Bahas Zona Merah, Bamus Hadirkan Tim Gugus Tugas Covid-19 Maluku

oleh -169 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Salah satu langkah preventif yang dilakukan DPRD Maluku menghadapi pandemik corona virus atau covid-19, yakni menggelar hearing yang melibatkan Tim Gugus Tugas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, Kasrul Selang, nampak hadir dalam hearing dimaksud.

Rapat yang diinisiasi Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Maluku ini lebih menitikberatkan tentang pembatalan PSBB, mengingat jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) yang sudah mengalami penurunan dari 17 kasus, 11 di antaranya dinyatakan sembuh total.

Ketua DPRD Maluku, Drs. Lucky Wattimury,M.Si, dalam keterangannya kepada wartawan usai menghadiri hearing ini, menjelaskan bahwa rapat ini berisikan pembicaraan lanjutan DPRD Maluku terkait pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Dimana, pembicaraan sebelumnya mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) tentang Gugus Tugas (Gustu) penanganan dan pemberantasan covid-19, maupun pembatasan sosial berskala besar dan sebagainya.

Baca Juga  HUT Ke-75 RI, Murad Ismail Ajak Warga Maluku Keluar dari Kesulitan

”Karena pada waktu itu belum ada kesimpulan usulan masuk ke PSBB tapi dipertimbangkan. Lalu namanya pembatalan berskala besar regional. Kalau yang sekarang ini, ada masukan dari Walikota Ambon, Ricard Louhanapessy,SH, adalah yang seperti itu,” singkatnya.

Menurutnya, masukan Louhenapessy tadi akan ditampung dan dipelajari pihaknya, namun keputusan akhir tetap berada dalam tangan Gubernur Maluku.

”Dewam belum tahu dasar pertimbangan walikota seperti apa, rujukan-rujukan hukumnya bagaimana? Kalau memang dimungkinkan bergantung pada Pemerintah Provinsi Maluku dalam hal ini Gubernur. Karena Dewan tidak ada untuk memutuskan, karena kami hanya mengawasi keputusan yang diambil. Yaitu, ikuti apa keputusan Gubernur. Biarlah itu menjadi proses kebersamaan kita untuk menangani virus corona ini,” tegasnya.

Baca Juga  Pastikan Zero Narkoba, WBP LPP Ambon Jalani Tes Urin

Diakuinya, masuknya Kota Ambon dalam Zona Merah Covid-19 ini, sudah diprediksikan dan diketahui jauh hari sebelumnya. Namun, kondisi dimaksud justru baru diungkapkan beberapa waktu belakangan ini.

”Sudah menjadi kategori itu dan bukan sekarang. Ini baru katong kaget akang sudah pos dimana bagian Ambon keluar, itukan tanda kutip kita ini zona merah, makanya diperketat. Istilahnya baru muncul sekarang, tapi pelaksanaannya sudah jalan. Itulah sekarang bagaimana kita sama-sama menertibkan masyarakat pada yang dianjurkan pemerintah apa yang dilaksanakan pemerintah,” timpalnya.

Penerapan PSBB pada skala zona merah ini, terangnya, sudah diberlakukan di wilayah Maluku.

Salah satu contohnya saat dirinya melakukan pemantauan ke wilayah pemukiman warga di Kompleks Perumahan BTN Waitatiri, Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Slank: Dulu Dipuja, Kini Dinista, Ada Apa?

”Hasil pantauan saya di lapangan seperti di Lorong BTN Waitatiri-Suli. Di sini, waktu masuk warga gunakan palang. Pengendara diharuskan turun dari kendaraan, menulis namanya dan menunjukkan tanda pengenal atau KTPnya, serta tujuan mendatangi lokasi dimaksud. Bagus dan tertib. Diikuti semua, lalu di situ kita evaluasi. Kalau semua ambil langkah-langkah seperti ini, pasti tertiblah kita. Oleh karena itu, lebih banyak zona merah, kita sudah buktikan itu. Pembatasan berskala besar, kita sudah ambil untuk pos di daerah Maluku Tengah dan Kota Ambon di banyak tempat, lingkungan kita masing-masing pos sudah dibentuk dan memang orang semua sudah sadar itu sekarang,” tutupnya. (liehu)