oleh

Baby Galacticos: Rencana Baru Real Madrid Untuk Dominasi Dunia

Link Banner

Porostimur.com | Madrid: Hari-hari Florentino Perez untuk datangkan pemain dengan nama beken sudah berakhir. Sekarang, kebijakan transfer Madrid terfokus pada pemain berbakat.

Kala itu, setiap jendela transfer musim panas dibuka akan disambut dengan agak takut oleh klub-klub besar Eropa. Kembalinya matahari bakal disertai dengan pembukaan cek besar Real Madrid untuk membangun Galactico terbaru sekaligus menambah koleksi pemain mereka.

Tidak masalah jika penjualnya adalah AC Milan atau Juventus, Manchester United atau Liverpool; tidak ada yang selamat dari cengkeraman uang tunai keluarga Merengues. Bahkan sang rival sekalipun, Barcelona, tidak bisa melawan.

Masih ingat kala Barca kehilangan bintang Portugal, Luis Figo, yang hengkang ke ibukota dan disambut dengan kepala babi saat bertandang ke Camp Nou?

Dua puluh tahun hegemoni Perez di Madrid, impresario tua cerdik itu adalah sosok hebat di ibukota Spanyol. Meski, sementara ini target berubah, uangnya kini lebih banyak mengalir untuk talenta baru.

Pemain-pemain seperti Ronaldo (baik yang dari Brasil atau Portugal) tidak lagi menjadi prioritas. Sekarang, dari Spanyol ke Brasil dan di seluruh dunia, potensi Galactiquitos, atau Baby Galacticos, sedang menghangat dan menyentak dengan frekuensi yang semakin meningkat.

Kebijakan ini sebetulnya tidak sepenuhnya baru. Sejak 1996, Madrid mendatangkan dua remaja bersaudara asal Argentina, Esteban dan Nicolas Cambiasso. Sementara Perez sempat pula membelok dari kebijakan transfer bintang ala Galactico sejak 2005 dan seterusnya untuk merekrut talenta U-23 yang menjanjikan, antara lain: Sergio Ramos, Gonzalo Higuain, Fernando Gago, dan Robinho.

Namun, tidak sampai musim panas 2013, perubahan nyata dalam pemikiran presiden benar-benar dapat dilihat.

Kegagalan Madrid untuk mengamankan jasa pemain sensasional Santos saat itu, Neymar, dinilai sebagai kesalahan yang tidak termaafkan, apalagi bagi klub yang selalu membanggakan diri, mulai dari [Alfredo] Di Stefano dan [Ferenc] Puskas pada 1950-an hingga muncul Cristiano Ronaldo pada enam dekade kemudian.

Barcelona terbukti lebih teliti dalam kebijakan transfer mereka, lebih cerdik dalam negosiasi, dan mungkin lebih bersedia untuk mengakomodasi permintaan boros yang dibuat dari semua pihak yang terlibat dalam kesepakatan transfer Neymar yang terkenal tersebut.

“Kami berbicara, kami melihat apa yang terjadi andai transfer itu terjadi, dan kami menyadari bahwa itu akan merusak ekosistem kami,” kata Perez dalam program televisi, Punto Pelota, tentang percobaan mendatangkan Neymar pada 2013.

Pernyataan boleh berbeda, namun nyatanya sang presiden sempat mengirim dua utusan ke Brasil untuk meyakinkan Neymar. Namun, upaya ini sia-sia untuk mengubah pikiran pemain yang kini membela Paris Saint-Germain itu.

Baca Juga  Mengaku Pimpinan FKM-RMS, Tiga Pemuda Datangi Polda Maluku Sambil Bawa Bendera Benang Raja

Aktivitas transfer Los Merengues setelah upaya gagal mereka untuk mendaratkan Neymar menunjukkan dengan tegas tekad Perez untuk tidak pernah terperangkap lagi. Bersama Gareth Bale, tiba trio berusia 21 tahun, yakni: Casemiro, Isco dan Dani Carvajal. Sementara dua tahun berselang, Marco Asensio diangkut dari Mallorca pada usia 19 tahun.

Beberapa musim terakhir terlihat bahwa Madrid fokus pada talenta muda. Sepasang pemain Brasil, Vinicius Junior dan Rodrygo, keduanya didatangkan pada usia 18 tahun. Pemain-pemain seperti Martin Odegaard (16), Takefusa Kubo (18), Brahim Diaz (19), Andriy Lunin (19), Eder Militao (20), dan Federico Valverde (18), semua masuk barisan Santiago Bernabeu saat klub kembali menyisir dunia untuk bintang besar berikutnya.

Permata potensial terbaru di mahkota Blanco tiba pada bulan Januari dalam bentuk Reinier, mantan rekan setim Vinicius di Flamengo yang direkrut beberapa menit setelah meniup lilin pada kue ulang tahunnya yang ke-18.

Ya, meskipun salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para remaja dari Amerika Selatan dan tempat lain ini adalah beradaptasi dengan budaya baru yang letaknya puluhan ribu kilometer dari rumah.

“Sulit, ia berpindah dari satu pemain ke pemain lain, dari satu orang ke orang lain. Beberapa akan dapat beradaptasi lebih cepat, yang lain tidak akan,” ucap Rodrygo kepada Goal saat mengisahkan kedatangannya ke Madrid.

Hal itu diungkapkan Rodrygo setelah masuk dalam daftar pemain muda terbaik dunia NxGn 2020, termasuk dua pemain Madrid lainnya—Reinier dan Kubo—dalam 10 besar.

“Saya pikir ketika Vini tiba, dia mengatakan kepada saya bahwa dia merasa sendirian, karena pada pramusim, Marcelo dan Casemiro belum ada di sana. Dia, satu-satunya pemain Brasil. Sedikit sulit memang di awal. Ketika saya tiba, ada lima orang Brasil di sini: saya, Casemiro, Marcelo, Vinicius, dan Militao, jadi itu banyak membantu saya.”

Baca Juga  Pemerintah Sempurnakan Rencana PSBB Kota Ambon

Rodrygo dan Vinicius sama-sama menikmati awal yang menyenangkan untuk kehidupan mereka di Madrid. Dengan bergabungnya Reinier, ada harapan yang berkembang bahwa Los Blancos dapat mengembangkan lini depan Brasil yang, meskipun terlambat, akan menggantikan kegagalan untuk mengamankan Neymar.

“Kami memiliki impian untuk membuat sejarah di sini, di Real Madrid, dan juga di timnas Brasil,” tutur Rodrygo.

”Kami memiliki kedekatan yang sangat baik, kami bertemu dari Brasil, tetapi karena dia berasal dari Rio [de Janeiro] dan saya dari Sao Paulo, ada jarak yang memisahkan dan kami hanya berkomunikasi via internet atau WhatsApp.”

“Hari ini kami bersama setiap hari, persahabatan kami semakin kuat. Kami memiliki banyak kesamaan dan kami memiliki impian yang kami harap dapat terwujud pada masa depan.”

“Saya pikir mereka ingin mengatur trio di sini atau kuartet Brasil di depan. Mari kita lihat,” kata dia.

Ironisnya, seperti yang diakui Reinier pada saat peresmian, salah satu “beban” terbesar bagi Galactiquitos adalah rekam jejak kebijakan transfer yang membentuk nama Galacticos yang mendahului mereka.

“Ketika saya masih sangat kecil, saya biasanya menonton pertandingan Madrid era Galacticos dengan ayah saya,” kata remaja itu kepada Marca.

“Saya mencintai Madrid. Tentu, sejak itu saya selalu cinta pada mereka,” pungkasnya.

Bahkan banyak dari generasi terbaru yang belum bisa berjalan ketika Zidane, Ronaldo, dan kawan-kawan sedang mengangkat piala.

Terima kasih kepada orangtua mereka, saudara kandung, dan YouTube karena legenda Galactico tetap utuh, memberikan promosi penjualan yang tak terkalahkan untuk staf Madrid sekaligus membantu pendekatan kepada bakat baru yang tengah diincar.

Kebijakan seperti itu, tentu saja, pada dasarnya tidak mudah. Contoh Valverde – yang didatangkan dari klub asal Uruguay, Penarol, pada usia 16 tahun (meskipun ia sempat dipinjamkan kembali selama dua tahun) dan masuk ke tim utama musim lalu lalu mencetak gol. Sementara Asensio—pencetak gol di Final Liga Champions 2016/17 alias pada musim debutnya—merupakan pengecualian dari kebijakan tersebut—karena ia kebetulan berasal dari Spanyol dan sempat mengecap LaLiga bersama Mallorca.

Baca Juga  Sempat Ricuh, Massa Lempari Petugas dengan Batu di DPRD Nabire

Yang lebih menarik adalah kasus Odegaard, pemain timnas Norwegia itu didatangkan pada usia 16 tahun, setelah hampir empat tahun lamanya dipinjamkan ke Belanda dan Spanyol, dan baru sekarang dianggap memiliki peluang untuk masuk ke dalam skuad senior.

Kesabaran sangat penting bagi setiap anak muda yang mengharapkan karier besar mereka. Kini, Odegaard masih dalam masa pinjam di Real Sociedad.

“Untuk pemain muda, dan bagi saya saat ini, sangat penting untuk memiliki waktu bermain. Di Madrid saya pikir itu sulit didapat,” ucap Odegaard, yang saat ini sedang menikmati kampanye mengesankan bersama Sociedad, kepada TV2 pada bulan Desember.

“Ada banyak pemain hebat di sana dan persaingan yang sangat ketat. Jelas, bahwa hal terbaik yang dapat saya lakukan adalah meminta peminjaman lagi.”

“Tujuan saya masih bermain untuk bermain dengan Real Madrid. Itu sebabnya saya masih terdaftar sebagai pemain mereka. Bagi saya, di situ tempat saya, saya merasa telah meningkat dalam dua tahun terakhir ini, saya kini pemain yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih dewasa,” tambahnya.

Waktu yang akan menjawab apakah Odegaard, dan memang, Rodrygo, Vinicius, Reinier, dan properti muda Madrid, akan menjadi juara. Tidak ada yang dapat diterima begitu saja di salah satu klub terkuat di dunia, dengan pemain berlabel timnas pada hampir setiap posisi.

Sementara itu di belakang layar, Anda dapat meyakini bahwa kebijakan Madrid ini menjadi ladang baru bagi para pemandu bakat yang coba berharap menemukan bakat besar lainnya yang siap mendobrak Bernabeu.

Nama-nama yang disebutkan di atas barangkali dapat silih berganti musim per musim, beberapa menjadi legenda dan lainnya pindah ke klub lain. Tetapi, Baby Galacticos, proyek Perez untuk mendominasi dunia ini tentu bukan untuk jangka setahun tetapi untuk satu dekade, ya, akan tetap ada. (red/rtm/goal)

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed