Dana PNPM tak disalurkan, Fasilitator GSC tilep Rp.70 juta

oleh -141 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Kantor Pengadilan Negeri (PN) Ambon kembali menggelar sidang kasus dugaan korupsi dana PNPM mandiri di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Senin (4/12).

Sidang lanjutan ini menghadirkan terdakwa Bendahara Generasi Sehat Cerdas (GSC), Nathalia Moningka.

Sidang dipimpim Ketua Majelis Hakim,Samsidar Nawawi,didampingi Hakim Anggota, Jenni Tulak dan Bernard Panjaitan.

Sedangkan 8 saksi yang dihadirkan dalam sidang ini yakni Camat TNS, Jacob Wattimena, Santji Purmiasa, Piter Pormes, Yanti Mala, Elen R. Muskitta, Joise Tutuarima, Vonny Karesina dan saksi Levina Julianti.

Link Banner

Kedelapannya mengaku mengetahui ada program PNPM Mandiri yang dilakukan GSC di Kecamatan TNS dan dana itu disalahgunakan Bendahara GSC, Nathalia Moningka.

Camat TNS, Jacob Wattimena, membenarkan indikasi terjadinya kerugian keuangan negara dalam pelaksanaan pekerjaan multi year dalam wilayahnya itu, ketika menjawab pertanyaan Majelis Hakim.

Diakuinya, pada tahun 2013, 2014 dan 2015 dana PNPM Mandiri sebesar Rp 1,7 milyar dialokasikan untuk program multi dan non multi pada 17 negeri/desa yang berada di Kecamatan TNS, Kabupaten Malteng.

”Saya mengetahui ada program PNPM Mandiri yang dilakukan GSC di Kecamatan TNS. Karena saya sebagai Pembina. Hasil audit juga telah ditemukan ada kerugian keuangan tersebut. Dan dibahas dalam sebuah musyawarah. Hadir juga fasilitator Kecamatan, Achmad, Bendahara GSC, Nathalia Moningka serta Ketua, Sekretaris dan Bendahara dari Kelompok Kerja (Pokja) masyarakat di 17 negeri/desa di Kecamatan TNS,” ujarnya.

Baca Juga  11 Parpol Gelar Aksi, Kapolres Sula Fasilitasi Dialog

Saksi lain pun mengungkapkan, ada dana tahun 2013 yang disalurkan senilai Rp. 44 juta lebih hanya terealisasi Rp.30 juta lebih dan tidak terealisasi Rp. 14 juta lebih.

Begitupun tahun 2014 tidak tersalur Rp. 41 juta.

Sedangkan tahun 2015, tersalur Rp. 48 juta, terealisasi hanya Rp. 2 juta lebih, sedangkan tidak terealisasi Rp. 45 juta lebih.

Saksi Piter Pormes menerangkan, tahun 2013 tersalur Rp. 115 juta lebih, terealisasi Rp. 97 juta lebih dan tidak terealisasi Rp. 17 juta lebih.

Begitupun tahun 2014, dananya tersalur, tetapi tidak terealisasi.

Sedangkan tahun 2015 tersalur Rp. 79 juta lebih, realisasnya Rp. 27 juta dan sisanya tidak terealisasi.

Saksi Elen Muskita menjelaskan bahwa tahun 2013 tersalur Rp. 94 juta, terealisasi Rp. 79 juta lebih dan tidak terealisasi Rp. 15 juta lebih.

Baca Juga  Rapat Evaluasi Gugus Tugas Covid-19 Kembali Digelar

Pada tahun 2014, akunya, tersalur Rp. 49 juta lebih, terealisasi Rp. 4 juta lebih dan tidak terealisasi Rp. 44 juta lebih.

Sedanngkan saksi Levina Julianti saat menjawab pertanyaan JPU, R. Sinurat, mengakui bahwa pada tahun 2013 ada dana yang disalurkan dan ada yang tidak terealisasi.

Begitupun tahun 2014 tersalur Rp. 71 juta, terealisasi Rp. 10 juta lebih, tidak terealisasi Rp. 60 juta lebih.

Sedangkan tahun 2015 tersalur Rp. 60 juta lebih, terealisasi Rp. 17 juta lebih dan tidak terealisasi Rp. 43 juta lebih.

Dalam persidangan sebelumnya, Fasilitator Generasi Sehat Cerdas (GSC) di Kecamatan TNS, Kabupaten Malteng, Achmad, mengaku sudah menyerahkan dana sebesar Rp 70 juta kepada Bendahara Pokja, Santji Purmiasa.

Namun pernyataan Achmad ini dibantah dengan tegas oleh Bendahara Pokja, Santji Purmiasa, saat menjawab pertanyaan Penasehat Hukum, Marcel J. Hehanusa.

”Saya tidak pernah menerima uang itu dari Pak Achmad selaku Fasilitator GSC Kecamatan TNS,” tegasnya.

Baca Juga  Tangkal hoax dan isu Sara, IJTI Maluku gelar pelatihan jurnalistik

Terpisah, terdakwa Bendahara GSC, Nathalia Moningka yang didampingi Penasehat Hukumnya, Marcel J. Hehanusa, menjelaskan bahwa fasilitator GSC Kecamatan TNS, Achmad, memakai mobil yang dibeli terdakwa untuk jalan-jalan hingga ke Ambon.

Alasannya, yang bersangkutan sedang mencari calon pembeli mobil tersebut.

Hehanusa menegaskan bahwa kliennya telah dimata-matai Fasilitator GSC TNS, Ahcmad.

Pasalnya, buku tabungan disita, mobil disita dan beberapa barang berharga lainnya disita Fasilitator GSC TNS tersebut dari kliennya.

Menurutnya, masih ada dana sebesar Rp. 300 juta yang dimanipulasi oleh Achmaad.

Padahal, anggaran itu harus disalurkan kepada Pokja-pokja sebagai penerima dana PNPM Mandiri.

”Aneh sekali. Masa mobil jenis Avansa dipakai Fasilitator GSC TNS, Achmad untuk mencari pembeli selama kurang lebih lima bulan. Tetapi malah Achmad memakainya untuk jalan-jalan dengan mobil yang disita dari Bendahara GSC TNS, Nathalia Moningka yang adalah klien saya sejak bulan Mei-Oktober 2014. Setelah terjual, uang Rp. 70 juta tidak diberikan kepada Pokja yang membutuhkan dana tersebut,” pungkasnya. (Team)