AS Roma Kembali ke Jalan yang Benar

oleh -29 views
Link Banner

Porostimur.com | Roma: AS Roma terlambat bangun. Kesebalasan dari ibu kota Italia ini baru siuman setelah digebuk Milan, Napoli, dan Udinese. Setelah restart, Roma memang sempat terpuruk. Klub berjuluk Serigala ini baru bangkit di saat-saat terakhir. Roma akhirnya hanya kebagian tiket Liga Europa karena menempati peringkat kelima.

Gara-gara terpuruk dalam tiga pertandingan itulah, pelatih Paul Fonseca melakukan transformasi permainan. Kini, Roma doyan menggunakan pola 3-4-2-1. Dengan pola itulah, Giallorossi berhasil  menang dalam delapan pertandingan berturut-turut, termasuk menendang Juventus 3-1 di kandang sendiri.  Alhasil, pola ini akan diteruskan, termasuk saat melawan Sevilla di Liga Europa pada Kamis (6/8).

Roma belakangan punya dua bek sayap yang eksplosif, yaitu Bruno Da Silva Peres dan Leonardo Spinazzola. Dua bek ini punya sejarah yang berbeda.  Peres baru saja kembali ke Roma setelah beberapa kali dipinjamkan ke klub lain. Sementara Spinazzola selalu berjuang untuk menembus empat orang pemain bek sayap internal.

Baca Juga  6 Pilihan Outfit Warna Cerah untuk Kulit Sawo Matang

Edin Dzeko praktis selalu terisolasi dari rekn-rekannya. Sebab, sayap yang ofensif harus turun membantu pertahanan terutama ketika menghadapi lawan yang kuat. Tandem Jordan Veretout dan Amadou Diawara juga tampak tidak seimbang, karena orang Prancis itu merasa terhambat untuk melakukan yang terbaik, dalam menggerakkan permainan menyerang dari lini tengah.

Link Banner

Gelombang berbalik melawan Parma. Spinazzola tiba-tiba melakukan gerakan eksplosif untuk menembus sepertiga area terakhir lawan, sementara di seberangnya Peres sudah mengekspos lawannya berkali-kali. Dengan demikian sektor defensif menjadi amat longgar. Untungnya, tiga beknya kembali solid dan berkali-kali melakukan pertahanan yang luar biasa.

Diawara pantas mendapatkan kredit poin. Penampilannya terus membaik dari waktu ke waktu. Selama serangkaian pertandingan, kepercayaan dirinya berlipat ganda. Sekarang Diawara menjadi episenter atau pusat permainan tim. Ia bertindak dalam kisaran 360 derajat untuk bertahan dan membangun serangan balik dengan cepat. Veretout juga menunjukkan kemajuan nyata karena produktif. Ia mencetak beberapa gol, di antaranya dua gol melawan Parma yang menandai kebangkitan Roma.

Baca Juga  UEFA Resmi Larang Manchester City Tampil 2 Musim di Liga Champions

Dzeko, sekarang secara konsisten mendapatkan dukungan dari Henrikh Mkhitaryan. Sejak itu Dzeko telah mencetak dua gol dan dua asis. Inilah hal fundamental dalam perubahan permainan Roma rancangan ofensif Fonseca.

Nah, Roma sekarang akan menguji formula baru di pentas internasional. Sevilla dipimpin manajer 53 tahun, Julen Lopetegui. Dalam 17 tahun kepelatihannya, pelatih Spanyol itu adalah salah satu senior di pentas sepak bola Iberia. Setelah dipecat Real Madrid gara-gara kalah 1-5 di El Clasico, Julen berlari amat kencang. Ia terkalahkan dalam 17 pertandingan terakhir, termasuk imbang melawan Barcelona dan Atletico Madrid.

Pola 4-3-3 Lopetegui memang istimewa. Ia meminta gelandang bertahannya untuk mundur sebagai jangkar. Lalu bek sayapnya bergabung dengan lini tengah hingga tercipta komposisi 3-4-3 saat memegag bola. Ini membantu timnya membebani lini tengah untuk menggunakan gelandang cepat yang bermain bola seperti Ever Banega dan Joan Jordan.

Baca Juga  Bassam Kasuba Hadiri Pertemuam Majelis Ta'lim di Mandaong

Lucas Ocampos sebagai episenter pemainan telah mencetak 14 gol di musim pertamanya bersama Los Nervionenses. Sebagai penyerang tengah, Ocampos sangat seimbang menjaga keterampilan dribbling dan kecepatan. Biasanya ia bekerja sama dengan Luuk de Jong untuk membongkar pertahanan lawan. Sekarang dalam masa puncak karirnya pada usia 26 tahun, Ocampos adalah ancaman terbesar pasukan Lopetegui. (red/rtm/indopos)