BMKG: Awal Musim Hujan Mundur dan Jumlah Hari Hujan Makin Sedikit

oleh -7 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Pada akhir Maret 2020, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa awal musim kemarau di Indonesia bervariasi, sebagian besar dimulai bulan Mei hingga Juni 2020.

Hasil pemantauan perkembangan musim kemarau hingga akhir Agustus 2020 menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia sudah mengalami musim kemarau.

Namun, datangnya musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Timuran yg bertiup dari Benua Australia (Monsun Australia) menjadi Angin Baratan yang bertiup dari Benua Asia (Monsun Asia).

Deputi Klimatologi BMKG, Herizal menambahkan bahwa peralihan angin monsun diprediksi akan dimulai dari wilayah Sumatra pada Oktober 2020, lalu wilayah Kalimantan, kemudian sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara pada November 2020.

Link Banner

“Akhirnya Monsun Asia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Desember 2020 hingga Maret 2021,” kata Herizal, dikutip dari CNNIndonesia.com.

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 34,8 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada bulan Oktober 2020, yaitu di sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Sebanyak 38,3 persen wilayah akan memasuki musim hujan pada bulan November 2020, meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sementara itu 16,4 persen di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT dan Papua akan masuk awal musim hujan di bulan Desember 2020.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis awal musim hujan (periode 1981-2010), maka Awal Musim Hujan 2020/2021 di Indonesia diprakirakan mundur pada 154 ZOM (45 persen), SAMA dengan normal pada 128 ZOM (35 persen), dan MAJU pada 68 ZOM (20 persen).

Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim hujan (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi musim hujan 2020/2021 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 243 ZOM (71 persen).

Namun sejumlah 92 ZOM (27,5 persen), akan mengalami kondisi hujan ATAS NORMAL (musim hujan lebih basah), yaitu curah hujan musim hujan lebih tinggi dari rerata klimatologis) dan 5 ZOM (1,5 persen) akan mengalami bawah normal (musim hujan lebih kering), yaitu curah hujan lebih rendah dari reratanya).

Baca Juga  Kasus di Lembantongoa, Setara Desak Satgas Tinombala Optimalkan Sisa Masa Tugas

Dahulu, musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia rutin dimulai pada September, kini musim hujan baru mulai mengguyur pada Oktober, November bahkan Desember.

Proporsi bulan basah dan kering juga tidak lagi seperti dulu. Jumlah hari hujan tahunan di Indonesia berangsur-angsur berkurang.

Dalam kurun waktu 2014-2018, BPS melalui “Statistik Lingkungan Hidup” yang dipublikasi pada tahun 2015 dan 2019 melaporkan, rata-rata hari hujan di seluruh provinsi di Indonesia berkurang 50 hari dari yang semula 179 hari pada 2014 menjadi 129 hari selama 2018.

Jika dirunut per tahun, rata-rata jumlah hari hujan di Indonesia terus-menerus berkurang setiap tahunnya kecuali pada 2016.

Pada tahun itu, jumlah hari hujan di Indonesia mencapai 216 hari atau bertambah 72 hari dari tahun sebelumnya yakni 144 hari.

Selama itu juga hanya ada satu provinsi yang mengalami peningkatan hari hujan yakni Sumatra Barat dari 163 hari hujan sepanjang 2014 menjadi 187 hari atau bertambah 28 hari.

Sedangkan, penurunan rata-rata jumlah hari hujan yang paling signifikan dialami Sulawesi Tengah dengan 94 hari. Disusul Maluku Utara dan Jawa Barat yang masing-masing mengalami penurunan hari hujan sebanyak 85 dan 83 hari.

Dilihat per pulau, Jawa menjadi pulau dengan penurunan hari hujan paling ekstrem di antara pulau besar lainnya. Dalam kurun waktu 2014-2018, rata-rata jumlah hari hujan di Pulau Jawa telah berkurang 72 hari.

Fenomena perubahan pola cuaca ini merupakan indikasi nyata terjadinya perubahan iklim di Indonesia. Iklim sendiri merupakan rata-rata peristiwa cuaca di suatu wilayah tertentu dalam variasi waktu yang cenderung lama. Sementara cuaca merupakan gejala alam yang terus terjadi dan berubah dalam waktu yang lebih singkat.

Baca Juga  Hadiri Aksi Bela Aqidah Di Ternate, Kapolda Janji Usut Hingga Tuntas Para Pelaku

Bisa dikatakan, perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang terhadap pola cuaca. Walhasil, perubahan iklim akan menghasilkan pola cuaca baru yang akan bertahan lama baik dalam puluhan, ratusan hingga jutaan tahun.

Dilansir dari Tirto.id, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perubahan ini disebabkan oleh aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti yang dilansir Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim (PPI).

Sejak dimulainya revolusi industri, hampir segala aktivitas manusia melepaskan dan meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, nitrogen, dan sebagainya yang kemudian mengubah komposisi atmosfer global.

Kemudian bumi berangsur-angsur memecahkan rekor suhu terpanasnya setiap tahun.

Analisis independen National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration Amerika Serikat atau NASA mencatat, suhu global tahunan telah meningkat rata-rata 0,7 derajat Celcius per dekade sejak 1880 dan terus mencapai dua kali lipat atau 0,18 derajat Celcius sejak 1981.

Tahun lalu, suhu permukaan global tahunan 2019 menjadi yang terhangat kedua dalam kurun waktu 140 tahun terakhir, atau sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1880.

Tahun 2019, suhu permukaan laut dan daratan global dilaporkan meningkat 0,95 derajat Celcius.

Angka ini hanya 0,04 derajat lebih rendah dari rekor peningkatan suhu bumi tertinggi yakni 0,99 derajat Celcius pada 2016 yang menjadi tahun terhangat di bumi.

Sebelum itu, rekor tahun terhangat kedua dipegang oleh 2015 dengan peningkatan suhu global mencapai 0,93 derajat Celcius. Sejak 2015 juga bumi terus mencatatkan lima tahun terpanasnya dalam rekor 1880-2019.

Pola yang sama terjadi di Indonesia, 2019 juga menjadi tahun terpanas kedua yang dialami masyarakat Indonesia. Data observasi stasiun pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan, anomali suhu pada 2019 mencapai 0,58 derajat Celcius dari rata-rata periode normal (1981-2010).

Pada tahun itu juga, seluruh provinsi di Indonesia kecuali Bali mencatatkan anomali positif dengan nilai anomali tertinggi 1,13 derajat Celcius di Kepulauan Riau dan 1,03 derajat Celcius tercatat di Banten. Sedangkan 31 provinsi lainnya mencatatkan anomali positif dibawah 1 derajat Celcius.

Baca Juga  Dalami 15 Terperiksa, KPK Kantongi Nama Sejumlah Politisi dan Pejabat

Layaknya fenomena peningkatan suhu global tahunan, BMKG juga mencatat tahun terpanas di Indonesia terjadi pada 2016 dengan nilai anomali sebesar 0,8 derajat Celcius.

Tahun 2020, Indonesia kembali mengalami peningkatan suhu. Berdasarkan data pengamatan BMKG, suhu rata-rata September 2020 mencapai 27,2 derajat Celcius atau meningkat 0,6 derajat Celcius dari suhu September pada periode normal yakni 26,6 derajat Celcius.

Bukan hanya Indonesia, suhu global juga dihadapkan dengan risiko serupa. Secara keseluruhan, suhu permukaan global pada September 2020 sendiri menjadi September terpanas dalam catatan. Apablia diruntut dari Januari tahun ini, NOAA mencatat adanya peningkatan suhu rata-rata 1,02 derajat Celcius di sebagian besar daratan dan lautan global.

Eropa, Teluk Meksiko dan Asia tercatat mengalami periode Januari-September terpanas dalam sejarah. Di Eropa, suhu tahunan mencapai 2,12 derajat Celcius. Ini merupakan pertama kalinya suhu Januari-September di Eropa melebihi angka 2,0 derajat Celcius.

Asia juga mencatatkan rekor baru, suhu Januari-September 2020 meningkat 2,30 derajat. Angka ini 0,30 derajat lebih tinggi dari suhu periode Januari-September pada 2016 yang merupakan tahun terpanas.

Rekor suhu terhangat Januari-September juga diamati terjadi di Kawasan Asia tepatnya, sebagian besar Asia Utara di mana suhu tercatat mencapai 3 derajat Celcius di atas normal. Sementara di Teluk Meksiko, suhu pada periode itu dilaporkan meningkat 0,93 derajat Celcius.

Menurut Pusat Data Oseanografi Nasional NOAA, angka-angka tersebut memungkinkan 2020 berakhir sebagai tahun terpanas dalam catatan dengan tingkat persentase kemungkinan yang cukup tinggi yakni 65 persen.

Jika pun prediksi ini meleset, dapat dipastikan 2020 akan menggeser 2019 sebagai tahun terpanas kedua sejak 1880. (red/tirto/telisik)