Covid-19, Pemenang Vs. Pecundang

oleh -191 views
Link Banner

Penulis: Made Supriatma

Ada banyak ketidakpastian yang timbul akibat wabah Covid-19 ini. Orang tidak akan merasa aman sebelum vaksin untuk menanggulangi virus ini ditemukan. Ekonomi, sekalipun dibuka kembali, tidak akan serta merta pulih. Hidup normal rasanya masih jauh dari jangkauan.

Namun ada sesuatu yang pasti. Itu adalah bahwa wabah ini akan menimbulkan dampak yang sangat besar untuk jangka panjang. Tidak itu saja. Wabah ini akan menggoreskan jejaknya pada generasi–generasi yang akan datang.

Di Amerika Serikat, Covid-19 telah menciptakan bahasa slang baru. Karena sebagian besar mereka yang menjadi korban adalah orang-orang tua dan punya penyakit bawaan maka ada bahasa ‘slang’ untuk itu. Ia adalah ‘boomer remover.’ Atau penghilang generasi ‘baby boomer.’

Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah perang dunia II. Yang tumbuh saat ekonomi Amerika tumbuh pesat. Yang mengalami kegoncangan kultural pada tahun 60-70an. Dan, generasi ini sekarang hidup dari kemakmuran yang mereka ciptakan. Itulah sebabnya mereka lebih kesehatannya dan berumur lebih panjang.

Mereka juga menjadi beban dari sistem ekonomi karena mereka tidak produktif. Sekalipun mereka hidup dari tabungan dan pensiun. Mereka memiliki rumah, simpanan, dan investasi.

Namun wabah Covid-19 ini juga membawa konsekuensi untuk generasi yang sekarang muda. Khususnya untuk mereka yang disebut generasi millenial. Data-data dari Amerika menunjukkan hal yang sangat mengenaskan. Data for Progress menyebutkan bahwa 52% dari orang Amerika yang berumur kurang dai 45 tahun kehilangan pekerjaan. Hanya 25% dari mereka yang berumur diatas 45 tahun yang kehilangan pekerjaan.

Baca Juga  Benny Wenda Minta Dukungan Negara-Negara Pasifik Desak PBB Evaluasi Pepera

Data-data ini menunjukkan bahwa ada golongan yang sangat kalah dalam pertarungan ekonomi saat wabah ini terjadi. Generasi millenials di Amerika adalah korbannya. Mereka baru mulai karir, terjerat hutang sangat besar waktu menyelesaikan pendidikan kesarjanaan, baru memulai keluarga dan belum sempat punya rumah. Mereka harus menghadapi resesi ekonomi yang raksasa.

Bagaimana dengan di Indonesia? Hari ini saya mendapat hasil survey yang diterbitkan oleh peneliti dari Harvard, MIT, dan JPAL Southeast Asia. Survey ini akan menelisik konsekuensi dari wabah Covid-19 di Indonesia.

Survei ini dilakukan secara online menggunakan Google Survei. Respondennya 500 orang, 200 orang berusia 18+ dan 300 orang 35+. Jadi golongan yang pertama adalah pekerja pemula dan yang kedua kira-kira adalah pekerja yang lebih mapan.

Akibat paling besar dari wabah ini adalah meningkatnya pengangguran. Ini terjadi di area perkotaan. Ada 56% laki-laki dn 57% perempuan yang mengaku sebelumnya memiliki pekerjaan namun sekarang tidak bekerja.

Kehilangan pekerjaan terjadi di semua sekttor ekonomi (pertanian, manufaktur, dll.) dan disemua jenjang pendidikan. Akibat pengangguran ini, sekitar 35% responden survei ini mengatakan mereka harus makan lebih sedikit daripada sebelumnya.

Survei ini juga ingin mengetahui apakah orang menggunakan program-program jaringan keamanan sosial yang disediakan oleh pemerintah. Hanya sekitar 20an persen (23% laki dan 20% perempuan) mengaku memanfaatkan BPNT Sembako atau PKH. 30% laki-laki dan 23% perempuan memanfaatkan BPJS Kesehatan.

Baca Juga  Said Aqil Perintahkan Warga NU Turun Tangan Batalkan UU Cipta Kerja

Hanya 28% laki-laki dan 23% perempuan yang sebelumnya bekerja namun sekarang kehilangan pekerjaan yang ditanggung oleh BPNT Sembako atau PKH. Dan perempuan yang hidup di pedesaan lebih terjangkau pelayanan BPNT Sembako ketimbang di perkotaan.

Sayangnya survei ini tidak memberikan gambaran akibat wabah ini menurut kategori umur. Saya kira, sama seperti di Amerika, golongan umur muda lebih terpengaruh pada wabah ini ketimbang mereka yang lebih tua. Para pekerja muda ini, khususnya mereka yang berada pada entry level, adalah yang paling rentan untuk kehilangan pekerjaannya.

Golongan ini yang paling banyak memasuki lapangan pekerjaan di Gig Economy, dengan menjadi pengemudi Ojol, taksi online, serta berbagai pekerja kontrak dan outsourcing adalah golongan yang paling pertama tergusur.

Golongan kedua yang paling banyak tergusur adalah buruh-buruh entry level di sektor manufaktur (pabrik-pabrik) dan jasa (pelayan toko, restoran, dll.).

Ditengah segala macam sanjungan dan puja puji terhadap golongan milenial, tidak banyak orang sadar bahwa sesungguhnya, sama seperti di Amerika, merekalah yang jadi garis depan korban dari wabah ini. Golongan inilah yang sejak minggu terakhir Februari hingga bulan Maret kemarin yang menjadi pengungsi kembali ke desa-desa mereka.

Sekali lagi, tidak ada data tentang golongan umur mereka yang jadi pengangguran ini. Namun, akibatnya saya kira juga dirasakan dalam kadar berbeda oleh golongan umur berbeda. Mereka yang lebih tua cenderung sedikit lebih aman. Bukan saja mereka lebh bisa bertahan di dunia kerja (karena pengalaman) namun saya duga mereka juga lebih bisa memanfaatkan bantuan dari jaring pengaman pemerintah.

Baca Juga  Kodim 1509/Labuha Salurkan Bantuan Sembako Dari Korem 152/Baabullah untuk Korban Gempa Halmahera Selatan

Adakah golongan yang paling tidak terkena dampak wabah ini? Menurut saya ada. Itulah aparat-aparat negara (ASN/PNS/TNI/Polri) yang job security-nya sangat aman. Di Indonesia ini, jumlah berkisar antara 4,6 hingga sedikit dibawah 5 juta.

Negara adalah pencipta lapangan kerja terbesar di Indonesia. Tidak saja pegawai–pegawai negara ini memiliki job security terbaik, mereka juga memilki jaminan ((benefits) yang terbaik dengan pensiun dan asuransi kesehatan yang dijamin negara. Porsi belanja pegawai adalah 23% dari pengeluaran pemerintah pusat pada APBN 2019. Jumlah belanja pegawai lebih besar lagi untuk pemerintah daerah. Di DKI Jakarta saja, belanja pegawai pada APBD 2019 berjumlah kira-kira sepertiga dari pengeluaran. Di daerah lain jumlah itu bisa berkisar 40% dari APBD.

Dampak ekonomi dan sosial dari wabah ini mungkin harus diikaji lebih jauh. Ada golongan-golongan yang terkena paling keras, ada yang menengah, dan paling aman.

Kita harus memperhatikan ini sebelum kefrustasian mereka yang paling kalah memuncak dan meledak. (*)

=========

Made Supriatma adalah seorang jurnalis sekaligus peneliti sosial, politik dan militer