Bela Indonesia Minta Pemerintah Panggil Lagi Dubes China

oleh -124 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Bela Indonesia (BELAIN) menyerukan kepada Menlu RI Retno Marsudi dan Menkopolhukam RI Mahfud MD agar memanggil kembali Duta Besar RRC untuk Indonesia agar memberikan informasi rencana perubahan terjemahan dan penafsiran ulang terhadap Kitab Suci Umat Islam dan Kitab Suci Umat Kristen untuk disesuaikan dengan doktrin komunisme RRC, sehingga masyarakat Indonesia yang sedang sensitif dengan isu Uighur tidak menjadi korban aksi solidaritas radikal akibat provokasi operator-operator politik komunis RRC.

Diketahui sebelumnya Bela Indonesia meminta agar pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) agar segera menugaskan operator politik Partai Komunis Cina (PKC) di Xinjiang, Chen Quanguo untuk mendiskusikan dengan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) tentang program dan dampak negatif kebijakan kombinasi kontra propaganda perang proksi teror, perekrutan teroris, kaderisasi radikal dan ekstrimisasi separatis kelompok ETIM dan RITT di Xinjiang agar publik nasionalis dan relijius di Indonesia ikut menyimak adanya keterkaitan jaringan kelompok radikal, ekstrimis dan teroris AQ Indonesia-RRC dan ISIS Indonesia-RRC.

Baca Juga  Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Ternate, Tak Berpotensi Tsunami

“Belum sempat terlaksana, kini atasan langsung Chen Quanguo mengusulkan ide berikut kontroversi untuk merubah terjemahan dan tafsir Kitab Suci Umat Islam dan Kitab Suci Umat Kristen agar sesuai dengan nilai-nilai doktrin komunis RRC,” kata Direktur Belain, Abdussalam Hehanussa.

Menurutnya, Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Cina, Wang Yang adalah tokoh paling bertanggungjawab atas segala dampak negatif terjadinya penindasan massif dan sistemis terhadap etnis Uighur dari seluruh program kombinasi deradikalisasi, kontra separatism dan terorisme di Provinsi Xinjiang, RRC.

Berdasarkan penilaian terbaru Bela Indonesia terhadap sikap kontroversi pemerintah RRC, maka pimpinan organisasi Bela Indonesia (BELAIN menyerukan kepada semua netizen milenial, tokoh pemuda nasionalis, relijius Muslim dan Kristiani untuk aktif menyebarluaskan dan memviralkan konten komik manga berjudul “What has happened to me?” atau “Apa yang terjadi pada saya?” karya komikus Jepang, Tomomi Shimizu yang ikut membela korban persekusi di penjara doktrin komunis dan rasialis anti etnis Uighur di Provinsi Xinjiang, RRC.

Baca Juga  Mahasiswa Kembali Demo di DPR, Lalin Jalan Gatot Subroto ke Slipi Macet

“Kisah nyata di komik ini ditulis
Uighur berdasarkan fakta seorang wanita Uighur bernama Mihrigul Tursun yang pernah dipenjara dan disiksa, agar para netizen lebih bersimpati secara kemanusiaan kepada semua korban pelanggaran HAM Pemerintah RRC terhadap etnis minoritas Uighur,” tukas Hehanussa.

Belain juga menyerukan kepada semua netizen milenial, pemuda nasionalis, relijius Muslim dan Kristiani agar mewaspadai bahaya propaganda komunis RRC untuk merusak nilai-nilai relijius Kitab Suci Al-Qur’an dan Al Kitab untuk kepentingan ideologi komunis di balik isu kontra propaganda anti radikalisme, terorisme dan separatisme kelompok ETIM dan RITT di Xinjiang agar publik Indonesia tetap kritis merespon dampak negatif sikap senyap dan efek positif politik halus pemerintah RI terhadap RRC, sekaligus mengkonsolidasikan informasi terbaru menghadapi manuver politik ‘udang di balik batu’ pemerintah RRC. (red)