Benarkah Perempuan Hanyalah “Bayangan” dalam Dunia Politik?

oleh -76 views

Oleh: Nuryanti Rasyid, Spd, Caleg Partai Gelora Kota Ternate Utara 

Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Mereka adalah simbol kekuatan dan kebijaksanaan.

Perempuan di era sekarang mampu menunjukkan kekayaan potensi, berani mengambil langkah menghadapi tantangan zaman yang begitu kompleks. Dengan kemampuan multitasking dan kemandirian memungkinkan perempuan untuk tampil sebagai inspirator, pahlawan dalam berbagai aspek kehidupan, dan ini mematahkan stereotipe gender yang membuktikan bahwa semua hal yang mereka impikan adalah mungkin dan layak diperjuangkan. 

Perempuan dan Politik

Negara menyediakan 30% ruang bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam ruang politik. Namun keterwakilan perempuan di politik masih minim dan jauh dari harapan. Perempuan pun dianggap tidak memiliki kemampuan secara kapital, secara sosial dan hanya untuk memenuhi kuota perempuan di parlemen.

Hal ini menjadi tantangan untuk para caleg perempuan menjawab keraguan di mana harus menunjukkan dan membuktikan diri mereka punya kemampuan yang tidak hanya sekedar untuk penuhi kuota.

Kualitas lebih penting dari gender 

Penulis membayangkan ketika parlemen diisi oleh perempuan, maka secara otomatis peran perempuan yang dilabeli dengan peran domestik akan berubah dan mencegah ketimpangan perempuan dan dampak terhadap kebijakan yang tidak mengakomodasi hak perempuan.

Dilema Rousseff,  Presiden perempuan pertama di Amerika Selatan dalam pidato kemenangannya di pemilu Oktober 2010 mengatakan : “saya ingin orang tua yang memiliki anak perempuan memberitahu anaknya, “ya…perempuan bisa”

Baca Juga  Minat Tinggi Sepanjang Hari, Suzuki Tuai Atensi Positif Pengunjung IIMS 2024

Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia adalah presiden perempuan pertama Afrika yang terpilih pada tahun 2005, membawa sisi sensitivitas keibuannya dalam memimpin. 

Engela Merkel, Kanselir Jerman dalam sebuah wawancara 2010 pada TIME, mengatakan “dia memiliki keyakinan, saya tidak pernah meremehkan diri sendiri “

Islam tidak melarang perempuan berpolitik 

Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan persamaan di antara manusia baik laki-laki maupun perempuan . Yang menjadi perbedaan di antara manusia hanyalah nilai iman dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Demikian yang ditegaskan dalam QS. Al-hujurat (49) :13. Ayat ini tidak membedakan-bedakan manusia atas dasar jenis kelamin, suku bangsa, kelompok tertentu. Akan tetapi menjadi ukuran perbedaan manusia di hadapan Allah hanyalah derajat ketakwaannya kepada Allah.

Islam tidak melarang perempuan untuk aktif dalam bidang politik. Karena pada masa Nabi SAW, kaum perempuan juga ikut terlibat dalam melakukan berbagai aktivitas politik. Seperti yang diceritakan dalam hadits diantaranya: (1) Ikut berhijrah ke Habasyah bersama Nabi dan kaum laki-laki. (2) ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi dan kaum laki-laki.

Peran perempuan sangat penting dalam aktivitas politik di masa Rasulullah. Memang di masa Rasulullah perempuan tidak dibolehkan memegang jabatan misalnya Gubernur, Pemimpin perang, tetapi dibolehkan mengutarakan pendapat, mendapat kedudukan di pemerintah (bukan penguasa wilayah), menjadi Hakim, Kepala Departemen, hingga anggota majelis. Perempuan juga boleh terjun ke politik, dengan memberikan suara saat pemilihan khalifah. 

Baca Juga  Pastikan PSU Berjalan Aman, Kapolres Ternate Cek Anggota Pengamanan TPS

Perempuan yang terlibat dalam politik masa Rasulullah SAW:

1. Khadijah Binti Khuwaillid, istri pertama Rasulullah, Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah, Khadijah adalah orang pertama yang beriman. Khadijah menunjukkan dukungan secara total, hingga rela mengorbankan hartanya untuk dakwah Islam. Selain sebagai istri, dengan kemampuan diplomasi Khadijah juga memegang peranan sebagai penasehat Rasulullah.

2. Fatimah Binti Khattab, saudara perempuan Umar bin Khattab yang menjadi jembatan Umar bin Khattab mendapat hidayah.

3. Aisyah Binti Abubakar, istri Rasulullah yang sering mendampingi dalam perjalanan dakwah. Memiliki kepribadian yang kuat, pengetahuan dan kecerdasannya dalam menyampaikan gagasan, ide, dalam urusan kenegaraan. Aisyah adalah salah satu perempuan penghafal hadits terbanyak, pengetahuannya yang luas tentang hukum syariat dan hadits. Diketahui Aisyah RA telah meriwayatkan 2210 hadits Nabi SAW, dengan menceritakan sunnah dan praktik sehari-hari beliau. Hadits yang diriwayatkan Aisyah RA ini menjadi sumber utama bimbingan bagi kaum muslim selain dari Al-Qur’an.

4. Shafiyyah Binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah di kenal sebagai perempuan pemberani yang berperan besar dalam perang uhud.

Baca Juga  Gunung Ibu Erupsi pada Minggu Malam

5. Nusaiba Binti Ka’ab Al-Anshariyyah. Nusaiba RA diingat sebagai perempuan tangguh. Ia ikut terjun dalam perang Uhud dengan membawa pedang dan perisai untuk melawan orang kafir.

6. Ummu Amara, orang yang paling awal memeluk agama Islam. Ia merupakah salah satu sahabat Nabi SAW yang diketahui begitu setia kepada beliau. perempuan yang melindungi Rasulullah dari serangan pasukan kafir Quraisy sehingga menderita luka di sekujur tubuh.

Jadi yang dimaksud posisi wanita dalam sistem politik adalah bagaimana kedudukan wanita itu dalam hal keterlibatannya pada proses yang berjalan terkait dengan penyelenggaraan negara atau sistem pemerintahan.

Mengingat semakin seriusnya kondisi sosial pada masa kita sekarang ini yang menuntut semakin ditingkatkannya partisipasi perempuan dalam bidang sosial politik, dan profesi, maka kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang telah digariskan haruslah menjadi pengatur kondisi tersebut. Dan di antara hasil dari keterlibatan dalam kehidupan sosial tersebut adalah semakin matangnya cara berfikir dan  melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “wanita adalah guru dunia, dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya, dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya,” (Hasan Al-Banna).

#perempuanpejuangcahaya

No More Posts Available.

No more pages to load.