Cari Solusi untuk Kemajuan Usaha Pertanian, Bupati Morotai Gelar Dialog dengan Petani

oleh -42 views
Link Banner

Porostimur.com | Daruba: Bupati Morotai, Benny Laos menggelar dialog dengan petani sawah di Aha, Morotai Selatan dan petani hortikultura sayur di SP-3.

Bupati Morotai, Benni Laos melalaui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Porostimur.com, Sabtu (13/3/2021) mengatakan, lewat forum sederhana ini terungkap ragam persolan dan tantangan yang dihadapi petani serta menemukan saran pemecahan dari berbagai pihak.

“Setelah berdiskusi, saya juga sempat memanen tonat, cabe dan padi. Ini adalah panen perdana di tahun 2021,” ujarnya.

Benny Laos menjelaskan, tahun lalu, dimana Morotai dan daerah lain tengah sibuk dengan serangan awal pandemi, petani Morotai justru panen besar-besaran. Stok pangan terjaga hingga akhir tahun.

Link Banner

“Untuk mencegah kegagalan penyediaan pangan, saya ingin mendengar langsung hambatan-hambatan yang dihadapi petani,” ujarnya.

Benny Laos memaparkan, di Aha, petani menginginkan tambahan Rice Milling Unit (RMU) atau alat penggilingan padi. Di samping itu juga kebutuhan akan pelataran penjemuran. Ada pula petani yang mengeluhkan ketersediaan mesin pengering tapi tak kunjung diopersionalisasikan.

Baca Juga  51 Kali Gempa Susulan Guncang Kobisonta, Maluku Tengah

“Inilah problem grass root yang kadang menjadi bola salju jika diabaikan. Ia akan menggelinding, membesar dan membahayakan. Misalnya soal keberadaan alat pengering padi, karena tanggungjawab operasionalnya tidak jelas sehingga tidak difungsikan. Padahal alat ini sudah dimiliki BUMDES Bersama dan dibutuhkan saat panen dengan kondisi terik matahari yang minim pada beberapa pekan terakhir,” tukas Benny.

“Saya juga menerima laporan pendamping tani, bahwa petani kita masih sulit fokus dengan profesi tani. Sehingga beresiko pada kepincangan atau justru kegagalan sebuah program pertanian. Untuk itu, kami disarankan untuk membuat perjanjian kerja sama dengan petani atau kelompok tani sebelum menjalankan program pertanian,” imbuhnya.

Benny Laos menuturkan, setelah menerima masukan, dirinya langsung meminta dinas terkait untuk mengalokasikan sumberdaya/ anggaran untuk pembangunan pelataran untuk tempat penjemuran padi. Di samping itu, dirinya juga mengimbau agar mengintensifikasi RMU. Sebab jika dilihat dari kemampuan output giligan per jam berada dikisaran 0,5 hingga 1 ton per jam.

Baca Juga  BNPB Gali Sejarah Tsunami 80 Meter yang Melanda Ambon Tahun 1674

Sementara untuk antrian gabah siap giling per hari masih di antara ambang batas. Lewat pengaturan jadwal giling dan penambahan jam operasional saja sudah bisa memecah persoalan RMU.

“Saya tegaskan, jika ada alat-alat pertanian berkurang performanya atau rusak hanya karena tidak dirawat, maka pemerintah akan melakukan disinsentif bagi mereka yang lalai. Ini sekaligus pembelajaran bagi yang tidak peduli dengan aset yang dibeli menggunakan uang rakyat,” tukas Benny.

“Untuk persoalan mesin pengering, saya telah memerintahkan Kepala Dinas PMD untuk segera memanggil pengurus BUMDES Bersama agar alat itu difungsikan sesuai dengan prioritas dan kebutuhan. Saya ingin petani morotai sejahtera. Petani yang sadar akan peluang usaha pertanian. Bukan semata-mata menanam untuk dimakan sendiri. Pemerintah akan mengupayakan peningkatan usaha lewat kerja sama dengan Bank BUMN,” sambungnya.

Baca Juga  Puisi- Puisi: M. Azis Tunny

Benny Laos menambahkan, Pemda juga telah menggratiskan usaha pertanian mulai dari bongkar lahan, pemberian benih, pupuk, dan obat-obatan. Jika petani berhasil, maka kita akan memutus rantai ketergantungan pangan dengan daerah lain, meski tidak seratus persen. Setidak-tidaknya untuk komoditas tertentu yang menjadi unggulan petani Morotai. Kita juga telah memiliki pendamping tani yang setia mengarahkan cara jitu untuk berhasil dalam pertanian. (sarjan)