BEM UI Juluki Jokowi King of Lip Service, Pengamat: 1 Tindakan Lebih Berharga dari 1000 Janji

oleh -32 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Akun Twitter Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia membuat viral setelah menyebut Presiden Joko Widodo sebagai The King of Lipe Service.

Melalui akun @BEMUI_Official, mereka mengunggah foto presiden Jokowi dengan mengeditnya menggunakan mahkota di kepalanya.

Akun tersebut menulis, presiden Jokowi kerap mengumbar janji.

Namun, Jokowi akhirnya tidak memenuhi janjinya tersebut.

Jokowi juga disebut kerap memberikan pernyataan yang tidak selaras dengan kondisi sebenarnya.

Mereka mencontohkan, pernyataan Jokowi yang menyebut dirinya rindu didemo, namun tak juga muncul ketika ada aksi-aksi demonstrasi di Instana Negara.

Juga komitmen Jokowi untuk memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menurut mereka tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Faktanya, BEM UI mengungkap sejumlah upaya pelemahan KPK. Mulai dari revisi UU KPK, kontroversi Ketua KPK Firli Bahuri, hingga tes alih status ASN lewat tes wawasan kebangsaan (TWK) yang membuat puluhan pegawai KPK dinonaktifkan.

“Jokowi kerap kali mengobral janji manisnya, tetapi realitanya sering kali juga tak selaras. Katanya begini, faktanya begitu. Mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, dan rentetan janji lainnya,” tulis akun tersebut, dilihat pada Ahad (27/6/2021).

“Semua mengindikasikan bahwa perkataan yang dilontarkan tidak lebih dari sekadar bentuk “lip service” semata,” imbuhnya.

BEM UI juga menyoroti pernyataan Jokowi pada Februari lalu yang mendorong revisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jika dirasa tidak memberi keadilan.

Baca Juga  Guru Besar UI: Pemerintah Belum Jalankan Komunikasi Krisis

“Namun bukannya memberikan jaminan berdemokrasi, rencana revisi tersebut kian merepresi kebebasan berekspresi dengan ditambahkannya sederet pasal karet,” ujar BEM UI.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan Jokowi yang tidak direalisasikan itu, BEM UI meminta sang presiden berhenti membual. Mereka menegaskan rakyat sudah mual.

“Stop membual, rakyat sudah mual!,” tutup BEM UI dengan tegas.

1 tindakan lebih berharga dari 1000 janji

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai kritikan mahasiswa itu tak perlu ditanggapi secara serius.

Menurut Jerry, Jokowi sebaiknya fokus saja dengan tugasnya sebagai kepala negara dan hindari membuat janji yang tak ditepati. “Ada istilah 1 tindakan lebih berharga dari 1000 janji,” ujarnya, Ahad (27/6/2021).

“Barangkali ini bagian kekecewaan kelompok BEM jadi bagi saya wajar dan ini jadi cambuk bagi pemerintahan Jokowi untuk berbenah.”

Ia mengatakan, yang dibutuhkan masyarakat sekarang concept (konsep), strategy (strategi) dan action (tindakan). “Apalagi utang kita sudah tembus Rp6.500 triliun dan menurut para pakar ekonomi Jokowi bisa wariskan Rp10.000 triliun.

“Ini masukan yang baik harus ditanggapi dengan kepala dingin. Mahasiswa sekarang lebih peka dengan kondisi lapangan ingat mereka punya catatan dalam reformasi jadi mahasiswa punya andil besar dengan tewasnya 5 mahasiswa Trisakti,” katanya.

Bentuk kritik terhadap pemerintah

Baca Juga  Pendidikan Reguler LIX Seskoad TA. 2020 Resmi Dibuka Melalui Vicon

Senada, pengamat politik Ujang Komarudin menilai kritikan dari BEM UI itu sebagai bentuk sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah.

“Siapapun mesti berani mengkritik pemerintah, termasuk mengkritik presiden. Karena ini negara kita negara demokrasi. Apalagi mahasiswa. Mahasiswa harus berani mengkritik kebijakan yang salah dari Jokowi. Justru aneh jika mahasiswanya diam atau mati suri. Diam berarti mati, mengkritik berarti ada tanda-tanda ada kehidupan,” ujarnya.

Ujang menilai, tradisi kritik itu tradisi baik dan demokrasi. Dan mestinya dijaga dan dilestarikan di Indonesia ini. Bukan malah dibungkam. “Jika kita sama-sama menghargai demokrasi, maka kran mengkritik itu mesti dibuka selebar-lebarnya.

Sementara itu, pegiat media sosial sekaligus dosen di Universitas Indonesia yang dikenal pendukung pemerintah, Ade Armando, juga turut berkomentar terhadap postingan itu.

“Maaf ya, mereka memang masuk UI dan terpilih jadi BEM. Tapi kan memang gak ada jaminan bahwa mereka pintar,” tulis Ade Armando.

Penjelasan BEM UI

Hingga sore ini, postingan bergambar Presiden Jokowi yang nampak menggunakan mahkota berwarna merah itu telah mendapat lebih dari 19 ribu likes, dan menuai ribuan komentar warganet.

Dikonfirmasi soal postingan tersebut, narahubung yang tertera, Fathan Mubina, mengungkapkan bahwa pihaknya menilai apa yang dikatakan oleh orang nomor satu di berbagai kanal pemberitaan tidak sesuai dengan realitanya.

“Kita kan dari bidang sosial dan politik itu sendiri punya banyak isu yang perlu disikapi selaku tupoksi kita di BEM. Dan beberapa diantaranya itu ada keterlibatannya dengan presiden itu sendiri,” ujar Fathan, Ahad (27/6/2021).

Baca Juga  Bawaslu Malut Ingatkan Kampanye Bukan Ajang Saling Menyerang

“Di pemberitaan yang ada di media, apa yang dinyatakan (Presiden Jokowi) itu tidak sesuai dengan realisasinya,dan cenderung menunjukan tidak adanya keseriusan gitu dalam merealisasikan pernyataan tersebut, jadi berangkat dari keresahan itu,” timpal Fathan yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI.

Fathan mengatakan, unggahan yang kini tengah viral itu pun tidak dimaksudkan untuk menyikapi isu tertentu, melainkan ‘review’ dari berbagai pernyataan Presiden Jokowi terhadap isu-isu yang ada.

“Pun sebenarnya postingan kita tidak diniatkan sebagai menyikapi isu tertentu, yang beredar sekarang kan KPK dan sebagainya. Di sini kita hanya mereview ulang, tentang bagaimana presiden itu menyikapi berbagai isu, dan sifatnya juga sejenis kompilasi semata dari berita yang beredar seperti yang kita tampilkan di referensi, untuk kami tanggapi,” bebernya.

Ihwal viral, Fathan berujar bahwa sudah sejak lama konten yang diunggah pihaknya di sosial media akan viral ketika menyinggung pihak tertentu.https://www.youtube.com/embed/ixoAVVMcpNs

“Polanya begitu dari dulu kalau kita menyinggung pihak tertentu, publik itu kadang tidak bisa membedakan antara personal dan tanggung jawabnya. Kita tidak memojokkan Pak Jokowi secara personal tapi lebih kepada tanggung jawabnya sebagai presiden,” tuturnya.

(red/tribunnews)