Bantu Cari Bangkai MV Nur Allya, TNI AU dan Basarnas Kepri Gelar Operasi Kemanusiaan di Maluku Utara

oleh -56 views
Link Banner

Porostimur.com | Batam: Guna membantu pencarian bangkai kapal MV Nur Allya yang tenggelam di Perairan Halmahera Maluku Utara, TNI AU mengirimkan peralatan Basarnas berupa multibeam eco-sounder (MBES).

Peralatan yang dikirim menggunakan pesawat TNI AU CN 295 dengan tail number A2907 ini, diharapkan bisa menyukseskan operasi kemanusiaan antara TNI AU dan Basarnas.

“Misi operasi ini dukungan angkutan udara tersebut adalah misi operasi kemanusiaan TNI AU dan basarnas,” jelas Mu’min Maulana, Kabasarnas Kepri.

Kadisops Lanud Hang Nadim Batam Mayor Lek Wardoyo mengatakan pengiriman alat itu berdasarkan surat permohonan bantuan angkutan udara, agar TNI AU menyiapkan 1 pesawat CN 295 yg terbang dari Lanud Halim dan akan di terbangkan sampai lanud terdekat di Ternate.

Peralatan multibeam eco-sounder adalah alat yang bekerja seperti sonar yang memancarkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi objek berupa barang, logam, manusia di dasar laut dengan tampilan 3D (tiga dimensi) dengan jarak jangkauan sampai dengan kedalaman 10 km.

Baca Juga  KPU Halmahera Barat Gelar Bimtek PPK

Bersama dengan pesawat, sebanyak tujuh operator Basarnas turut serta, untuk kemudian bergabung bersama tim di Maluku.

Sebelumnya kapal kargo berbendera Indonesia bermuatan nikel tersebut hilang kontak di perairan Utara Pulau Buru, Maluku pada 20 Agustus 2019. Kapal kargo milik PT Gurita Lintas Samudra diawaki 25 orang, yang berlayar dari rute Pulau Weda, Maluku Utara dengan tujuan Pelabuhan Morosi, Provinsi Sulawesi Tenggara.

MV Nur Allya adalah kapal kargo raksasa buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002, dengan kapasitas 52.400 deadweight tonnes (dwt), artinya mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton, tidak termasuk berat kapal itu sendiri yang mencapai 8.394 metrik ton.

Baca Juga  Satgas Yonarmed 9/Kostrad Terima Lima Senpi Ilegal dari Warga Maluku Utara

Pemerintah telah mengerahkan sekitar 21 lembaga dan instansi terkait seperti Basarnas Ternate, Direktorat Komunikasi Basarnas Pusat, Direktorat Polairud Polda Maluku Utara, perusahaan pemilik kapal, dan Bakamla Pusat untuk mencari keberadaan kapal selama 13 hari.

Area pencarian dipusatkan di perairan Maluku Utara, yang menjadi titik koordinat awal kapal tersebut terpantau. Tim juga menyisir perairan laut Obi, Maluku Utara dan perairan Pulau Buru, Maluku.

Termasuk juga menyisir jalur pelayaran kapal di perairan Obi, Sanana, Taliabu, dan perairan Morosi. Pencarian juga dilakukan melalui udara, namun tidak membuahkan hasil.

Misteri keberadaan kapal kargo MV Nur Allya sedikit terkuak saat tim SAR menemukan sekoci rusak dari kapal tersebut di pesisir Desa Gambaru, Kecamatan Obi Selatan.

Baca Juga  Ketua PWI Sumut Buka Acara Pembentuan Pengurus JMSI, Rinto Ditetapkan Sebagai Ketua

Perusahaan pemilik MV Nur Allya sudah mengkonfirmasi sekoci tersebut merupakan bagian dari kapal yang tenggelam. Tumpahan minyak ditemukan di bagian selatan perairan Pulau Obi, Maluku Utara pada 30 Agustus 2019. (red/rtl)