diangkhir orasi masa aksi dengan menyampaikan kami atas nama “Front Gerakan Perempuan Pemerhati Sosial Halmahera Selatan hadir dengan membawa beberapa sikap yakni, 1.Negara harus hadir dalam memberikan perlindungan terhadap Perempuan dan Anak. 2.Stop kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. (adhy)