Bertepuk Sebelah Tangan

oleh -62 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Penelit Masalah Sosial dan Politik

Kata seorang teman saya, orang-orang Kristen di Indonesia adalah manusia yang paling toleran. Tidak peduli apakah dia Protestan. Apalagi Katolik. Sangat toleran.

Mereka hanya akan tertawa kalau Yesus-nya diejek, dicerca, atau dihancurkan. Hanya menatap sedih kalau mendengar tidak boleh bangun gereja di sana dan di sini.

Dalam hal agamanya sendiri, kalangan Kristen sangat toleran. Tidak mengeluh. Hanya mengelus dada. Atau bahkan kebanyakan tidak peduli.

Sedikit sekali yang peduli ketika Pdt. Yeremias Zanambani ditembak bulan lalu. Pdt. Yeremias Zanambani adalah penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Moni. Dia ditembak di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Segelintir elit gereja Protestan bersuara. Namun sebagian besar pendeta, pastor, ataupun umat Kristen diam dan tidak ambil pusing.

Baca Juga  Polres SBB Gelar Safari Jumat di Dusun Talaga

Tapi, urusan menjadi lain, kalau sudah sampai pada soal Jokowi. Mereka berani pasang badan, bahkan mungkin tidak sedikit yang berani pasang nyawa juga. Sosial media mereka riuh rendah menanggapi apa saja yang diumpan oleh pembela Jokowi. 92% pemilih Kristen memilih Jokowi.

Melihat fanatismenya, mereka ini adalah ‘base’ pendukung Jokowi. Secara sepintas saja, di lini masa saya, saya bisa melihat pembelaan terhadap Jokowi dilakukan dengan kegigihan hidup mati.

Mereka juga dengan rajin dan gigih mengkampanyekan Omnibus Law. Mengulangi semua ‘talking points’ dari penguasa dan pembela-pembelanya tentang betapa cemerlang masa depan Indonesia dengan Omnibus Law ini.

Kadangkala para pemuja gigih ini agak kendor. Tapi agaknya ada pihak yang tahu persis bagaimana menghidupkannya. Bangkitkan saja, FPI, PA 212, Rizieq Shihab atau Anies Baswedan, mereka akan bangkit kembali dan termobilisasi.

Baca Juga  Belum 24 Jam, Petisi Pemuka Agama Tolak UU Cipta Kerja Diteken 700.000 Orang

Makanya, kadang saya berpikir, jangan-jangan demo FPI dan PA 212 yang kempes kemarin itu sebenarnya tidak untuk anti Omnibus Law (OBL), tapi picu untuk memobilisasi kaum pendukung OBL, yang kaum Kristen banyak sekali didalamnya. Ini mungkin pikiran konspiratif. Tapi saya lihat sesudah demo itu, pendukung Jokowi dari kalangan Kristen itu langsung bangkit.

Nah, soalnya kemudian adalah, seperti orang jatuh cinta, apakah cinta habis-habisan ini berbalas?

Kalau melihat dari kasus-kasus diskriminasi yang dialami oleh orang Kristen, menurut saya, tidak ada perubahan yang signifikan di masa Jokowi ini. Administrasi ini tidak terlalu peduli dengan apa yang menimpa kaum Kristen. Juga, administrasi ini terkenal dengan mati rasanya kalau sudah berhadapan dengan soal-soal HAM dan keadilan.

Tapi sangat bergairah kalau sudah bicara soal duit. Pokoknya duit, khususnya investasi, akan bikin bangsa ini makmur dan bahagia.

Baca Juga  Belum Menang di 23 Balapan, Ini Permintaan Rossi untuk Yamaha

Apa artinya ini? Artinya, cinta ini bertepuk sebelah tangan. Dan, tangan sebelah ini masih sangat rajin menepuk angin. Tidak menghasilkan tepukan. Namun minimal sedikit memberi kesejukan untuk diri sendiri. Bukankah menepuk angin adalah juga berkipas? Walau cinta tak berbalas, angin itu sedikit menyejukan.

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Tuhan yang menjadi hak Tuhan.” Dalam situasi kontemporer, Kaisar sudah diperlakukan sebagai Tuhan. Seluruh hak Tuhan sudah diberikan kepada Kaisar.

Sejuk dan tenteram mengabdi pada sang Kaisar dan meninggalkan Tuhan dicaci sendirian. Eh, itu tidak terjadi 2,000 tahun lalu. Itu terjadi sekarang! (*)