Oleh: Yusuf Blegur, Kolumnis
Haruskah mengukur keberhasilan dan kemajuan Indonesia pada kepemilikan atas harta, jabatan dan kekuasaan yang melekat hanya pada diri, kekuarga dan golongan kita sendiri?
Aku bertanya pada Ayahku, Ayah kenapa aku dilahirkan sebagai orang Jawa. Kenapa yang lainnya lahir sebagai orang Batak, orang Sunda, orang Bugis, orang Dayak, orang Timor, orang Papua dan sebagainya.
Kemudian aku bertanya lagi pada Ayahku, Ayah kenapa aku dilahirkan sebagai orang Islam. Kenapa yang lainnya lahir beragama Kristen, sebagai orang Hindu, sebagai orang Budha, sebagai orang Kepercayaan, sebagai orang Atheis dan lainnya.
Lalu aku aku bertanya lagi pada Ayahku, Ayah kenapa aku dilahirkan dari orang tua yang biasa saja. Kenapa yang lain lahir dari orang tuanya yang raja, lahir dari orang tuanya yang ningrat dan bangsawan, lahir dari orang tuanya yang pemimpin dan tokoh-tokoh yang hebat, lahir dari orang tuanya yang terkenal dan banyak jasanya dan masih banyak lagi dari keturunan orang-orang yang luar biasa dan menakjubkan.
Aku juga bertanya pada Ayahku dan ini yang paling penting kurasakan. Ayah, kenapa aku dilahirkan dari orang tua yang miskin dan terpinggirkan, kenapa yang lainya lahir dari orang tua yang kaya dan terpandang. Kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang susah dan serba kekurangan, kenapa yang lainnya hidup mewah dan berlebihan. Kenapa banyak yang hidup tertindas dan menderita. Sementara yang lainnya hidup dengan fasilitas dan perlindungan istimewa yang melampaui batas, dengan kenikmatan bak surga dunia.









