Dandhy Ditangkap Polisi, Budiman Sudjatmiko: Saya Menolak Penangkapannya

oleh -57 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tidak setuju atas penangkapan yang dilakukan oleh penyidik terhadap sutradara film dokumenter Sexy Killers, Dandhy Laksono. 

Dandhy ditangkap oleh pihak penyidik  di kediamannya, Jalan Sangata, Jatiwaringan Asri, Pondokgede, Bekasi, Kamis (26/9/2019) sekitar pukul 23.00 Wib. Penangkapan itu berkaitan dengan cuitannya di twitter mengenai kondisi dan situasi di . 

Budiman mengatakan, sangat sedikit orang yang cerewet di twitter namun berani bertanggungjawab atas pendapatnya dalam forum debat. Baginya, Dandhy ada di antara oarang yang sedikit itu. 

@Dandhy_Laksono adalah salah seorang yang sedikit itu, berdebat tatap muka dengan pinsip (opini2nya meskipun kerap berbeda dengan saya) & harga diri. Saya menolak penangkapannya,” tulis Budiman melalui akun twitternya @budimandjatmiko, Jumat (27/9/2019) dini hari. 

Sebelumnya, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Asfinawati menerangkan, pada pukul 22.30 Wib Dandhy baru tiba di rumahnya, di Jatiwaringan Asri, Pondokgede, Bekasi. Pada pukul 22.45 ada tamu menggedor-gedor pagar rumah lalu dibuka oleh Dandhy sendiri.

Baca Juga  Kontras-YLBHI: SKB Pelarangan FPI Bertentangan dengan Prinsip Negara Hukum

“Tamu dipimpin Bapak Fathur mengatakan membawa surat penangkapan karena alasan posting di sosial media twitter mengenai ,” ujar Asfinawati kepada AKURAT.CO, Kamis (26/9/2019).

Pada pukul 23.05 Wib, tim yang terdiri dari 4 orang itu membawa Dandhy ke kantor  dengan kendaraan D 216 CC mobil Fortuner.

“Petugas yang datang sebanyak 4 orang. Penangkapan disaksikan oleh 2 satpam RT,” ujar Asfinawati. 

Diketahui, melalui akun twitternya @Dandhy_Laksono, Dandhy kerap membagikan informasi mengenai kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini di . Bahkan, pada hari Sabtu (21/9/2019) yang lalu, dalam sebuah forum di Jakarta, Dandhy berdebat dengan Anggota DPR dari Fraksi PDIP,  bertajuk ‘Nationalism and Separatism: Questions on (rtl/red)