BNPB Gali Sejarah Tsunami 80 Meter yang Melanda Ambon Tahun 1674

oleh -68 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan workshop dan kunjungan lapangan untuk pengembangan sistem literasi sejarah kebencanaan di Provinsi Maluku pada Rabu-Kamis (21-22/10/2020).

Kunjungan lapangan dilakukan tim literasi untuk menggali informasi sejarah kebencanaan di Provinsi Maluku yang dilakukan di 3 tempat, yaitu Perpustakaan Rumphius, Perpustakaan Daerah Provinsi Maluku, dan Benteng Amsterdam.

Perpustakaan Rumphius, diambil dari nama seorang ilmuwan, ahli Botani yang selama 50 tahun mengabdikan hidupnya untuk meneliti kekayaan alam Maluku yakni Georg Eberhard Rumphius.

Dalam perpustakaan ini tersimpan sekitar 10.000 literatur sejarah dari buku ensiklopedia tua, peta Indonesia yang masih dibuat dengan bantuan kompas, buku seri internasional, dan buku-buku terkait sejarah kejadian bencana di Maluku.

Dalam salah satu karyanya, Rumphius mengisahkan, Ambon dan pulau sekitarnya pernah mengalami bencana tsunami terbesar dalam sejarah perjalanan Nusantara yang terjadi pada 17 Februari 1674.

Baca Juga  Temui Uskup Mandagi, Kapolda Maluku Minta Doa dan Dukungan

Tsunami dengan ketinggian lebih dari 80 meter tersebut meluluhlantahkkan setidaknya 13 desa berdasarkan “Waerachtigh Verhael van der Schierlijke Aerdbevinge” (Kisah Nyata tentang Gempa Bumi yang Dahsyat) oleh Rumphius di antaranya Larike, Nusatelo, Orien, Lima, Seyt, Hila, Hitu Lama, Mamala, Thiel, Seram kecil, Oma Honimoha, Nusa Laut, Paso Baguala yang berada di Pulau Ambon, dan Seram.

“Kejadian ini menyebabkan 2.322 orang meninggal dunia. Benteng Amsterdam yang berada di Desa Hila merupakan bukti sejarah dari dahsyatnya bencana tersebut yang menyebabkan bangunannya mengalami kerusakan parah,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam siaran pers yang diterima Porostimur.com, Jumat (23/10/2020).

Workshop Sistem Literasi Sejarah Kebencanaan ini dihadiri secara fisik oleh BPBD Provinsi Maluku, Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Maluku, BPBD Kota Ambon, BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat, BPBD Kabupaten Maluku Barat Daya, dan BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur. Selain itu, workshop dihadiri secara daring oleh perwakilan dari UPN Veteran Yogyakarta, TDMRC Universitas Syiah Kuala, U-INSPIRE, dan CARI.

Baca Juga  Kota Ambon Masuk API 2020, Loppies: Ini Akan Menjadi Motivasi

Direktur Sistem Penanggulangan Bencana, Udrekh dalam pembukaannya menyampaikan, literasi kebencanaan adalah pengalaman berharga yang menjadi landasan ilmu pengetahuan dimasa depan. Udrekh menambahkan, arsip perlu dikumpulkan dan disimpan sehingga nantinya menjadi perpustakaan yang dapat digunakan bangsa Indonesia dan dunia.

“Upaya ini harus dikelola dengan baik dan didiseminasikan ke seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengetahuan kita bersama di masa depan,” tegasnya.

Senada hal tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Maluku, John M Hursepuny mengatakan, bagai 2 sisi mata uang, Maluku selain dikenal memiliki potensi sumber daya alam dan rempah-rempah yang memikat bangsa asing, provinsi ini juga memiliki berbagai ancaman bencana baik geologi msupun hidrometeorologi.

Baca Juga  Lantamal IX Berbagi dan Peduli Covid-19

“Ancaman bencana hidrometeorologi sering terjadi, namun dampak bencana yang besar disebabkan oleh bencana geologi,” kata John.

Tercatat beberapa gempa besar dan tsunami pernah terjadi di Maluku ini menyadarkan untuk hidup berdampingan dengan risiko bencana yang tinggi. (red)