Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

Penulis: Frieda Amran

Matahari bersinar cerah. Walaupun demikian, aku menggigil sedikit karena angin pertengahan Agustus yang bertiup sepoi-sepoi masih terasa dingin menembus rok batik yang kukenakan. Di dalam rumah jompo, ruang pertemuan paling besar di lantai bawah, sudah dipenuhi oleh sekitar 150 orang Belanda tulen yang putih besar dan orang-orang yang berperawakan lebih kecil berkulit sawo matang atau coklat susu. Lamat-lamat terdengar musik keroncong.

Di depan, bendera Belanda tergantung rapi menutupi podium dengan sebuah mikrofon di atasnya. Di depan podium itu, sebuah meja kecil yang beralaskan batik, menyangga vas besar berisi bebungaan segar. Pita-pita panjang berwarna merah-putih biru dan merah-putih tergantung dari buket itu.

Di sebelah kiri ruangan, berderet-deret kursi roda yang diduduki oleh sebagian penghuni rumah jompo itu. Semua hadirin berpakaian rapi. Beberapa perempuan mengenakan kain dan kebaya; yang lainnya mengenakan rok batik atau melilitkan selendang di leher. Hampir semua tetamu lelaki berkemeja batik. Kalau bukan karena bendera Belanda dan pita merah-putih-biru itu, aku pasti merasa sedang berada di lingkungan masyarakat Indonesia di negeri ini.

Namun, nyatanya aku tidak berada di antara orang-orang yang hendak merayakan kemerdekaan Indonesia. Hari itu adalah tanggal 15 Agustus, dua hari sebelum masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan Republik Indonesia di Wisma Duta, Den Haag. Pada hari ini, orang Indo (keturunan campuran Indonesia dan Belanda) memperingati dan merayakan pembebasan Hindia-Belanda dari belenggu Jepang. Dalam Perang Dunia II, ketika Eropa diporak-porandakan oleh Hitler dan pasukan-pasukan Nazi, nusantara diduduki oleh Jepang. Orang Belanda yang berada di nusantara—Hindia-Belanda, ketika itu—diringkus dan ditawan di dalam kamp-kamp.

Di Eropa, Jerman berhasil ditaklukkan oleh Sekutu di musim semi 1945. Setiap tanggal 5 Mei, orang Belanda merayakan Bevrijdingsdag atau Hari Pembebasan yang terjadi di musim semi itu. Sementara orang Belanda di Eropa bersorak gembira karena negerinya telah lepas dari teror Hitler, pada tanggal 5 Mei 1945, orang Belanda dan Indo-Belanda di nusantara masih meringkuk di dalam kamp-kamp tawanan Jepang. Mereka baru (di)bebas(kan) setelah Jepang ditaklukkan oleh Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945.

Sejak tahun 1968, pemerintah Belanda menetapkan 5 Mei—Bevrijdingsdag—sebagai hari raya nasional. Namun, masyarakat keturunan Indo(-Belanda) tidak menganggap hari itu sebagai hari pembebasan karena pada tanggal itu di tahun 1945, kakek-nenek mereka masih ditawan Jepang di nusantara! Karena itu, pada tahun 1999, pemerintah Belanda lalu menetapkan 15 Agustus sebagai hari Nationale Herdenking. Hari ini pun menjadi hari raya nasional dan kemudian lebih dikenal sebagai Indische Herdenkingsdag—khusus untuk merayakan pembebasan orang (Indo-)Belanda dari siksaan Jepang di nusantara dan untuk mengingat para korban pada waktu itu.

Walau sudah lebih dari 30an tahun tinggal di negeri Belanda, aku belum pernah menghadiri perayaan Indische Herdenkingsdag.

“Menyebalkan!” Kata seorang temanku. “Pada hari itu, orang-orang Indo itu mengheningkan cipta untuk ‘pahlawan’ mereka yang bebas dari tawanan Jepang! Padahal yang mereka sebut ‘pahlawan’ adalah tentara-tentara KNIL yang memerangi bangsa kita! Untuk apa datang ke acara seperti itu?”

Benar juga, pikirku. Namun, rasa ingin tahuku tergelitik. Bagaimana sebetulnya pandangan orang Indo terhadap Indonesia? Apakah, perayaan Indische Herdenkingsdag akan menunjukkan bahwa mereka masih ingin kembali ke Hindia-Belanda? Apakah mereka tidak menyadari kokoh berdirinya Indonesia sebagai negeri dan bangsa yang merdeka?

Kuputuskan untuk hadir di upacara peringatan Indische Bevrijdingsdag itu. Dan, hari ini, aku hadir di situ.

Seorang lelaki berkulit sawo matang dan berhidung mancung maju ke depan. “Tujuh puluh empat yang lalu, setelah tiga tahun ditawan oleh Jepang, nenek, kakek, ayah, ibu, kakak atau adik kita bebas. Tetapi, tak terhitung banyaknya keluarga kita yang meninggal dunia di dalam kamp-kamp tawanan itu.”

Burgemeester pun maju ke depan: “Hari ini kita berkumpul untuk mengingat ayah-ibu, kakek-nenek dan saudara-saudara lainnya yang menjadi korban kekejaman Jepang. Hari ini kita merayakan pembebasan saudara-saudara kita di Hindia-Belanda dari belenggu di kamp-kamp tawanan Jepang. Yang meninggal mengenaskan di dalam tawanan dan yang selamat merupakan pahlawan.”

Ia menarik nafas, lalu melanjutkan kata-katanya: “Kota kita belum memiliki Indischemonument—monumen khusus untuk mengenang mereka yang gugur di Hindia-Belanda. Hari ini, meja sederhana ini menjadi monumen untuk mengenang mereka, akan tetapi tahun depan, persis 75 tahun setelah hari pembebasan di Hindia-Belanda, saya berjanji untuk membangun monumen bagi para pahlawan itu.”

Kulihat banyak orang menyeka air mata. Beberapa orang saling menggenggam tangan dan saling rangkul. Burgemeester menyandarkan karangan bunga yang dibawanya ke meja bertaplak batik di depan podium dan mengajak hadirin berdiri dan mengheningkan cipta.

Kemudian, seorang lelaki maju pula ke depan dan memimpin hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus.
Tak ada orang yang menyebutkan nama ‘Indonesia’ dan tak ada kata-kata untuk mengingat betapa banyak orang Indonesia yang menjadi korban pendudukan Jepang selama tiga tahun dan pendudukan Belanda yang lebih lama lagi.

Sedetik, sesaat, aku merasa hatiku mencemooh orang-orang di ruangan itu—orang-orang yang merupakan keturunan para penjajah negeriku. Namun, lalu hati kecilku bertanya: mengapa aku harus mencemooh? Bukankah mereka merasa sedih mengingat kakek dan nenek mereka yang telah tiada seperti juga aku sedih bila teringat dan rindu pada Ayah-Ibuku sendiri?

Sekelompok orang memasuki ruangan membawa angklung. Lelaki dan perempuan itu sebagian besar berkulit sawo matang, berambut hitam kecoklatan. Orang Belanda berwajah Indonesia. Dirigen menggerakkan tangannya. Angklung di tangan orang-orang itu bergetar dan suara khas alat musik itu—lembut tetapi kuat—memenuhi ruangan. ‘Rayuan Pulau Kelapa’ melantun.

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja s’panjang masa

Di kiri-kananku, orang ikut bernyanyi sepenuh hati dengan lantang. Nenek-nenek di atas kursi roda pun ikut bernyanyi sambil meremas saputangan yang dipegangnya.

Tiba-tiba, hatiku tercekat. Iba melihat orang-orang di sekitarku. Mereka adalah penyintas. Mereka adalah orang-orang yang terbuang dari tanah tempat lahirnya dan kembali ke tanah leluhurnya. Tentu, dengan bangga, mereka akan menunjukkan paspor berwarna merah hati sebagai bukti diri nasionalitas: Belanda. Namun, hati dan sikap hidup sehari-hari menunjukkan hal lain, yaitu bahwa mereka merupakan keturunan dari nenek-moyang yang berbangsa Indonesia.

Tanah kelahiranku Indonesia, kata mereka, bangga.

Akan tetapi, tanah kelahiran itu tidak menginginkan dan tidak merindukan mereka. Cinta mereka bertepuk sebelah tangan. Cinta mereka tidak berbalas.

Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku
Indonesia (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: