Apakabar Kamu yang Aku Sayang & Dia yang Aku Cinta!

oleh -20 views
Link Banner

Cerpen Karya: Renny Lenggu Margareth

Percintaan memang selalu akan terasa indah, baik dijalani ataupun untuk dikenang. Ada satu kalimat yang terus tergiang di dalam pikiranku, kadang aku berpikir bahwa itu benar adanya. Bahwa ketika seseorang telah mengisi inti hati kita, seseorang yang lain hanya sebuah kemungkinan yang disengajakan. Kini, sudah 10 tahun berlalu, entah apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan, tapi kenyataan bahwa aku mencintai dia dan aku merindukan dia. Dan dia adalah Arka, iya namanya Arka. Pria yang dilahirkan pada 19 September 1990.

Meski sudah berlalu hingga 10 tahun sejak aku tahu tentang biodata dirinya, tepatnya pada tahun 2007. Namun, terasa baru kemarin. Iya benar sekali bertemu dengannya pada tahun 2007 hingga kini 2017. Tetapi, semua itu masih teringat dengan jelas, siapa namanya, nama ayahnya, tempat dan tanggal dia lahir, warna kesukaannya, alamat rumahnya, hingga setiap hal tentang dia masih terus terbayang dan tersimpan dengan jelas.

Aku Renita, wanita yang kini menjadi jurnalis dan masih sendiri. Selama aku hidup, aku hanya punya dua pria yang selalu menganggu pikiranku. Dua nama yang terlukis dan terpahat dengan jelas di dinding hatiku. Dua orang dan dua pribadi yang berbeda, tapi dikenalkan pada tempat dan masa yang sama.

Masa SMA ku penuh dengan cerita tentang mereka berdua. Yang satu kusayangi dan satunya kucintai. Yang satu kumiliki dan satunya tidak pernah kumiliki, aku hanya bisa memiliki senyum dan potretnya saat bersamaku dulu.

Ini aneh tapi nyata, ini kisahku, yang mungkin orang-orang tidak akan pernah menyangka mengapa ini bisa terjadi, tapi aku akan memulainya. Dan kalian akan tahu segalanya, tentang aku dan mereka. Cerita ini juga memang tak pernah kusembunyikan dari siapapun, karena masa itu aku punya banyak saksi yang masih bisa menceritakan tentang kebenaran kisahku. Iya mereka ialah teman dan sahabatku.

Kini aku akan memulainya, waktu itu tahun 2007 ketika aku naik ke kelas II SMA, di dalam raporku tertulis dua jurusan yakni jurusan IPA dan Bahasa, karena aku selalu masuk 10 besar selama duduk di bangku kelas I. Aku memulainya dengan memilih kelas IPA, waktu itu aku masuk IPA 1 dan sahabatku Dian masuk IPA 2, kami berpisah tapi kami masih tetap kelas IPA, hampir seminggu kami mengikuti kelas kami masing-masing. Namun, seiring berjalan waktu aku memutuskan untuk pindah, dan aku masih punya satu pilihan yakni jurusan Bahasa, tetapi sahabatku Dian tidak masuk dalam kelas Bahasa, dia masuk ke dalam kelas IPS. Aku tidak ingin dipisahkan lagi dengan sahabtaku, dan karena rasa kesetiakawananku aku memutuskan untuk mengikuti sahabatku ke kelas IPS, hal itu karena kita sama-sama memiliki teman yang cukup dekat berada di kelas IPS 1, kami berdua akhirnya memutuskan untuk masuk ke kelas IPS 1 dan meninggalkan kelas IPA yang telah kami pilih sewaktu kami kelas I dulu.

Tanpa kusadari dari sini, di kelas inilah semua itu dimulai. Di kelas IPS 1 bukan hanya ada teman kami berdua, Lintang namanya, tapi juga ada mereka, dua pria itu, Arka dan Hugo. Iya mereka berdua sekelas dan aku mengenal mereka dari kelas itu.

Baca Juga  Media Singapura Sebut Uji Coba Vaksin Corona di Indonesia Sangat Berisiko

Ketika pertama kali aku masuk kelas itu, aku langsung terpana pada Arka, dia adalah pria idamanku, yang mungkin kebanyakan wanita selalu jatuh pada laki-laki seperti dia. Omong kosong jika aku bilang hanya aku yang tertarik pada laki-laki seperti dia, selain tampan, baik hati, bersih, rapi, pandai dan pendiam. Laki-laki yang memang selalu mengundang rasa penasaran kepada setiap wanita. Jujur, aku langsung jatuh cinta saat pandangan pertama dan dia berhasil menjadi cinta pertamaku.

Namun, takdir berkata lain, seperti sebelumnya aku dan temanku Dian yang hampir seminggu mengikuti kelas IPS 1 bersama mereka, terpaksa dipindahkan ke kelas IPS 4, kami terdampar di sana. Tapi aku sudah terlanjur menyukainya.

Hari-hariku menjadi sangat indah, dan semakin menyenangkan karena aku menyukainya. Setiap hari, aku selalu berusaha melihatnya, mencari tahu tentang dia, lewat temanku Lintang Hampir setiap hari, aku sengaja melewati koridor kelas IPS 1 hanya untuk melihat dia. Bahkan rasanya hari minggu pun aku ingin ke sekolah, aku tidak ingin ada libur seharipun, karena sehari tidak melihat wajahnya, aku benar-benar hampa dan gelisah.

Dan lagi-lagi takdir kembali mempertemukan kami. Kelas IPS 1 mendapat jadwal pelajaran olahraga bersama dengan kelas IPS 4. Hal itu membuatku selalu menyukai pelajaran olahraga, meskipun gurunya sedikit menyebalkan tapi yang terpenting ialah bisa bersama, bisa melihat wajahnya. Bahkan aku pernah berulang kali berpura-pura terlambat masuk sekolah, hanya karena aku ingin bisa bersama dengannya, karena dia selalu terlambat ke sekolah, lucu ketika aku mengingatnya kembali. Namun, pengorbananku tidak sampai disitu saja, aku juga mencari tahu di mana dia tinggal, dan hal itu aku lakukan ketika pulang sekolah, aku memboyong teman-teman sekelasku dan tiga orang sahabatku Dian, Aurelia, dan (alm) Febby pergi mencari tahu di mana letak rumahnya dan kami berhasil menemukan rumahnya, tempat dia tinggal. Satu hal lagi keberanianku juga membuahkan hasil, dia yang dulunya tidak pernah mengenal Renita, akhirnya menjadi kenal siapa aku. Dan hal itu membuat sangat bahagia, apalagi ketika dia memanggilku dengan sebutan Rere, panggilan yang tak pernah disebutkan orang lain selain dia.

Tingkah berani ini terus berlangsung hingga kami naik kelas III SMA. 2009 tepatnya, namun di sini aku harus membagi rasa dengan Hugo, teman sekelasnya Arka. Hal itu berawal ketika kami, aku dan ketiga orang sahabatku menjadikan Hugo bahan taruhan. Karena Hugo merupakan pria yang terkenal di sekolah kami, dia memang tidak setampan Arka, tapi dia sangat berkharisma. Dia juga tak sependiam Arka. Dia 180 derajat jauh berbeda dari sosok Arka.

Hugo, selain terkenal di sekolah karena tingkahnya yang nakal, suka merok*k, mabuk, ugal-ugalan, suka bolos sekolah dan lompat pagar, sering mendapat sanksi di sekolah oleh para guru. Dia juga terkenal dengan pria yang suka selingkuh. Dan aku terjerat padanya karena ulahku sendiri, dari situ aku belajar untuk tidak lagi bermain api.

Baca Juga  Pollycarpus Eks Napi Pembunuh Munir Meninggal

Masa remaja memang masa yang paling indah, karena semua hal yang kita alami, termasuk cinta. Kami berempat, aku Dian, Aurelia dan alm (Febby) menjadikan Hugo bahan taruhan. Jika aku bisa memacarinya aku akan diperlakukan istimewa oleh ketiga sahabatku. Dan hal itu tercapai, aku berhasil memacari Hugo ketika aku duduk di kelas III dan siap untuk mengikuti ujian akhir. Aku masih ingat dengan jelas tanggal kami jadian 31 Maret 2009.

Namun Hugo ternyata memang punya kharisma, dibalik sifatnya yang nakal dan terkesan sembrono, dia penuh kehangatan pada siapa saja, tak heran banyak wanita jatuh ke dalam pelukannya dengan sangat mudah. Kami menjalani hubungan selama dua minggu, lalu dia memutuskan aku. Iya, dia pria pertama yang memutuskan aku. Aku benar-benar tidak terima keputusannya, karena prinsipku harus aku yang lebih dulu memutuskan pria, apalagi dia hanyalah pria taruhan.

Aku memutuskan kembali padanya, masih dengan tujuan yang jahat, kita kembali agar aku bisa lebih dulu memutuskan dia. Dan aku berhasil lagi, tapi tanpa kusadari telah jatuh dalam permainan hati. Kami akhirnya lulus.

Aku, Dian dan Aurel lulus, hanya (alm) Febby yang tidak lulus, Arka dan Hugo pun lulus. Ketika lulus aku memutuskan untuk memberi hadiah sebagai kenang-kenangan kepada Arka karena aku takut aku tak’akan lagi bisa bertemu dengannya. Aku memberinya sesuatu yang juga sesuai dengan warna kesukaannya, warna ungu, kita berpose bersama, dan fotonya masih tersimpan sampai sekarang. Kami akhirnya melanjutkan studi kami, namun sayang aku harus berpisah dengan ketiga orang sahabatku, karena diantara kami berempat hanya aku yang memutuskan untuk kuliah, sedangkan yang lainnya memutuskan untuk rehat sementara selepas itu baru melanjutkan studi, demikian pun dengan Arka.

Aku kuliah pada Universitas Negeri di daerahku. Lagi-lagi takdir tergaris lain. Tempatku kuliah sama dengan Hugo, kami hanya berbeda Fakultas dan Jurusan, uniknya kampusnya dan kampusku bersebelahan, bagaimana tidak melanjutkan hubungan kami, jika terus saja bertemu dalam beberapa kesempatan.

Meski aku masih terus mencari tahu tentang kabar Arka, tapi aku akhirnya kembali ke pelukan Hugo. Hubungan kami tidak seindah Rama dan Shinta, Romeo and Juliet, atau juga Habibie & Ainun, hubungan kami penuh pertengaran karena hal yang sama. Yaitu dia Hugoku selalu selingkuh dan tak pernah memberiku kabar. Tapi tanpa terasa hubungan kami berjalan hingga 4 tahun, aku sampai lupa berapa kali kami putus lalu sambung lagi, bahkan hingga aku wisuda, dan disitu juga puncaknya.

Kita sedikit flashback. Sebelumnya di tahun 2011 Arka ternyata kuliah di Universitas yang sama, namun dia mengambil jurusan Extention atau kuliah sore, berbeda denganku yang kuliah pagi atau regular. Fakultas dan jurusannya pun berbeda dan jauh dari fakultasku. Tapi dia seangkatan dan berdekatan dengan sahabatku (alm) Febby. Karena itulah kami masih sempat bertemu, Febby memang sengaja ingin kami bertemu, bahkan dia berjanji akan mempersatukan aku dan Arka. Tapi Tuhan dan takdirnya berkehendak lain, dia harus meninggal di usia yang masih muda dan waktu itu dia baru saja duduk di semester 2. Nasib malangnya, juga memangkas takdirku untuk jadian dengan Arka. Aku dan Arka bertemu ketika kami sama-sama di pemakaman sahabatku Febby, selepas itu hingga aku wisuda aku tak pernah lagi bertemu dengannya.

Baca Juga  Polisi Bubarkan Paksa Massa Tolak TKA di Sultra, 1 Orang Luka di Kepala

Aku akhirnya lulus di tahun 2013, aku memutuskan untuk bekerja di stasiun TV di daerahku. Aku juga memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Hugo, karena aku sudah tak tahan menjalin hubungan dengan pria yang hanya memberiku airmata. Aku yakin Hugo juga menyayangiku, sebagai bukti dia benar-benar menjagaku selama 4 tahun berlalu, dia menginginkan wanitanya selalu terlihat baik bukan hanya di depannya tapi di depan semua orang, baik dari cara berbicara, cara berpakaian, dan dia ingin aku seperti itu. Dia pun menangis ketika aku akhirnya memilih untuk melepaskan semua kenangan kita. Kesalahan dia hanya dua, suka selingkuh dan tak mau diribetkan untuk memberi kabar pada pacarnya, selebihnya dia selalu baik.

Setelah hampir dua tahun kami tidak berjumpa. Di tahun 2015 tepatnya akhir bulan Juli, Hugo dan teman-teman seangkatan memutuskan untuk membuat reuni khusus kami seangkatan. Dan berhasil, aku akhirnya bertemu kembali mereka Arka, Hugo dan Aurel, yang tidak ada ialah (alm) Febby dan sahabatku Dian, karena dia harus mengurus anaknya. Iya, diantara kami Dian lah yang lebih dulu memutuskan untuk berumah tangga.

2015 juga merupakan waktu terakhir aku berjumpa dengan semuanya. Arka, aku tidak lagi melihat dia, setelah reuni angkatan itu, betapa pun aku merindukannya, aku tidak akan lagi melihat dia secara langsung mungkin hanya bisa melalui dunia maya, karena dia memilih bekerja di pulau terluar yang jauh sekali. Dian dan Aurel juga disibukkan dengan urusan rumah tangga atau kuliah mereka. Aku memang masih bertemu dengan Hugo sekali, tepatnya di pertengahan April 2016, kami bertemu, karena aku menghadiri upacara pemakaman ibunya. Selepas itu aku juga tidak pernah lagi bertemu dengannya. Apalagi setelah aku memutuskan untuk bekerja di Ibukota, sejak awal tahun 2017.

Kini aku memulai semuanya di sini, di kota Jakarta. Sendiri tanpa orangtua, saudara ataupun saudariku, juga sahabat-sahabat karibku. Tanpa Arka, tanpa Hugo, tanpa Dian dan Aurel, dan semuanya. Akupun tidak tahu, setelah aku menulis ini akan seperti apa kisahku nantinya. Namun yang pasti sudah hampir 5 tahun aku memilih untuk menyendiri, berpelukan dengan bintang, bertatapan bulan, dan mencintai dalam mimpi. Aku tidak ingin membiarkan hatiku terjerat oleh cinta yang hanya hanya menyakiti. (*)