Demi si Lola Pak Haji Rela Keluarkan Uang Rp80 Juta

oleh -119 views
Link Banner

Porostimur.com | Belinyu: Merah meronah warnanya. Mekar dan berkembang pertumbuhannya. Tak heran jika Pak Haji Riduan pun “tergila-gila” pada si Lola.

Bahkan siang dan malam, ia jaga seakan takut Lola mati layu. Tak hanya itu, Pak Haji rela menguras isi dompet Rp 80 Juta.

Jangan salah tafsir dulu. Lola bukanlah sosok perempuan, seperti nama kebanyakan wanita di negeri ini. Lola hanyalah sebuah varietas cabai keriting atau cabai besar, tanaman hortikultura.

Lola sebuah singkatan “Lokal Lampung”. Sebanyak 8000 bibit Cabai Lola ditanam Haji Riduan pada hamparan lahan seluas seperempat hektare di Kampung Bantam, Lingkungan VI Kelurahan Bukitketok Kecamatan Belinyu Bangka.

Link Banner

Bibit yang ia semai beberapa bulan silam, kini tumbuh dalam bedengan yang ditutupi mulsa plastik. Baris tanam membentuk rel kereta api terlihat memajang lurus membentang dari arah timur hingga ke barat.

Dedaunan cabai menghijau, sedangkan cabai berwajah merah meronah, sisa panen pekan lalu. Tanaman itu tampak berbunga kembali, siap meretaskan buah baru.

Tanaman hortikultura sebanyak 8000 batang ini telah menghabiskan biaya sekitar Rp 80 Juta. Namun itu bukan masalah bagi Haji Riduan. Pria yang resmi menjadi mualap sejak usia 12 tahun itu, tak ragu menguras isi dompet. Sebab si Lola begitu menjanjikan. Tanaman ini diprediksikan bakal panen sebanyak lima kali pada fase panen, sesuai musim.

“Saya tanam 8000 pohon cabai Lola “Lokal Lampung, jenis cabe besar keriting. Tanaman ini sudah dua kali panen. Mudahan jika perawatannya optimal, panen bisa mencapai lima kali,” kata Haji Riduan (48), sebagaimana dilansir Bangka Pos, Sabtu (25/8)

Baca Juga  Walikota Ambon Gelar Rakor Online
Demi si Lola Pak Haji Rela Kuras Dompet Rp 80 Juta
Haji Riduan, mengenakan kaus warna biru didampingi Penyuluh Pertanian, Eko Wijaya saat berada di kebun cabai di Kampung Bantam Lingkungan VI Kelurahan Bukitketok Kecamatan Belinyu Bangka,

Panen perdana pada bulan sebelumnya kata Haji Riduan, tanaman ini menghasilkan sekitar 2,5 ton. Sedangkan panen kedua pada pekan berikutnya, Haji Riduan meraup hasil sekitar 2 ton.

“Panen pertama saya dapat sekitar dua setengah ton cabe merah dijual ke agen di Sungailiat seharga Rp 24.000 perkg. Hasil panen pertama total sekitar 60 Juta,” katanya.

Sedangkan saat panen kedua, Haji Riduan memilih melakukan pemetikan cabai sebelum buah matang dan dijual pada kisaran harga Rp 32.000 hingga Rp 35.000 perkg.

“Panen kedua, kita panen cabe hijau, cabe muda, dapat sekitar dua ton dan dijual ke agen kisaran harga Rp 32.000 hingga Rp 35.000 perkg. Saat panen kedua saya dapat hasil sekitar Rp 70 Juta,” katanya.

Baca Juga  Yon Marhanlan Dukung Lantamal IX Serta Salurkan Bantuan Peduli Covid-19

Populasi tanaman cabai ini masih tetap hidup dan mulai mengeluarkan kembang atau calon buah baru. Diprediksikan tanaman masih bisa panen sebanyak tiga kali lagi, sebelum akhirnya harus diremajakan.

“Mudah-mudahan masih bisa tiga kali panen lagi,” katanya.

Ayah lima anak itu yakin, usaha di bidang pertanian, khususnya hortikultura menjanjikan. Sebab hortikultura, jenis sayur-sayuran atau buah-buahan lebih cepat menghasilkan uang hanya dalam hitungan bulan. Selain itu, baginya, usaha pertanian perkebunan memberikan ketenangan dalam hidup.

“Saya itu sampai malam hari juga datang ke kebun. Menggunakan lampu, saya mengawasi pertumbuhan cabe di kebun saya, melihat kembang cabe mulai mekar di malam hari, rasanya begitu menyenangkan. Rasanya begitu tenang, damai, bisa mendapatkan hasil uang dari kebun,” kata pria yang juga merupakan Anggota Kelompok Tani Karya Sugih Alam Tani, begitu optimis.

Baca Juga  Nakhoda Partai Gerindra Kota Ternate Berganti

Haji Riduan yang ketika itu didampingi Penyuluh Pertanian, Eko Wijaya mengatakan, harga cabai di daerah ini relatif baik. Bahkan pada saat-saat tertentu, harga cabai bisa melambung tinggi di tingkat pedagang pengumpul atau agen.

“Pada saat pasokan cabai kosong, harga jual di tingkat agen bisa mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 perkg. Tapi saat kondisi normal, cabai jenis ini dibeli pada kisaran harga Rp 24.000 perkg,” kata suami tercinta Sulastri, berharap usahanya membawa berkah.

Apalagi dalam usaha tersebut, Haji Riduan tak sendiri. Ia dibantu oleh beberapa orang tenaga kerja, termasuk seorang pengurus atau kuasa lapangan, karena tak hanya kebun cabai yang ia miliki, namun kebun semangka, karet, lada, ubi dan juga kelapa sawit.

“Khusus untuk cabai saya sudah keluarkan biaya Rp 80 Juta, mudah-mudahan hasilnya berlipat ganda,” kata Haji Riduan. (red/BP) .