BPS: Realisasi Panen Padi di Maluku Tahun 2021 Menurun

oleh -45 views
Link Banner

Porostimur.com, Ambon – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Asep Riyadi, S.Si, MM, mengatakan, realisasi panen padi di provinsi Maluku sepanjang Januari hingga Desember 2021 sebesar 28,32 ribu hektar, atau mengalami penurunan sekitar 0,35 ribu hektar (1,21 persen) dibandingkan 2020 yang mencapai 28,67 ribu hektar, berdasarkan hasil Survei KSA.

Menurut Asep, puncak panen padi pada tahun 2021 mengalami pergeseran dibanding tahun 2020. Pada tahun 2021, puncak panen terjadi pada bulan Juni yaitu mencapai 3,51 ribu hektar, sementara puncak panen pada tahun 2020 terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 4,18 ribu hektar.

Sementara itu, luas panen padi pada Januari 2022 mencapai 2,53 ribu hektar dan potensi panen sepanjang Februari hingga April 2022 diperkirakan seluas 9,34 ribu hektar.

“Dengan demikian, total luas panen padi pada Subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 11,86 ribu hektar, atau mengalami penurunan sekitar 0,05 ribu hektar (0,4 persen) dibandingkan luas panen padi pada Subround Januari-April 2021 yang sebesar 11,91 ribu hektar, ” kata Asep Riyadi, Senin (7/3/2022) di Ambon.

Asep Riyadi bilang, produksi padi di Provinsi Maluku sepanjang Januari hingga Desember 2021 mencapai sekitar 116,80 ribu ton Gabaah Kering Giling (GKG), atau mengalami kenaikan sekitar 6,35 ribu ton GKG (5,75 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 110,45 ribu ton GKG.

Baca Juga  Kades Garojou Bagi BLT Covid 19 Tahap II

Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 14,99 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Mei yaitu sebesar 4,17 ribu ton GKG.

Berbeda dengan kondisi pada tahun 2021, produksi padi tertinggi pada tahun 2020 terjadi pada bulan Agustus

Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2021 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, dan Kepulauan Tanimbar. Disisi lain, beberapa kabupaten/kota mengalami peningkatan produksi padi yang relatif besar, misalnya di Kabupaten Buru.

Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Buru, Maluku Tengah, dan Seram Bagian Timur. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah ialah Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara, dan Kepulauan Tanimbar.

Tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada Januari hingga April 2022 adalah Buru, Maluku Tengah, dan Seram Bagian Timur. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah pada periode yang sama adalah Maluku Tenggara, Tual, dan Maluku Barat Daya.

Baca Juga  Mobil Warga STAIN Terbakar di Depan MCM

Potensi kenaikan produksi padi yang relatif besar pada Subround Januari–April 2022 dibandingkan Subround yang sama pada 2021 terjadi di Buru dan Maluku Tengah. Sementara itu, potensi penurunan produksi padi pada Subround Januari–April 2022 yang relatif besar terjadi di Seram Bagian Timur dan Seram Bagian Barat.

Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2021 setara dengan 65,41 ribu ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 3,56 ribu ton (5,76 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 61,85 ribu ton.

Produksi beras tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 8,18 ribu ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada bulan Mei yaitu sebesar 2,34 ribu ton. Berbeda dengan tahun 2021, produksi beras tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan Agustus.

Pada Januari 2022, produksi beras diperkirakan sebanyak 5,70 ribu ton beras dan potensi produksi beras sepanjang Februari hingga April 2022 ialah sebesar 21,42 ribu ton.

Dengan demikian, potensi produksi beras pada Subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 27,11 ribu ton beras atau mengalami penurunan sebesar 0,15 ribu ton (0,56 persen) dibandingkan dengan produksi beras pada Januari-April 2021 yang sebesar 27,26 ribu ton beras.

Baca Juga  Tenaga IT Siap, Pemkot Ambon Segera Operasikan Command Center

Dikatakan, sejak tahun 2018, BPS menggunakan metode KSA untuk penghitungan luas panen padi. Luas panen
padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT dan BPS.

Metodologi KSA telah mendapat pengakuan dari LIPI. Sampai saat ini, metodologi KSA menggunakan 25.347 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300 m X 300 m (9 hektar) dengan lokasi yang
tetap.

Setiap bulan, masing-masing sampel segmen diamati secara visual di sembilan titik dengan menggunakan HP berbasis android sehingga dapat diamati kondisi pertanaman di sampel segmen tersebut (persiapan lahan, fase vegetatif, fase generatif, fase panen, lahan puso/rusak, lahan pertanian ditanami bukan padi, dan lahan bukan pertanian).

Hasil amatan kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah. Pengamatan yang dilakukan
setiap bulan memungkinkan perkiraan potensi produksi beras untuk 3 bulan ke depan dapat disediakan sehingga dapat digunakan sebagai basis perencanaan tata kelola beras yang lebih baik.

Saat ini, total titik amatan Survei KSA dalam satu bulan mencapai 228.123 titik amatan. (Keket)