Berpotensi Perang, Serangan Trump ke Iran Terjadi Tanpa Izin Kongres

oleh -124 views
Link Banner

Porostimur.com | Washington DC: Serangan militer Amerika Serikat terhadap Jenderal Qassem Soleimani di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Jumat pagi (3/1) terjadi tanpa izin dari Kongres. Pemimpin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tersebut meninggal dunia bersama dengan komandan milisi Irak (PMF) bernama Abu Mahdi al-Muhandis.

Peristiwa ini sangat berpotensi menimbulkan perang antara kedua negara dan memperburuk kondisi di Timur Tengah. Apalagi Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, menegaskan bahwa Amerika Serikat harus bertanggung jawab atas “aksi terorisme internasional” yang membunuh jenderal elitnya itu.

Dalam Konstitusi Amerika Serikat, setiap aksi perang yang dilakukan oleh pemerintah dan militer wajib mendapatkan lampu hijau dari Kongres. Akan tetapi, ini tidak terjadi padahal serangan tersebut diperintahkan oleh Presiden Donald Trump dan tanpa asesmen jelas mengenai justifikasi serta konsekuensinya.

Baca Juga  Danrem 151/Binaiya tatap muka dengan insan pers

Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat mempertanyakan ini dalam cuitannya. “Soleimani adalah musuh Amerika Serikat. Ini bukan pertanyaan,” tulisnya.

“Pertanyaannya adalah — seperti banyak dilaporkan, apakah Amerika baru saja membunuh, tanpa izin Kongres apa pun, orang paling kuat kedua di Iran, dengan mengetahui bahwa ini bisa memulai perang kawasan?”

Pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh Perwakilan Independen di Kongres, Justin Amash, lewat Twitter. Menurutnya, kematian Soleimani akan berdampak terhadap warga Amerika Serikat, terutama yang berada di Timur Tengah, karena Iran hampir bisa dipastikan melakukan aksi balas dendam.

“Ada alasan mengapa Konstitusi kita mengamanahkan kepada Kongres sebuah wewenang untuk mendeklarasikan perang: Setiap orang Amerika mungkin terdampak oleh konflik kekerasan. Soleimani adalah iblis. Namun, sistem kita memerintahkan adanya izin untuk perang dari rakyat, yang mengambil keputusan melalui perwakilan dan senator mereka di Kongres,” cuitnya.

Perpecahan di Capitol Hill pun terjadi setelah beberapa anggota Partai Republik menyatakan sebaliknya dan mendukung tindakan Trump. Pemimpin minoritas Partai Republik di DPR, Kevin McCarthy, menilai apa yang dilakukan Trump adalah sikap berani.

Baca Juga  Cari Tahu Manfaat Tanaman Jarak serta Cara Atasi Stroke

“Soleimani adalah seorang teroris. Presiden Trump dan anggota militer kita yang berani baru saja mengingatkan Iran–dan dunia–bahwa kita takkan membiarkan serangan terhadap warga Amerika Serikat,” tulisnya melalui Twitter.

“Ini sangat sederhana: Jenderal Soleimani mati karena dia adalah iblis kejam yang membunuh orang Amerika Serikat. Presiden membuat keputusan yang berani dan tepat, dan warga Amerika Serikat semestinya bangga kepada para anggota militer kita yang menyelesaikan tugas tersebut,” cuit Senator Ben Sasse.

“Aksi terorisme internasional yang dilakukan Amerika Serikat, menargetkan dan membunuh Jenderal Soleimani — orang paling efektif dalam memerangi Daesh (ISIS), Al Nusrah, Al Qaeda dan sebagainya — sangat berbahaya dan adalah eskalasi yang ceroboh. Amerika Serikat bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari petualangan liar ini,” tulis Zarif lewat Twitter.

Baca Juga  Patroli Harkamtibmas di Namlea, Brimob Imbau Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Sementara itu, Trump mengunggah sebuah foto bendera Amerika Serikat melalui akun Twitter pribadinya menyusul kematian Soleimani yang dilaporkan melibatkan sejumlah rudal militer Negeri Paman Sam. Banyak pihak menilai ini adalah tindakan provokasi dari Amerika Serikat. Apalagi di Iran, Soleimani kerap diasosiasikan sebagai pahlawan dan kebanggaan negara. (red/rtm)