Badan Ketahanan Pangan Maluku: Sayuran Tercemar Pestisida dan Ecoly Aman Dikonsumsi

oleh -141 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon: Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Ir. Habibah Saimima, M.Si, akhirnya memberikan penjelasan terkait beredarnya surat lembaga tersebut yang membuat geger warga Kota Ambon.

Melalui siaran persnya yang diterima porostimur, Rabu (18/9) pukul 21.40 wit, Habibah menjelaskan, kandungan residu pestida tersebut masih di bawah ambang batas residu (BMR) sehingga dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi.

“Berdasarkan SNI 7313 : 2008 , batas maksimum residunya 0,1 mg/kg untuk terong, hasil uji lab. adalah 0,0058 mg/kg, juga untuk kangkung, hal ini menunjukan sayuran tersebut masih aman untuk dikonsumsi,’ imbuhnya.

Saimima menjelaskan, terkait dengan hasil pengawasan (uji) laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku terhadap sampel pangan segar asal tumbuhan (sayur-sayuran) pada beberapa petani di Kota Ambon yang terdeteksi residu pestisida golongan Peritroit dengan bahan aktif parethrin pada sayuran kangkung, terong hijau dan terong ungu serta bakteri e-coli pada sayuran sawi hijau dan selada, dengan ini dijelaskan bahwa kandungan residu pestida tersebut masih di bawah ambang batas residu.

“Terdeteksinya bakteri e -coli juga masih dibawah ambang batas juga dan ini masih dikatakan aman,” ujar Saimima.

Baca Juga  Otoritas Kota Oxford Cabut Gelar Kehormatan Aung San Suu Kyi

“Bakteri e–coli ini disebabkan oleh penggunaan pupuk kandang yang belum matang maupun penggunaan air y ang kurang bersihdalam proses produksi,” sambungnya.

Habibah Saimima menambahkan, namun demikian bakteri dapat dimatikan dengan pencucian sayuran secara benar dan bersih (air mengalir) dan dimasak pada suhu yang sesuai sehingga bakteri tersebut akan mati.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Ir. Habibah Saimima, M.Si,

Ia mengatakan, instansi yang berwenang harus terus melakukan pembinaan terhadap para petani sayuran ini agar menggunakan pestisida ramah lingkungan untuk melindungi masyarakat dari bahaya residu pestisida kimia yang menimbulkan berbagai penyakit degeneratif.

“Apabila hasil Pengawasan terdeteksi kandungan residu tersebut maka Badan/Dinas terkait akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan pembinaan terhadap petani di wilayahnya,” pungkasnya. (keket)