Antam Ikut Bangun Pabrik Baterai, ini Cadangan Nikelnya di Malut

oleh -16 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Pemerintah semakin serius mengembangkan hilirisasi nikel hingga ke pembangunan pabrik baterai dan mobil listrik. Sejumlah produsen baterai kendaraan listrik kelas dunia diajak menjadi investor untuk membangun pabriknya di Tanah Air, salah satunya LG Group, perusahaan asal Korea Selatan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pembangunan pabrik baterai listrik senilai US$ 9,8 miliar (atau sekitar Rp 142 triliun) oleh calon investor LG Energy Solution dengan konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) MIND ID ini akan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dia mengatakan, pembangunan pabrik baterai akan dilakukan di dua kawasan yang berbeda yakni Maluku Utara untuk sektor hulu dan Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah untuk pabrik sel baterai.

“Lokasi pabrik tersebut dibagi jadi 2, untuk hulu membangun smelter dan tambang di Maluku Utara. Kemudian katoda, prekursor, dan sebagian baterai cell berdasarkan hasil survei, itu akan dilakukan di Batang (Jawa Tengah),” jelasnya dalam konferensi pers virtual beberapa waktu lalu yang dikutip, Rabu (27/1/2021).

Konsorsium LG Energy Solution akan bekerja sama dengan konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum (MIND ID) dan PT Aneka Tambang Tbk, bersama dengan PT Pertamina (Persero), dan PT Perusahaan Listrik Negara (PErsero) atau PLN.

Dari sisi hulu, tentunya konsorsium ini akan mengandalkan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan nikel. Antam pun memiliki wilayah tambang nikel di Halmahera Timur, serta memiliki afiliasi perusahaan lainnya di mana perseroan memiliki sejumlah kepemilikan saham di tambang nikel di Maluku Utara.

Baca Juga  RR resmi mundur dari Wakil Ketua DDPRD Maluku

Mengutip Laporan Keuangan PT Aneka Tambang Tbk 2019, Antam memiliki wilayah izin usaha pertambangan di empat prospek di Halmahera Timur, Maluku Utara, antara lain di Pulau Pakai, Tanjung Buli, Mornopo, dan Sangaji.

Tak hanya itu, Antam juga memiliki saham di area tambang yang dikelola afiliasinya di Halmahera Timur, Maluku Utara, yakni PT Weda Bay Nickel.

Antam memiliki saham 10% di wilayah tambang ini. PT Weda Bay Nickel (WBN) dibentuk pada 1998 berdasarkan hukum Republik Indonesia untuk melaksanakan Kontrak Karya (KK) generasi ke-7 dengan Pemerintah Indonesia.

Antam mendapatkan free carried di usaha ventura bersama dengan Eramet S.A. (ESA) untuk mendirikan tambang nikel dan kobalt serta pabrik pengolahan nikel berteknologi hidrometalurgi di Teluk Weda di wilayah yang terletak di antara Kabupaten Halmahera Tengah dan Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

Proyek nikel ini akan dikelola oleh PT Weda Bay Nickel (PT WBN) yang struktur kepemilikan sahamnya terdiri dari 10% ANTAM dan 90% Strand Minerals Pte. Ltd. (SM). Antam memiliki opsi untuk meningkatkan porsi saham PT WBN miliknya menjadi 25%. Komposisi kepemilikan saham SM saat ini ialah 57% Tsingshan group dan 43% dimiliki oleh ESA.

Baca Juga  Senyuman Kak Rizqy Yang Membuatku Senyum Senyum Sendiri

PT Aneka Tambang Tbk akan diandalkan dari sisi hulu pembangunan pabrik baterai ini. Tak hanya karena ahli di sektor pertambangan, namun Antam juga telah memiliki sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel.

Bila ditambah lagi dengan rencana pembangunan baterai mobil listrik ini tentunya dibutuhkan cadangan nikel yang besar.

Berapa besar potensi dan cadangan nikel Antam saat ini?

Berdasarkan laporan keuangan Antam 2019, sumber daya bijih nikel Antam hingga 2019, termasuk di PT Gag Nikel, mencapai 1,36 miliar wet metric tonnes (wmt) yang terdiri dari 844,30 juta wmt bijih nikel saprolit (bijih nikel kadar tinggi) dan 517,44 juta wmt bijih nikel limonit (bijih nikel kadar rendah).

Total sumber daya mineral nikel Antam pada 2019 tersebut tumbuh 2% dibandingkan 2018 yang sebesar 1,33 miliar twmt.

Adapun untuk total cadangan nikel, termasuk PT Gag Nikel, hingga akhir 2019 mencapai 353,74 juta wmt, terdiri dari 254,12 juta wmt bijih nikel saprolit dan 99,62 juta wmt bijih nikel limonit.

Adapun bijih nikel yang bisa digunakan untuk diproses menjadi bahan baku komponen baterai yaitu nikel kadar rendah (bijih nikel limonit).

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan Maluku Utara kemungkinan besar akan menjadi lokasi pembangunan smelter nikel untuk memasok bahan baku ke pabrik sel baterai lithium nantinya.

Baca Juga  Bupati Morotai Buka Kegiatan Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon BPD Tahun 2019

Berapa besar cadangan nikel Antam di Maluku Utara?

Berdasarkan Laporan Keuangan Antam 2019, sumber daya terukur bijih nikel kadar rendah (limonit) Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara mencapai 52,56 juta wmt, terdiri dari di Pulau Pakai 17,58 juta wmt, Tanjung Buli 5,60 juta wmt, Mornopo 16,23 juta wmt, dan Sangaji 13,15 juta wmt.

Untuk sumber daya terindikasi di Halmahera Timur mencapai 37,5 juta wmt.

Sementara untuk cadangan terbukti limonit di Halmahera Timur mencapai 13,02 juta ton, cadangan terkira (probable reserves) 4,41 juta wmt.

Untuk bijih nikel kadar tinggi (saprolit) di Halmahera Timur, jumlah cadangan terbukti mencapai 74,79 juta wmt, cadangan terkira 104,4 juta wmt.

Sedangkan untuk proyek nikel Weda Bay Nickel (WBN), Antam memiliki kepemilikan saham 10% di proyek ini. Proyek nikel PT WBN akan dikembangkan dengan teknologi berbasis proses pirometalurgi untuk memproduksi produk nickel ferroalloy dengan membangun pabrik pengolahan berkapasitas 30.000 TNi per-tahun serta pengolahan nikel secara hidrometalurgi.

Pada 2018, PT WBN telah memulai kegiatan konstruksi pabrik pengolahan, diawali dengan aktivitas pemancangan tiang pertama pabrik di site Tanjung Ulie pada tanggal 30 Agustus 2018.

(red/cnbc)