Be Careful of What You Wish For

Penulis: Made Supriatma

Saya mendapat gambar ini dari laman seorang teman. Dia sendiri rupanya mem-forward dari laman seorang intelektual yang dikenal sebagai pendukung kelas berat Presiden Jokowi.

Mungkin tepatnya bukan pendukung. Tapi peng-amin. Apa saja yang dibikin presiden junjungannya, pasti dia aminkan. Selalu saja ada alasan pembenar yang diberikan. Itulah karakter kelas gedibal.

Gambar ini jelas serangan komikal terhadap Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, yang pemilihannya meninggalkan rasa sepat di mulut para pendukung Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama.

Nah, sebagian besar pendukung Ahok ini sebenarnya pendukung Jokowi kelas berat juga. Walaupun Jokowi sekarang berusaha untuk menyembunyikan Ahok dari panggung politik Indonesia. Karena hanya Ahok yang bisa mempersatukan kaum Islamis di Indonesia.

Akhir-akhir ini saya selalu ketawa ngakak melihat bagaimana para pendukung Jokowi menyerang Anies Baswedan habis-habisan. Siang malam timeline saya berisi cercaan terhadap Anies. Soal kertas, tinta, dan Aica Aibon.

Saya tidak mengatakan bahwa soal ini tidak legitimate. Atau Rp. 82 milyar untuk membeli lem Aica Aibon itu adalah benar. Tidak sama sekali. Anggaran ini terlalu mencurigakan. Ada ruang untuk korupsi. Dan, kemungkinan itu besar.

Namun serangan terhadap Anies ini berlangsung dalam derajat yang luar biasa. Satu-satunya yang dapat menandingi derajatnya adalah ketika pendukung Jokowi menyerang Prabowo Subianto, mantan musuh bebuyutan Jokowi.

Pendukung Jokowi tentu tidak bisa lagi menyerang Prabowo. Karena sekarang Prabowo sudah semeja dan sepeniduran dengan Jokowi.

Kabarnya pendukung-pendukung Jokowi juga sudah mulai “belajar” mencintai Prabowo. Mendadak mereka ‘mencintai’ musuh-musuhnya. Walaupun sebelum digampar pipi kanannya, mereka dengan riang gembira mendahului menggampar pipi kiri orang yang tidak mereka sukai.

Jadi sekarang sah bahwa Anies Baswedan adalah musuh dua sahabat baru ini: Jokowi-Prabowo. Dan, saya bisa memastikan bahwa serangan-serangan ini barulah awal-mula saja. 2024 masih jauh. Dan kita bisa memastikan kedepan serangan akan lebih gencar, lebih nggilani, dan lebih tidak beradab.

Hanya saja persoalannya, apakah ini akan membuat Anies jatuh?

Saya tidak tahu apakah dengan mendemonisasi Anies seperti dalam gambar ini akan membuat elektabilitas Anies turun. Apakah ini akan membuat dia tenggelam dalam persaingan politik masa depan?

Terus terang saya ragu. Ini politik. Mungkin Anies akan babak belur secara politik. Namun, apakah itu akan berarti elektabilitasnya turun? Kekuatan politiknya akan tereliminasi?

Nanti dulu. Politik kita sangat partisan. Anda ikut Jokowi atau tidak sama sekali. Tidak ada ruang tengah. Setidaknya, tidak ada yang kelihatan. Dan kita tahu, partisanship di Indonesia ini (sudah diuji saat Pemilu kemarin) cukup berimbang.

Serangan kepada Anies Baswedan akan membikin pendukung Jokowi semakin menguat kebenciannya terhadap gubernur ini. Sebaliknya, mereka yang tidak menyukai Jokowi akan makin melihat Anies Baswedan sebagai kekuatan alternatif. Dan kemungkinan besar mereka akan berbondong-bondong kekolomnya Anies.

Dalam politik, selalu ada kekuatan tengah yang menentukan. Kaum independen inilah yang akan menjadi penentu dalam partisanship yang makin mengental ini. Siapa yang bisa menarik kalangan ini ke dalam kolomnya, dialah yang akan memenangkan pemilihan.

Tapi bukan itu saja. Yang lebih penting menurut saya adalah bagaimana serangan ini dilancarkan. Dengan menyerang Anies, pendukung Jokowi sebenarnya telah mendudukan Anies dalam sorotan atau ‘spotlight.’ Dalam kampanye, setiap sorotan — baik negatif maupun positif — adalah iklan!

Para pendukung Jokowi dengan sukarela mengiklankan Anies. Untuk para pendukung Jokowi, ini adalah iklan buruk. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak mendukung Jokowi dan tidak suka dengan dia? Ini adalah iklan gratis kepada mereka untuk mencari alternatif lawan Jokowi!

Dengan menyerang Anies habis-habisan, pendukung Jokowi sebenarnya sudah mendudukkan Anies sebagai ‘frontrunner’ atau pelari terdepan dalam kontes 2024.

Untuk mereka yang tidak mendukung Jokowi, serangan ini berarti pertanda bahwa Anies itu sangat relevan. Anies itu sangat kuat. Kalau tidak kuat mengapa diserang?

Jadi, menurut saya, hati-hatilah menyerang Anies. Lebih baik perlakukan Anies seperti Jokowi memperlakukan Ahok: simpan baik-baik dalam lemari. Hindarkan dia dari spotlight (lampu sorot).

Saran yang aneh? Iya. Tapi saya bisa membikin banyak contoh sejenis yang pernah terjadi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: