Antam Lanjutkan Rencana Hilirisasi Usai Ganti Dirut

oleh -61 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengangkat tiga direksi baru dan satu komisaris utuk mempercepat transformasi bisnis perseroan tahun depan.

Perseroan tetap melanjutkan negosiasi dengan sejumlah mitra strategis terkait pengembangan bisnis hilirisasi.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Antam sepakat memberhentikan dengan hormat Arie Prabowo Ariotedjo sebagai direktur utama, Dimas Wikan Pramudhito sebagai direktur keuangan dan Sutrsino S. Tatetdagat sebagai direktur pengembangan usaha.

Selain itu, pemegang saham juga mengukuhkan pemberhentian Komisaris Utama Antam Fachrul Razi yang kini menjabat sebagai Menteri Agama.

Dengan demikian, pemegang saham menyetujui pengangkatan Agus Surya Bakti sebagai komisaris utama, Dana Amin sebagai direktur utama, Anton Herdianto sebagai direktur keuangan, dan Risono sebagai direktur pengembangan usaha.

Direktur Niaga Antam Aprilandi Hidayat Setia mengatakan, tahun 2020 akan menjadi tahun yang menantang bagi perseroan, lantaran pemerintah sudah menetapkan larangan bagi perusahaan tambang untuk melakukan ekspor biji nikel.

Baca Juga  Provinsi Maluku Mengembangkan Cadangan Pangan Daerah

Karena itu, perseroan akan fokus terhadap pengembangan bisnis hilirisasi, termasuk peluang kerja sama dengan mitra strategis, seperti Shandong Xinhai Technology Co Ltd.

“Kami evaluasi rencana itu. Tiga direktur baru bukan orang baru di industri ini, dua orang (Dana Amin dan Anton) sempat di Inalum, satu orang (Risono) berasal dari internal Antam. Ke depan, rencana-rencana bisnis hilirisasi tetap kami lanjutkan,” jelas dia, usai RUPSLB di Jakarta, Kamis (19/12).

Sebagai informasi, Dana Amin sebelumnya sempat berkarier sebagai direktur operasional PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) pada periode 2012-2014. 

Di periode kepemimpinan Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN, Dana Amin sebagai ditunjuk sebagai direktur project management office (PMO) Holding BUMN Maritim yang saat itu masih direncanakan.

Tahun depan, kata Apriliandi, produksi baukesit dan nikel perseroan akan disalurkan sepenuhnya untuk pabrik-pabrik smelter perseroan di Tayan, Kalimantan Barat, Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Halmahera Timur, Maluku Utara.

Baca Juga  Chaidir Djafar Anggota DPD Dapil Maluku Utara Meninggal Dunia

“Karena sudah tidak bisa ekspor, jadi jelas produksi nikel akan disalurkan untuk pabrik Antam sendiri pada tahun depan. Sementara untuk tahun ini saja, ekspor biji nikel diproyeksikan bisa 5 juta ton,” kata dia.

Seperti diketahui, manajemen Antam sebelumnya mengungkapkan, perseroan mengkaji pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan salah satu produsen nikel terbesar asal Tiongkok, Shandong Xinhai.

Perseroan berharap mampu menguasai saham mayoritas atau 51% pada JV tersebut. JV ini nantinya akan membangun smelter feronikel yang diperkirakan menelan investasi hingga US$ 1,2 miliar.

Nilai tersebut sudah termasuk infrastruktur pabrik seperti pembangkit listrik. Pabrik tersebut diproyeksikan akan memproduksi sebanyak 400 ribu ton feronikel dengan kandungan nikel sebanyak 10%-12%, dan stainless steel sebanyak 600 ribu ton.

Antam belum menentukan lokasi pasti pabrik. Namun, Raja Ampat atau Sorong dipertimbangkan sebagai wilayah yang prospektif.

Tahun depan, Antam juga berencana memasuki fase commissioning konstruksi pabrik feronikel Halmahera Timur yang bakal berkapasitas 13.500 ton nilel dalam feronikel (Tni).

Baca Juga  Nono Sampono Dorong Percepatan Pembangunan Pelabuhan Terintegrasi di Maluku

Hingga September 2019, realisasi konstruksi proyek tersebut telah mencapai 98%. Tak ketinggalan, Antam juga melanjutkan ekspansi proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang bekerja sama dengan PT Inalum (Persero) dengan kapasitas 1 juta ton pada tahap pertama.

Proyek tersebut diproyeksikan menelan investasi hingga US$ 850 juta.

Prospek Saham Analis Bina Artha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menjelaskan, dari perspektif teknikal, meskipun pergerakan harga saham emiten berkoden ANTM ini tengah mengalami koreksi wajar, namun pola up channel masih terlihat dengan jelas. Adapun, indikator RSI mendekati area oversold.

“Kami merekomendasi akumulasi beli (buy) dengan estimasi target harga jangka panjang pada level Rp 1.230,” jelas dia.

Kinerja komoditas emas masih menjadi tulang punggung penjualan secara keseluruhan bagi Antam. Hingga Oktober 2019, perseroan mencatatkan pertumbuhan signifikan penjualan emas sebesar 30,62 juta ton atau 96% dari target tahunan perseroan. (red/rtl)