Cinta Berujung Pergi

oleh -45 views
Link Banner

Cerpen Karya: Nazwa Febriyanti Hasyartianillah

Semenjak kau mulai berubah, semuanya telah berbeda. Awalnya kau begitu mencintaiku, menyayangiku dan sangat menginginkanku. Namun, kali ini tak jarang kau mengacuhkanku. Kau mulai bersikap tak peduli denganku dan acuh tak acuh padaku. Sungguh kau mulai membuatku kecewa. Berulang kali kucoba untuk membuat dirimu mengerti, bahwa aku sangat membutuhkanmu. Aku ingin kau selalu bisa membuatku bahagia seperti dulu. Bercanda dan tertawa saling berbagi rasa suka maupun duka di setiap keseharian kita. Apakah kau sudah melupakannya?. Jangan kau diam lagi, aku tak sanggup menahan. Bicaralah sayang, jiwa ini tak tenang.

Seringkali kau tidak membalas pesanku dengan alasan “maaf aku sibuk”. Tapi tak apa, aku selalu mencoba untuk mengerti keadaanmu, walaupun rasanya sakit bagiku. Ketika aku merindukanmu, rasanya aku selalu ingin bersamamu. Akhirnya, aku bertemu denganmu setiap akhir pekan. Ingatkah kamu, waktu itu kau selalu menyuapiku ketika kita berdua sedang makan bersama? Aku tau kau pasti mengingatnya. Kita sudah menjalani hubungan ini selama bertahun-tahun lamanya. Sudah tercipta banyak kenangan yang tak bisa begitu mudah untuk dilupakan. Namun, kini semua kebiasaan kita saat bertemu sudah jarang dilakukan kembali. Seperti makan seporsi berdua, saling menatap, saling menyuapi makanan satu sama lain, saling memberikan pengertian, bercanda disela-sela pembicaraan, mengantarkanku pulang sampai rumah, membuatkan makanan kesukaanku, dan masih banyak lagi hal lain yang sering kita lakukan bersama.

Aku tidak pernah berniat untuk melukai ataupun menyakiti perasaanmu. Tapi, aku hanya ingin tau seberapa pantaskah diriku untukmu. Ketika itu, aku mulai menjauhimu perlahan. Dan akhirnya, kau menyimpulkan bahwa aku sudah memiliki kekasih yang lain selain dirimu. Sungguh, tidak seperti yang kau bayangkan sayang. Aku tetap disini untukmu, aku tetaplah kekasihmu, yang hanya mencintaimu, satu orang laki-laki setelah ayahku. Tak perlu khawatir sayang aku hanyalah bergurau, hanya ingin tau seberapa besarkah kau mencintaiku. Dan apakah kau benar-benar menyayangiku? Apakah kau benar-benar tulus mencintaiku?. Dan tentu saja aku tau jawabannya. Kau sangat menyayangiku kau juga tulus mencintaiku.

Link Banner

Suatu ketika kau bertemu denganku, kau membawaku ke tempat biasanya kita bertemu. Disana kau rangkai sebuah kejutan yang indah. Kau berikan aku bunga mawar yang indah dan sangat harum wanginya. Kau menunjukkan sesuatu yang sangat berharga, 2 pasang cincin yang ternyata adalah suatu barang berharga yang ingin kau jadikan pemantas hubungan ini.

Baca Juga  TPK Hotel Bintang di Maluku pada Januari 2021 Menurun

“sayang.. semua hal yang telah kita lakukan adalah hal terindah bagiku. Aku teramat senang dan bahagia, disetiap hariku ditemani bidadari secantik dirimu. Hanya kamu yang mengingatkanku disetiap waktunya. Jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan lupa mandi, dan jangan lupa segalanya. Jika aku sakit, kau yang mencoba merawatku dengan penuh kasih sayang. Kau suapi aku makan, memberikan aku obat, dan memperhatikan segala kebutuhanku. Karena itu aku yakin bahwa, kau sangatlah pantas menjadi kekasihku di dunia ini maupun di akhirat nanti. Aku menginginkan agar kau bisa menjadi pendamping hidupku. Maukah kau menikah denganku dan menjadi isteriku juga menjadi seorang ibu bagi anak-anakku nanti?.”

Baca Juga  Lanud Pattimura siap sukseskan Pesparani

Sungguh aku sangatlah terkejut, karena suatu hal yang aku impikan dari sejak dulu kini semua menjadi nyata.

Pada akhirnya, aku memberitahu orangtuaku bahwa kekasihku akan melamarku. Namun, mereka tidak menyetujuinya. Orangtuaku beralasan bahwa ia belum pantas untuk menikahi gadis yang belum cukup umur seperti aku. Mamah bilang padaku bahwa ia harus menjenjang pendidikan yang lebih tinggi dari padaku. Karena papah juga tidak akan menyetujuinya jika ia hanya kerja serabutan seperti itu. Orangtuaku ingin agar ia dapat memenuhi persyaratan untuk kuliah dan mempunyai pekerjaan yang tetap. Pada akhirnya aku bicara pada kekasihku.

“sayang.. maaf orangtuaku belum menyetujui keputusanmu. Aku harap kamu mengerti bahwa orangtuaku menginginkan kamu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka ingin kamu kuliah dan mempunyai pekerjaan tetap.”

Tetapi ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Dia tidak mengerti, tapi ia mulai menghindar dan menjauhiku. Ia merasa tak percaya diri dan merasa bahwa dirinya sudah tak pantas lagi untukku. Akhirnya dia mulai tak memberiku kabar. Ia mulai menghilang dari hidupku. Aku terus menghubunginya dan terus mencari keberadaannya. Ketika berhari-hari aku menunggu kabarnya, ia membalas pesanku.

“maaf.. aku sudah tak pantas lagi untukkmu, aku bukanlah orang yang tepat untukmu, aku hanyalah orang biasa yang tak bisa membuatmu bahagia apalagi berpendidikan tinggi. Aku ini orang biasa yang silsilah keluargnya saja sudah tidak jelas. Maaf aku harus pergi meninggalkanmu. Kini hanyalah tersisa kenangan dari kisah cinta kita yang indah. Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini.. aku tetap mencintaimu namun, rasanya tak ada harapan lagi untuk memilikimu.”

Baca Juga  Sepekan, TNI gelar rile bendera Sabang sampai Merauke

Rasanya hatiku ini hancur lebur sudah tak jelas lagi rupanya. Aku menangis dan terus menangis meratapi rasa kecewa ini. Aku benar-benar sangat sedih, kecewa, dan tak sanggup menerima kenyataan ini. Tak ada hasrat lagi untuk mencintai yang lain. Aku hanya menginginkan dia. Mungkin aku akan selalu merindukannya. Hari-hariku akan terasa hampa tanpa dirinya. Kau begitu tega sayang. Kau lukai hati ini dengan segenap egomu. Kau hancurkan harapanku bersamamu hanya dalam satu waktu. Sudah Begitu banyak kau buat kemistri cinta dalam hubungan ini. Namun, kau pergi begitu saja hanya karena kedua orangtuaku. Hanya karena status. Mengapa kau belum juga mengerti?, seharusnya kau bangkit kau berusaha dan berjuang untuk mendapatkanku. Tapi kau menghindarinya dan mundur dengan semua ini. Aku benar-benar sangat tidak percaya dengan sikapmu kali ini. Apakah kau tidak berfikir sudah berapa lama hubungan ini terjalin.

Sudah terlalu banyak untaian kata yang kita buat bersama. Sudah begitu berat kita saling merindukan satu sama lain. Sudah begitu dalam rasa cintaku padamu. Tapi kini kau pergi meninggalkanku, aku tak percaya hal ini terjadi. Aku tak sanggup, tak sanggup lagi menerimanya. Rasanya aku jera mencoba untuk mencintai lagi. Cukup sampai disini pengalaman yang paling menyakitkan selama ini, cukup aku tak mau lagi. (*)