Cerita Millennial Lampung, Modal Nekat Ikut Indonesia Mengajar di Kepulauan Sula

oleh -92 views
Link Banner

Porostimur.com | Pringsewu: Mengabdikan diri menjadi seorang pengajar dan melakukan kegiatan sosial sudah menjadi pilihan hidup Fitri Wahyu Ningsih. Baginya hidup terasa hampa bahkan tak berguna jika harus mejalani rutinitas yang biasa-biasa saja.

Tak tanggung-tanggung, perempuan kelahiran kelahiran Pringsewu Lampung ini sudah dua kali mengabdikan diri di Indonesia bagian timur. Pertama sebagai relawan lingkungan selama satu tahun di Nusa Tenggara Timur dan yang baru saja selesai tahun ini adalah menjadi guru dari Indonesia Mengajar di Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara.

Berikut kisah Fitri saat berbagi tentang perjalanannya mengabdi di Kepulauan Sula

1. Mulanya tak berani jujur ke orangtua

Cerita Millennial Lampung, Modal Nekat Ikut Indonesia Mengajar di MalukuTak hanya mengajar di sekolah. Fitri juga aktif bersosialisasi pada masyarakat setempat (rangerfitri)

Pada saat ada pembukaan Indonesia Mengajar (IM) awal 2019 lalu, Fitri sempat ragu untuk mendaftar. Pasalnya, ia merasa sungkan meminta izin ke orangtuanya. 

Itu lantaran Fitri baru saja pulang dari NTT menjadi relawan lingkungan. Ditambah lagi statusnya sebagai anak sulung. 

Pembukaan IM pertama tak berhasil menggoyahkan hati Fitri. Dia menuruti keinginan kedua orang tuanya. Kemudian pertengahan tahun, IM kembali membuka kesempatan bagi pengajar muda yang ingin mengabdi.

Kali ini, Fitri mulai goyah. Apalagi teman-teman relawannya mulai memberi suport. 

Baca Juga  Gempa Susulan 5.6 Guncang Ambon. Gedung Kampus dan Asrama Mahasiswa IAIN Rusak

“Akhirnya aku coba daftar lagi diem-diem tanpa sepengetahuan orang tua. Kalau keterima aku ambil kalau gak ya udah,” kata alumni teknik Geofisika Universitas Lampung ini, Kamis (4/3/2021).

2. Anggaran minim tapi tetap nekat

Cerita Millennial Lampung, Modal Nekat Ikut Indonesia Mengajar di Maluku(Pm.sula)

Kabar bahagia itu pun menghampiri Fitri. Meski itu akan menjadi kabar sedih bagi kedua orangtuanya. Fitri lolos IM dan akan mengikuti pelatihan terlebih dahulu di Jakarta.

Saat itu Fitri mengaku belum berani menjawab kabar tersebut pada keluarganya. Dia bahkan berangkat ke Jakarta secara diam-diam.

Ternyata perjuangan Fitri tidak berhenti sampai pada izin orangtua saja. Biaya masih menjadi hal utama yang menjadi kendalanya.

Namun itu tak memupus semangatnya untuk bisa mengabdi ke pelosok negeri. Dia mencari pekerjaan tambahan sebagai EO acara untuk menambal keuangannya.

“Waktu itu bener-bener minim anggaran banget lah. Akhirnya temen-temen yang lain ikut bantu, Banyak hal pokoknya yang dibantu sampai aku bisa sampe Sula,” katanya..

Saat pulang dari Jakarta, Fitri baru mengatakan ke orangtua diterima IM dan akan berangkat ke Sula. Dengan berat hati orang kedua orangtua melepas kepergiannya. 

3. Bahasa jadi hal utama harus dikuasai

Sebagai guru tentu Fitri harus menjelaskan banyak hal pada anak didiknya. Namun di awal pertemuan dia sulit menyesuaikan bahasa yang digunakan masyarakat Sula.

Baca Juga  Kapolda Maluku Terima Kunjungan Silaturahmi Konfederasi Serikat Buruh Sejahterah Indonesia

“Jadi mereka berbahasa Indonesia tapi versi timur. Kaya saya sudah makan jadi su makan jadi disingkat-singkatnya terbalik terbalik. Nah mereka gak paham kalau saya jelasin pake bahasa Indonesia yang biasa kita pake gini,” terangnya.

Sehingga selama tiga bulan pertama Fitri beradaptasi bahasa dan makanan di wilayah setempat di sana yang didominasi karbohidrat.

“Pertama adaptasi makanan itu belajar makan banyak. Karena banyak karbo nya. Ada singkong, papeda, pisang nasi dan itu di makan semua. Karbonnya banyak dan sayurnya dikit,” selorohnya.

4. Menggerakkan masyarakat untuk peduli pendidikan

Cerita Millennial Lampung, Modal Nekat Ikut Indonesia Mengajar di Maluku(Pm.sula)

Selama satu tahun lebih di Sula, tugas Fitri bukan sekadar mengajar di sekolah. Tapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat. Seperti mendorong perubahan prilaku.

Sebab pendidikan di sana menurutnya masih sangat jauh kualitasnya dari pendidikan di kota-kota. Terlebih saat awal pandemik, belajar tatap muka dihentikan. 

Alhasil, tuntutan untuk belajar dalam jaringan menurutnya tak mungkin diterapkan di Sula dengan kondisi jaringan yang hanya ada di pantai dan tak semua murid memiliki gawai.

Padahal, menurutnya, saat pandemik ini guru dituntut lebih kreatif dan aktif. Kemudian peran orangtua juga ikut mengajari anaknya.

Baca Juga  Situasi Corona di Papua Barat Sangat Mengkhawatirkan

“Tapi dengan kondisi di mana orang tua aja ada yang gak bisa. Terus gurunya mau dateng ke rumah tapi anak-anak-baca udah ke hutan atau pantai. Jadi bener-bener gak belajar sampai mereka lupa cara baca ABC itu,” paparnya.

5. Ingin kembangkan mitigasi iklim di pedesaan

Cerita Millennial Lampung, Modal Nekat Ikut Indonesia Mengajar di Maluku(Pm.sula)

Selesai dari Indonesia Mengajar, Fitri meyakinkan diri akan terus berada di ranah pemberdayaan masyarakat. Namun kali ini dia ingin kembali ke desa kelahirannya dan mengambil satu bidang yang ingin dia kembangkan di desa yaitu tentang mitigasi iklim.

“Karena kita sekolah tinggi gitu gak harus kerja di kota. Peradaban kita itu dari desa loh. Tapi sangat disayangkan ketika pemahaman SDM di desa jauh di kota. Sedangkan orang-orang desa juga punya hak untuk mengembangkan orang di kota,” tuturnya. 

Selama mengabdi, menurutnya banyak nilai-nilai kehidupan yang dia dapatkan sehingga ingin terus melakukan hal-hal yang berguna bagi masyarakat.

Aku jadi ngerasa hidupku ini kaya lebih nyantai. Jauh dari persaingan dan akses informasi. Itu melatih banget buat jadi orang yang berpikir matang,” katanya. 

(red/IDNtimes)