Sepasang Sepatu Baru Raisa

oleh -41 views
Link Banner

Cerpen Karya: Heldha Safitri

Hari ini Raisa sedikit murung karena harus pindah ke Wonosobo. Padahal Raisa sudah mulai bisa merasa nyaman dan memiliki banyak teman di sekolah lamanya, SDN 9 Bogor. Dia baru satu tahun ini pidah ke Bogor. Dan baru setengah semester menjadi murid kelas 5 di sekolahnya. Tapi sayang sekali, dia harus pindah lagi karena pekerjaan papanya. Sebelumnya Raisa dan keluarganya tinggal di Kalimantan Tengah.

“Mama.. tidak bisakah aku, papa, mama dan kakak tidak pindah kota lagi. Raisa takut tidak punya teman disana, di desa juga tidak ada tempat yang bagus untuk bermain. Disini kita bisa jalan-jalan ke Ancol, Monas, Museum dan masih banyak lagi tempat yang bisa dikunjung.” Keluh Raisa pada mamanya.
“Raisa.. kita harus pindah karena pekerjaan papa mengharuskan papa berada disana.” Mama menjelaskan dengan sabar pada Raisa.
“Tapi kenapa harus pindah-pindah terus ma, Raisa sudah senang ada disini.” Raut wajah Raisa nampak makin murung.
“Nanti kalau Raisa sudah dewasa, pasti Raisa mengerti. Raisa sekarang tidak boleh sedih lagi ya. Nanti disana Raisa pasti bisa mendapatkan lebih banyak teman lagi.” Bujuk mama dengan sabar sambil kedua tangannya mengelus-elus rambut Raisa.
“Iya ma..” jawab Raisa kemudian menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan mamanya.
“Bagus, Raisa kan pintar. Nanti mama akan beri Raisa hadiah deh.” Janji mama.
“Benar ma, tapi untuk apa ma?” tanya Raisa sedikit bingung.
“Karena nilai ulangan Raisa kemaren mendapatkan 100 (seratus), juga karena Raisa mau mengerti kondisi pekerjaan papa yang harus terus-menerus pindah-pindah kota setiap saat. Papa kan kerja juga untuk Raisa, Kak Andi, juga untuk kehidupan kita semua sekeluarga.” Mama memberikan penjelasan pada Raisa.

Wonosobo tidak begitu menarik untuk Raisa, namun dia tetap berusaha tersenyum. Meski senyumannya tidak tulus dalam hati, namun dia berusaha untuk membuat mamanya tidak cemas akan dirinya.

“Terima kasih sudah datang menjengukku, apa kamu membenciku seperti teman yang lain? Karena aku sering jahat padamu dan juga teman-teman kelas.” Tanya Raisa pada Upik.
“Tidak, tidak sama sekali. Kalau aku membencimu kenapa aku harus datang menjengukmu. Apa kamu berfikir aku kesini untuk menertawaimu yang sedang berbaring tak berdaya di tempat tidurmu?” Jawab Upik tanpa ragu disertai senyuman tulus yang selalu dimilikinya.
“aku tahu kamu adalah orang baik jadi aku tidak berfikir kamu datang untuk menertawaiku. Aku senang karena bisa mempunyai teman sepertimu…”
“Oh iya, aku membawakanmu buah apel. Apa kamu mau aku mengupaskannya untukmu. Setidaknya kamu harus mencobanya. Aku memetiknya di kebunku.” Sambung Upik memutuskan kalimat Raisa, dia tidak ingin Raisa selalu merasa sedih dan merasa bersalah.
“Benarkah kalau begitu aku akan memakannya, menghabiskan semua yang kamu bawa.” Raisa merasa bahagia dengan kehadiran Upik.

Mereka berdua terlihat sangat dekat, seperti sudah lama saling mengenal. makan apel bersama, berbagi cerita satu sama lain, bercanda dan tertawa bersama. Mama Raisa yang melihat keceriaan di raut wajah mereka berdua juga ikut merasa bahagia, mama Raisa senang karena kedatangan Upik bisa membuat Raisa tersenyum. Tidak murung seperti tempo hari.

“Apa kamu merasa senang hari ini?” Tanya mama pada Raisa.
“Aku sangat senang sekali ma (tersenyum lebar). Karena ternyata masih ada yang mau berteman denganku ma, apakah aku bukan anak yang baik ma? Hingga banyak teman membenciku di kelas.”
“Menurut Raisa sendiri, bagaimana?”
“Tidak baik.” Jawab Raisa sambil menggelengkan kepalanya lemah.
“Apakah Raisa telah melakukan hal baik selama ini? Atau malah hal buruk?”
“Lebih banyak hal buruk ma.” Raisa menundukkan kepalanya tanda menyesal atas sikapnya selama ini.

Dia terbanyang kembali akan peristiwa-peristiwa jauh hari sebelum dia sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit.
Pagi itu hari pertama Raisa bersekolah di sekolah barunya di Kota Wonosobo. Dia sangat bergembira sekali. Bukan karena sekolah barunya, melainkan sepatu baru yang ia kenakan. Sepatu yang sangat indah pikir Raisa dan tidak akan ada teman yang mempunyai sepatu sama seperti miliknya itu. Mamanya bilang sepatu itu dibeli di Singapura tempatnya jauh diluar Indonesia.

“Mama kok bisa beli sepatu ke luar negeri. Memangnya kapan mama ke sana?” tanya Raisa penasaran.
“Minggu lalu kan tante Amira pergi ke sana, jadi mama menyuruh tante Amira membelikan sepatu untukmu disana. Mama ingin melihat Raisa tersenyum bahagia, tidak murung lagi seperti kemarin.”
“hehehe… Terima kasih banyak ya ma, Raisa sayang sekali sama mama.” Ucap Raisa dengan wajah penuh kegembiraan kemudian dia mencium pipi mamanya sebagai Rasa terima kasihnya.

Raisa sangat terkejut ketika sampai di sekolah barunya. Tidak sebagus sekolah lamanya memang. Namanya juga sekolah di desa mana mungkin bisa dia bandingkan dengan sekolah lamanya di Bogor.
“Mama ini benar sekolahnya. Kok nggak bagus kayak sekolah Raisa di Bogor. Nggak ada sekolah yang lain apa ma?”
“Raisa kan sudah janji sama mama mau menerima kepindahan kita, jadi Raisa juga harus mau menerima sekolah baru Raisa.”
“Iya deh, ya udah Raisa masuk dulu ya ma.” Pamit Raisa pada mama kemudian mencium telapak tangan mama dan berlalu masuk ke dalam sekolah.

Ketika berada di sekolah Raisa nampak memandang aneh teman-temannya. Di berjalan perlahan sambil mengamati sekitar kemudian terdengar suara… ‘Brekk’. Raisa Kaget.

“Haduh kamu gimana sih, sepatu aku kan jadi kotor. Sepatu ini itu baru aku pake sekarang. Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Bersiin!” Kata Raisa dengan nada suara tinggi saat mengetahui sepatu barunya tertimbun oleh mie sayur.
“Aku minta maaf ya, aku nggak sengaja. Tadi aku juga lagi buru-buru.”
“aku nggak butuh kata minta maaf, aku butuh sepatuku bersih lagi, sekarang! Bersih seperti awal tadi.”
“Iya, iya nanti aku bersihkan, aku janji. Tapi sekarang aku harus bantu ibuku dulu di kantin.”
“Nggak bisa, bersihkan sekarang. Pokoknya sekarang.” Rengek Raisa dengan pandangan kesal.
“Iya udah kamu sekarang ikut aku aja ke kantin, nanti aku bersih’in di sana. Di warung ibuku.” Usul Upik gadis yang telah membuat sepatu Raisa kotor.
“Iya udah deh. Ayo. Cepetan tunjukin jalan. Kamu jalan duluan aja didepan.” Perintah Raisa.

Teman-teman lain yang menyaksikan tragedi tersebut merasa kasihan pada Upik. Mereka berpikir Raisa sangat keterlaluan. Mereka menjadi tidak suka dengan Raisa karena kejadian itu. Raisa juga dianggap kasar oleh teman-teman barunya.

“Ibu kantin itu tadi beneran ibu kamu?” Tanya Raisa tanpa basa-basi.
“Iya, kenapa? Malu ya temenan sama aku. Oh iya namaku Upik, nama kamu siapa? Kamu anak baru ya?”
“Nggak apa-apa. Kenapa harus malu, kita kan nggak berteman. Lagian temanku di Bogor lebih baik dari pada anak-anak di sini. Aku Raisa.”
“Kita kan satu kelas, ya pasti kita teman kan.”
“Iya, tapi aku nggak mau berteman sama kalian semua. Anak kampung pasti kampungan.”

Dua orang teman yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka langsung ikut menimbrung. Ririn dan Lia merasa tersinggung dengan ucapan Raisa sehingga mereka memutuskan untuk ikut dalam percakapan Raisa dan Upik untuk membela Upik yang terlihat terpojokkan oleh setiap ucapan Raisa.

“Kita memang hanya anak kampungan dan nggak pantes buat temenan sama orang kota seperti kamu. Jadi lebih baik kamu juga nggak usah ngomong sama kita.” Sahut Ririn tiba-tiba. Mengagetkan Raisa.
“Kita juga nggak akan rugi kalo nggak berteman sama kamu.” Sambung Lia.
“Kita pergi saja Pik, nggak usah deket-deket lagi sama anak kota yang sombong ini.” Kata Ririn kemudian menarik Upik dan membawanya pergi.

“Raisa? Raisa…” Panggilan mamanya menyeret kembali Raisa dari lamunannya dan bayangan masa lalunya.
“Ternyata aku jahat sekali ya. Aku akan minta maaf pada teman-teman semuanya. Tuhan aku janji nggak akan sombong lagi dan akan menjadi anak yang baik.” Ucap Raisa dalam hati kecilnya.

“Raisa..” Panggil mama lagi.
“Ya, Ma. Ada apa?”
“Oh iya.. Raisa.. Pernahkah Raisa berfikir bahwa apa yang Raisa miliki saat ini adalah titipan dari Tuhan. Raisa punya papa dan mama, kedua orangtua yang masih lengkap. Papa dan mama juga sangat menyayangi Raisa. Tidakkah Raisa merasa bahwa papa dan mama selalu mengabulkan juga memberikan apa yang Raisa inginkan. Dengan begitu seharusnya Raisa bersyukur pada Tuhan dan tidak boleh menyombongkan diri. Rasa syukur itu bisa Raisa lakukan dengan selalu berbuat baik dan menolong orang lain yang kesusahan. Terlebih lagi, Raisa tidak boleh menertawakan kehidupan orang lain yang tidak lebih baik dari kehidupan Raisa. Bukankah dulu Raisa tidak suka pada Upik, Raisa bilang Upik hanya anak dari salah satu ibu kantin. Raisa ingat dulu pernah jahat pada Upik, akan tetapi Upik tetap bersikap baik pada Raisa. Raisa beruntung punya teman sebaik Upik. Sebenarnya anak mama ini juga anak yang baik, namun belum dapat mengenali itu semua.” Mama menggenggan dan mengelus-elus tangan Raisa saat memberikan nasihat padanya. Kemudian mengusap-usap rambut Raisa dengan penuh kasih sayang.
Raisa tersenyum kemudian menganggukkan kepala dengan tulus pada mamanya. Sebagai jawaban bahwa dia mengerti akan apa yang mamanya katakan.

“Apa sekarang Raisa sedah mengerti kesalahan Raisa?”
“Iya ma sudah.”
“Minggu depan Raisa kan sudah mulai sekolah, jadi Raisa harus mulai memperbaiki sikap Raisa nggak boleh lagi seperti kemaren ya.”
“Iya mama, baik.”

Mama memeluk Raisa sebagai tanda kasih sayang dan juga rasa bangga padanya. Karena sudah menjadi lebih bersikap bijak dari sebelumnya. Raisa tersenyum dalam pelukan mamanya. (*)


========
Heldha Safitri adalah nama dari penulis ini. Penulis merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara.
Penulis lahir di kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Penulis telah menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang, dan saat ini tengah menempuh Pendidikan Profesi Guru di Universitasa Muhammadiyah Malang.

No More Posts Available.

No more pages to load.