Band Savana Nada

oleh -32 views
Link Banner

Oleh: Tedjabayu Sudjojono, aktivis organisasi pemuda CGMI, ditangkap Oktober 1965, dibuang ke Pulau Buru

Akhirnya terbentuklah kelompok musik ini. Anggota-anggotanya secara kebetulan kok ya ganteng semua kecuali saya. Dik Win Subiardjo pegang lead guitar, Mas Totok Darwanto (almarhum) bas, Dik Daljono (almarhum) dan Mas Leo Mulyono mengiringi. Nah, pada setiap pentas di Unit IV maupun di Jamilo, Marloso, dan Sanleko, malahan sampai Namlea, kami selalu mendapat sambutan sangat “meriah”, bahkan sering agak ekstrim. Saya masih ingat saat pentas di Namlea para remaja Namlea menjadi sangat histeris menyaksikan ulah Dik Wagimin Subiarjo (Win) dan Dik Basuki membawakan lagu-lagu The Beatles. Waktu itu band kami satu-satunya kelompok band yang selalu membawakan lagu-lagu barat selain lagu-lagu Maluku.

Pada setiap penampilan, secara spontan hadirin selalu ada saja yang menyumbangkan lagu. Yang selalu tampil dua anak remaja Namlea, anak-anak seorang angggota Polri, Rietje dan Bartje Lawalata. Mereka menyanyi berduet bagus sekali. Ada juga Letnan Hussein dari Koramil Namlea, Yenny dan Betty Wowor, dan last but not least, Bu Mansur dari Desa Rata, desa di sebelah timur Unit IV. Bu Mansur seorang petualang dan PSK. Ia berteman akrab dengan kelompok preman Jakarta, Nissan Boys. Penyanyi bahenol ini tidak pernah tahu irama. Wah gempar banget kalau Bu Mansur keluar! Dik Welas Asih langsung saja memberi aba-aba, sambil tersenyum,

Baca Juga  Dua Warga Kota Ambon Ditemukan Tewas di Atas Kapal Thailand

“Sampak, Mas!”

Link Banner

Seruan “sampak” biasanya untuk memberi aba-aba mempercepat irama dalam menabuh gamelan. Spontan teman-teman seksi petik melabrak gitarnya dengan los greep, yang berarti jari tangan dilepaskan dari tekanan ke dawai. Toh antara penyanyi dan instrumen tidak perlu selaras! Tentu saja acara ini menyebabkan hadirin gempar dan keriuhan ini jadi hiburan tersendiri. Rupanya lewat musik hubungan kami bisa akrab dengan para prajurit remaja yang galak-galak itu. Di Unit IV Savanajaya kawan-kawan anggota band juga disukai karena selain masih remaja, pada dasarnya para prajurit TNI yang juga masih remaja sangat menyukai musik. Ada pengalaman lucu dari Mas Leo Mulyono. Ia dipanggil seorang prajurit muda sewaktu melewati pos tonwal. Dengan rasa was-was ia datang ke pos meski tidak merasa berbuat salah,

“Leo! Band-mu bagus tadi malam. Tidak lombo seperti Unit X, eh! Ada lagu Jawa yang beta sangat suka. Lagu Cina Kolo! Bisa mengajarkan lagu itukah?”

Cina Kolo? Lagu apa itu? Dia memutar otaknya mengingat-ingat perbendaharaan lagu-lagu yang dia kenal. Prajurit remaja itu lalu menyanyikan potongan lagunya dengan antusias,

Baca Juga  "SaTu MANIPA" Sensasi Berbeda yang Bikin Ketagihan

“Cina Kolooo!”

Oh! Mas Mul langsung paham ketika mendengar nada-nadanya. Rupanya si prajurit antusias mempelajari lagu-lagu dari Jawa. Ia ingin mempelajari lagu “Jenang Gula”! Hahaha, Cina Kolo!

Kami menamakan kelompok musik ini dengan nama keren, Band Savana Nada untuk menghindari pemakaian bahasa asing. Kami masih merasa lebih nasionalis kalau memakai bahasa dewek. Lalu kami kebingungan dengan belum adanya drum. Tidak kurang akal, Dik Basuki menggunakan ember plastik dibalik dan memakai stik kayu yang dibuat sendiri dari kayu meranti. Ia memakai sapu lidi yang dibentuk dan dialih-fungsikan menjadi brush dengan rapi. Untuk menyembunyikan ember plastik tadi kami menggunakan rotan dibulatkan sebagai kerangka dan kertas dengan hiasan lukisan Mas Leo bertuliskan Band Savana Nada dengan warna cerah. Wow, kereeen!

Band Savana Nada pentas di luar Unit di depan Wisma Anggrek, Namlea. Di situlah kami berkenalan dengan anak-anak kecil SMP Namlea yang menyumbangkan lagu-lagu Maluku. Win Subiardjo kemudian menyanyikan lagu “Pantai Natsepa” yang saat itu populer di Ambon. Kontan nyanyian ini disambut dengan sangat meriah oleh remaja-remaja Namlea dan para prajurit Yon 731. Masyarakat Namlea, terutama remaja dan para prajurit yang sama-sama masih remaja itu menjadi histeris ketika muncul lagu “Hey Jude” dari The Beatles dan “Massachusetts” dari Bee Gees di bumi Namlea! Ada juga kawan tapol dari Jakarta, Mas Sudarsono (almarhum) yang kami juluki Sudarsono Kacamata, yang ikut menyanyikan lagu-lagu barat zaman baheula. Ia lebih gendeng lagi daripada kami-kami yang saat itu dianggap masih muda. Masyarakat Buru selalu memanggilnya “Opa”. Ternyata beliau paman keluarga Koes Bersaudara. Nah, kalau kami sedang jalan-jalan di Namlea setelah pentas di Wisma Anggrek malam itu, Dik Basuki yang ganteng itu selalu disapa para remaja dan tonwal Yon 731 dengan berteriak riang,

Baca Juga  Lisa Setiawati, Lifter Senior Indonesia Sukses Menjadi Juara Dunia

“Hey, Kupu-kupu!”

Ia biasa menyanyikan lagu Maluku “Kupu-kupu Sepanjang Pantai”. Biasanya Dik Win dan aku sendiri disapa ramah,

“Ah, Mas Bye Bye Love!”

Kami pernah dikritik secara diam-diam oleh beberapa teman senior, terutama para senior aktifis budaya, sebagai anak-anak muda yang senangnya lagu-lagu dekaden, bitel-bitelan dan tidak peduli kepada kritik Bung Karno tentang lagu-lagu ngak-ngik-ngok. Tetapi kami diam saja karena percuma debat dengan kawan-kawan fanatic kiri ini.

In Memoriam Pak Soebronto Koesoemo Atmodjo, Dik Daljono dan Mas Totok Darwanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *