Blok Masela Beroperasi, Maluku-MTB Siapkan Kuda-Kuda

oleh -99 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

@Porostimur.com | Ambon : Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku dan Pemerintah Kabupaten  Kepulauan Tanimbar (KKT), sudah harus menyiapkan kuda-kuda menyongsong pengelolaan gas alam cair abadi Blok Masela.

Apalagi,  POD Blok Masela telah disetujui oleh Presiden RI, Ir Joko Widodo, bulan kemarin.

Alhasil, Pemprov Maluku dan Pemkab KT pun menggelar rapat koordinasi dlam rangka mensinkronisasikan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung pengelolaan gas alam dimaksud.

Link Banner

Hal ini ditegaskan Bupati Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon,SH,MH, kepada wartawan, usai menghadiri rakor dimaksud, di Kantor Gubernur Maluku, Selasa (13/8).

”Yang pertama, setelah POD disetujui oleh bapak presiden, kemudian SKK Migas dan Inpex sudah menyurati pemerintah daerah, dalam hal ini bapak gubernur dan saya. Meereka meminta untuk menyediakan lahan seluas 1500 hektar. Mengingat kewenangan bupati itu hanya lima hektar, maka saya laporkan ke bapak gubernur. Dan bapak gubernur sudah menyampaikam ke saya untuk segera amankan lahan seluas 1500 hektar. Dan lahan itu ada di Kecamatan Tanimbar Selatan. Dan kita pastikan mengenai ketersediaan lahan itu tidak ada masalah karena didukung oleh bapak gubernur dan saya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar selaku pelaksana atas arahan bapak gubernur,” ujarnya.

Baca Juga  No Time to Die Segera Rilis, Hans Zimmer Ganti Komposer

Menindaklanjuti langkah tersebut, baik pihak Inpex maupun SKK Migas, akunya, juga sedang melakukan sosialisasi tentang analisa dampak lingkungan (Amdal).

Dimana, sosialisasi dilakukan berjenjang dimulai dari tingkat provinsi, kabupate khususnya ke areal ring dua hingga ring satu yang bersentuhan langsung dengan spot produksi gas alam cair abadi Blok Masela.

”Yang kedua, saat ini mereka sementara melaksanakan Amdal. Sosialisasi Amdal kan sudah dilakukan di Ambon tanggal 6 dan kemudian dilanjutkan tanggal 8 kemarin di Saumlaki. Di Saumlaki sosialisasinya lebih detail, karena datang ke kampung-kampung, desa-desa yang berdampak langsung seperti Lermatang, Bomaki, Latdalam, kemudian sosialisasinya melebar sampai ke ring dua. Ring dua itu Lorulong, Tumbur dan desa-desa lain sekitarnya. Hari ini mereka masih melakukan sosialisasi di beberapa desa yaitu ring satu,” jelasnya.

Bukan hanya sosialisasi, jelasnya, masih ada tenaga kerja lokal yang akan terserap oleh mega proyek dimaksud.

Karena itu, pihaknya harus mendiskusikan tentang penyiapan tenaga kerja mumpuni dalam pekerjaan dimaksud.

”Kemudian ini yang bapak gubernur dengan saya diskusikan untuk kita segera bicarakan dengan Inpex dan SKK Migas, menyangkut dengan penyiapan tenaga kerja. Penyiapan tenaga kerja tentu ini bukan saja dari Tanimbar, tapi juga dari kabupaten/kota lain yang ada di Provinsi Maluku. Melalui program BLK maupun mengirim lulusan SMA ke Blok Cepu mengikuti perkuliahan di bidang migas di sana selama empat tahun program S1. Saat ini kita sudah ada sekitar 85 orang yang dikirim ke Cepu, khususnya dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Baca Juga  Ratusan WNI di Amerika Serikat Berikan Dukungan untuk Papua

Kemudian kita juga membicarakan tentang bagaimana kontraktor lokal diberdayakan. Nanti ketika proyek besar ini beroperasi melalui BUMD. BUMD baik BUMD yang dibentuk oleh bapak gubernur, Maluku Energy maupun Tanimbar Energy. Kita kan berkolaborasi. BUMD Maluku Energi sebagai payung, kemudian Tanimbar Energi sebagai BUMD operasional di Tanimbar,” terangnya.

Selain sisi lingkungan dan tenaga kerja, terangnya, masih ada dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi pekerjaan dimaksud.

Dimana, keterlibatan perusahaan besar sekelas Inpex mampu mendongkrak ekonomi sebuah wilayah, namun tetap harus bercirikhaskan daerahnya sendiri.

”Kemudian yang kita bicarakan juga adalah program sesar dari Inpeks Blok Masela. Hari ini kita minta supaya nanti disinkronisasikan. Maka kita harapkan keterlibatan Dinas Koperasi dan UKM termasuk Dinas Perdagangan, sehingga tidak saja tenun yang diproduksikan sesudah itu para penenun mencari pasar sendiri. Tapi kita diskusikan sampai bagaimana pangsa pasarnya itu juga harus kita rebut. Karena itu, libatkan Dinas Perdagangan itu dari soal sesar. Yang berikut tentang multi plier efek lain yang akan timbul karena itu kita menyiapkan masyarakat untuk menjadi petani profesional. Tidak lagi seperti dulu yang tanam jagung hanya untuk makan atau tanam bawang merah hanya untuk kebutuhan dapur. Tetapi, saat ini tanam bawang merah itu sudah harus untuk kebutuhan dalam daerah dalam jumlah yang besar. Jadi kita latih masyarakat untuk bertani secara profesional. Kalau mau tanam bawang ya tanam tiga sampai lima hektar. Supaya nanti bisa sukses karena bawang merah. Kalau mau tanam kacang ijo jangan saja kebun seluas 20×20 meter, tapi diharapkan tiga sampai lima hektar pula. Sehingga, produksi kacang ijo itu bisa berton-ton dan mampu menjawab kebutuhan puluhan ribu tenaga kerja yang bakal beroperasi di Blok Masela,” pungkasnya. (keket)