Apakah Ada yang “Asli’?

oleh -202 views
Link Banner

Oleh: Pdt. Janes Titaley, Sekretaris Klasis GPM Masohi

MENYIKAPI konstalasi politik jelang 2024 secara khusus di Maluku Tengah baik itu Pileg maupun Pilkada yang ramai diperbicangkan di tempat-tempat nongkrong/rumah kopi maupun lewat media social semisal Facebook maupun grup-grup WathsApp akhir-akhir ini, siapa yang layak menjadi anggota legislatif, siapa yang pantas menjadi bupati dan wakil bupati, pada pertanyaan ini banyak orang terjebak dalam frame primoldialisme suku bahkan agama.

Salah satu isu yang seringkali muncul di berbagai percakapan bahkan di masyarakat adalah persoalan “masyarakat asli” dan “pendatang”. Siapa yang punya hak untuk memimpin?

Seorang sosiolog klasik, Norbert Elias pernah menelaah isu ini dalam bukunya tentang “The Civilizing Process”. Dia tidak pakai istilah “masyarakat asli” seperti indigenous people” seperti kebanyakan para antropolog. Tetapi gunakan istilah “establish” yang berarti “orang setempat/mapan” dan “outsider” atau “orang luar”.

Elias membahas kedua istilah itu “establish” dan “outsider” secara positif, dinamis dan emansipatif dalam wacana tentang “pemeradaban” dengan pendekatan Sosiologi Proses. (DR Jhon Chr Ruhulessin, M.Si: Materi Kuliah Sosiologi Kepulauan, Pascasarjana UKIM 2021).

Baca Juga  Kejati Maluku Minta Buronan Kasus Korupsi Bandara Moa Serahkan Diri

Elias hendak mengatakan bahwa sebuah peradaban di konteks sosial tertentu adalah karya bersama “established” dan “outsider”.

Dalam penelitiannya, ia menemukan fakta bahwa mereka yang sekarang menyebut dirinya sebagai “orang asli” sebenarnya berasal dari kaum “outsider” (pendatang/orang luar). Proses ekonomi dan kekuasaan yang secara alami di level lokal mengakibatkan terjadi proses pergantian the rulling class (kelas yang berkuasa) oleh kaum “outsider”. Tetapi proses itu biasanya tidak berlangsung secara “keras” tetapi justru terjadi secara soft/lembut dan diterima oleh semua pihak.

Kenapa demikian? Sebab biasanya perjumpaan dan perluasan masyarakat terjadi melalui agama dan perkawinan sehingga terjadi percampuran antara kaum “establish” dan “outsider”.

Selain itu, menurut Elias kaum “outsider” dinilai turut berperan membangun proses pemeradaban masyarakat setempat pada berbagai aspek, termasuk pendidikan, ekonomi, politik dan agama. Itu sebabnya secara sosiologis (sosiologi proses), tidak ada masyarakat asli atau pendatang. Semua yang dulu pernah dianggap asing, termasuk agama, sekarang dianggap milik “setempat”.

Baca Juga  Pemuda Gamlamo dan MRI-ACT Halbar Cegah Covid-19

Mereka yang mengklaim dirinya asli pun, jika ditelusuri asal usul marganya, akan kelihatan pun dulunya berasal dari kaum “outsider”. Namun sekali lagi, semuanya berlangsung secara soft/lembut sebagai bagian dari sebuah proses pemeradaban suatu masyarakat.

Maluku Tengah milik semua, milik setiap orang baik kaum “establish” maupun “outsider”, apalagi ditengah perkembangan domokrasi yang sudah maju semua orang punya hak untuk memimpin dan hak itu dijamin oleh negara.

Kita belajar dari warga Kota London yang kembali memilih Sadiq Khan seorang Muslim Imigran Pakistan yang kembali memimpin Kota itu untuk kedua kali, kita belajar dari warga Kota Olofstrom, Blekinge Swedia Selatan yang memilih Tamam Abou Hamidah seorang Perempuan Imigran Palestina untuk menjadi Walikota di Negara yang mayoritas beragama Kristen.

Baca Juga  Dana Pemerintah ke Influencer Capai Rp 90,45 M, Kok Tidak Terendus BPK?

Mereka dipilih karena mereka dianggap punya kemampuan untuk memimpin, mereka dipercaya karena telah menunjukan dedikasi untuk masyarakat Kota. Bukan karena “asli” atau “Pendatang”

Selamat Ngopi Pagi dan Selamat menikmati dinginnya cuaca kamis yang manis… Hormat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.