Bamsoet Dinilai Tepat Pimpin Golkar

oleh -105 views
Link Banner

@porostomur.com | Jakarta: Aktivis Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974, Hariman Siregar menilai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus kader Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) adalah sosok yang tepat untuk menjadi Ketua Umum Golkar periode 2019-2024.

Ia menyakini di bawah kepemimpinan Bamsoet nantinya Golkar akan semakin berkembang sampai ke akar-akarnya.

Melansir dari TeropongSenayan.com, salah satu calon yang sudah menyatakan siap maju adalah Bambang Soesatyo, yang pasti akan bertarung dengan Airlangga Hartarto yang akan kembali maju.

“Bamsoet adalah sosok yang pandai merangkul seluruh lapisan. Terlebih lagi dekat dan mau merangkul generasi milenial, Bamsoet adalah pilihan yang tepat untuk memimpin Partai Golkar ke arah yang lebih baik,” kata Hariman di Jakarta, Sabtu (20/7/2019).

Dirinya juga menilai Bamsoet sosok yang pas, dalam merangkul akar-akar kokoh Trikarya milik Golkar ke depannya.

“Golkar adalah partai besar yang selalu berusaha menjadi pilar penjaga stabilitas politik Indonesia. Untuk itu Golkar harus beradaptasi dengan peta baru regenerasi suara pada Pemilu 2024 yang kebanyakan pemilih adalah generasi muda,” tandasnya.

Airlangga Dinilai Langgar AD/ART Golkar

Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dinilai telah melakukan tindakkan sepihak lantaran telah mengubah struktural partai Golkar ke Kementerian Hukum dan HAM. 

Baca Juga  Ketua APEKSI Komwil VI Berharap Para Walikota Berinovasi Memajukan UMKM

Hal ini dikatakan Politisi senior partai Golkar, Lawrence Siburian kepada wartawan seusai mengisi acara diskusi publik bertajuk ‘Ngebut Munas Parpol Jelang Kabinet Baru’ di Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7).

“Betul. Dia (Airlangga) mengajukan penggantian kepengurusan ke Kemenkumham. Itu kan jelas bertentangan dengan AD ART,” kata Lawrence. 

Menurut Lawrence, sikap yang diambil oleh Airlangga itu bukan hanya melanggar AD ART partai tetapi tanpa argumentasi yang jelas. Sebab, hal itu terjadi menjelang Musyawarah Nasional (Munas) partai Golkar.

“Apa urgensinya. Orang udah mau Munas kok ganti kepengurusan,” kata Lawrence. 

Indra Bambang Utoyo Maju Nyatakan Jadi Caketum Golkar

Indra Bambang Utoyo memutuskan ikut meramaikan bursa calon ketua umum Partai Golkar untuk periode mendatang. Indra menganggap, di bawah kemimpinan Airlangga, Golkar tidak menujukkan ke arah yang lebih baik.

Baca Juga  Kembali Perkuat Timnas Indonesia, Manahati Lestusen Janji Jaga Sikap

“Menurunnya perolehan suara dan kursi DPR pada Pemilu 2019 disebabkan oleh faktor kepemimpinan yang bermasalah. Tidak adanya isu strategis, tidak terlaksananya konsolidasi dengan baik, serta kasus korupsi yang menjerat kader partai,” kata Indra, di Jakarta, Minggu (21/7/2019).

Indra menuturkan, sejarah terbentuknya Partai Golkar tak lepas dari peran Jenderal Ahmad Yani. Waktu itu, Ahmad Yani mendorong terbentuknya Sekber Golkar pada 1946 untuk menangkal berkembangnya paham ideologi yang mengancam Pancasila seperti Komunisme.

Sementara pada tantangan saat ini, kata Indra, meski sel-sel komunisme masih hidup, tetapi ada gangguan ideologi baru dari konsep khilafah. Menurut Indra, Golkar tidak mampu menjadi benteng Pancasila dalam melawan khilafah terutama saat kontestasi Pilgub DKI 2017 dan semakin memanas pada Pilpres 2019.

“Dalam kaitan ini saya melihat Golkar tidak menunjukkan kekhawatiran terhadap perkembangan khilafah ini, di mana seharusnya Golkar lah yang paling depan mewaspadai bahkan melawannya,” ujar Indra.

Baca Juga  Badan Saksi Jadi Organ Permanen untuk Kawal Suara Golkar dalam Setiap Hajatan Politik

Selain kondisi itu, lanjut Indra, Golkar juga dianggap semakin terpuruk. Ia mencermati konflik internal Golkar yang meruncing disebabkan persaingan kekuasaan. Dalam hal ini, Golkar tampak memperlihatkan wajah pragmatisme dan meninggalkan idealisme partai.

Isinya seperti jual-beli suara. Ditambah lagi tokoh-tokoh legislator Golkar terlibat pada kasus di KPK. Bahkan terakhir Ketua Umum (Setya Novanto) dan Sekjen (Idrus Marham) yang dibangga-banggakan masuk ke tahanan bersama beberapa tokoh lain, dari pusat hingga daerah.”Sempat pula Golkar terbelah selama hampir dua tahun, karena persoalan pragmatisme dan kekuasaan,” ungkapnya.

Indra juga bertemu dengan calon kandidat ketum lainnya, yaitu Bambang Soesatyo alias Bamsoet. Dalam pertemuan itu, ada juga Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo.Baik Indra maupun Bamsoet yang notabene anggota FKPPI itu diberi pesan dari ketua umumnya agar menjaga kekompakan dan kesolidan dengan menunjukkan sikap dan idealisme organisasi keluarga besar TNI-Polri. (red)