Dandhy Sindir Meutya Hafid: Banyak Jurnalis Perang Jadi Aktivis Antiperang, Kecuali Masuk Komisi I DPR RI

oleh -16 views
Link Banner

Porostimur.com – Jakarta: Meutya Hafid yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR RI dinilai memiliki sikap yang berbeda dengan para aktivis antiperang. Meutya dianggap mendukung tentara. 

Sebelum menjadi anggota Dewan, Meutya pernah menggeluti dunia jurnalis sebagai anchor di TV swasta.

Oleh netizen keberadaannya di DPR Komisi I dikaitkan dengan kejadian saat Meutya Hafid menjadi jurnalis dan menjadi tawanan di Irak beberapa tahun lalu. 

Aktivis yang juga jurnalis Dandhy Laksono pun melontarkan kritikan terhadap sikap Meutya Hafid yang dinilainya berbeda saat sudah masuk menjadi anggota Dewan. 

Melalui akunnya @Dandhy_Laksono mengungkapkan, banyak jurnalis yang meliput perang yang menjadi aktivis antiperang. Karena melihat langsung kondisi saat perang yang mengerikan. Kecuali jika sudah masuk di Komisi I DPR RI. 

Baca Juga  Kapolda Maluku Minta Panitia dan Peserta Seleksi Sekolah Pimpinan Polri Bersih

“Banyak jurnalis peliput perang yang menjadi aktivis anti-perang, karena melihat langsung penderitaan dalam perang. Kecuali dia masuk Komisi 1 DPR,” cuitan @Dandhy_Laksono pada 8 November 2021. 

Dandhy melontarkan sindirannya pada Meutya Hafid yang masuk menjadi anggota DPR di Komisi I, saat presentasi dengan Jendral Andika Perkasa menggunakan seragam warna tentara.  

Pemakaian seragam tersebut dianggap sebagai interpretasi tentara di dalam lembaga sipil seperti DPR.

Dandhy juga mencontohkan wartawan lain yang menjadi aktivis antiperang, bukan malah mendukung tentara,

“Almarhum Ersa Siregar (RCTI) di perang Aceh atau
@faridgaban (Tempo) di perang Bosnia adalah contoh jurnalis peliput perang yang sangat kritis terhadap pendekatan militer sebagai solusi konflik,” tambah Dandhy. 

Dandy menyebut Farid Gaban pernah ditangkap polisi karena Demo menolak Darurat Militer di Aceh pada 2005.

Jurnalis lainnya, Maria Ressa dari Filipina yang juga penerima Nobel 2021, adalah veteran liputan perang di Timor Timur saat bekerja di CNN.

“Ia juga menentang metode Presiden Duterte memerangi narkoba yang dianggap memberi “cek kosong” pada polisi untuk melakukan kekerasan,” lanjutnya.

Bahkan ada eks-jurnalis BBC, Jake Lynch, yang menjadi aktivis yang banyak membela hak-hak Palestina.

“Sebagai veteran peliput konflik, Jake Lynch kini menjadi profesor di Universitas Sydney menulis dan mengajar studi perdamaian dan resolusi konflik,” tutup Dandhy. 

(red)