Demo UU Cipta Kerja, Mahasiswa Lempari Kapolda Maluku dengan Batu

oleh -69 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law Cipta Kerja di Ambon Maluku berujung ricuh.

Massa aksi menyerang Kapolda Maluku, Irjen Pol Baharudin Djafar menggunakan batu di Universitas Pattimura Ambon.

Pelemparan batu tersebut bentuk kekecewaan mahasiswa karena beberapa rekannya habis babak belur dipukuli polisi pada demo hari sebelumnya.

Saat Baharudin tiba dan masuk pintu gerbang kampus langsung disambut dengan hujan batu yang tengah dikawal petugas berperalatan lengkap. Situasi pun menjadi tegang antara petugas dan mahasiswa.

Link Banner

Mahasiswa yang tengah berkumpul di area gedung Rektorat langsung melempari Kapolda Maluku yang berniat untuk bertemu mahasiswa.

Mahasiswa menolak Kapolda dengan cara melempari batu karena mahasiswa kesal terhadap anggota polisi memukul mahasiswa hingga babak belur.

Aksi saling lempar batu antara mahasiswa dan petugas pun tak bertahan lama setelah jalan bernegosiasi antara pimpinan kampus dan mahasiswa mendapatkan kesepakatan.

Mahasiswa dan Kapolda berhasil dipertemukan untuk mencari jalan solusi atas tuntutan aksi penolakan undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang disahkan DPR.

Baca Juga  Syukuran HUT Korem 151/Binaiya, Sederhana dan Penuh Khidmat

Di hadapan Kapolda, mahasiswa meminta Kapolda mencopot anggota polisi yang memukuli beberapa orang mahasiswa hingga berdarah-darah saat berunjuk rasa di sepanjang jalan kampus universitas Pattimura.

Kapolda Maluku Irjen Pol Baharudin Djafar menegaskan akan mengusut dan memberi sanksi tegas kepada anggota polisi yang memukul mahasiswa.

“Apakah kalian di sini ada yang memukul mahasiswa?” tanya Baharudin.

Rombongan anak buahnya langsung menjawab, “siap tidak.”

“Polisi harus memberi pelayanan kepada masyarakat terutama melindungi mahasiswa, saya akan memberi sanksi tegas kepada polisi yang menganiaya mahasiswa,” tegas Baharudin, Kamis 8 Oktober 2020 sore.

Baharudin juga meminta mahasiswa segera mengenali satu per satu anggota polisi yang memukuli mahasiswa saat mengawal aksi Omnibus Law Cipta Kerja di Ambon.

Sebelumnya sebanyak lima mahasiswa dipukuli anggota polisi saat berunjuk rasa di Ambon kemarin. Mereka mendapatkan luka di beberapa bagian tubuh akibat mendapat pukulan polisi.

Baca Juga  Jokowi nomor urut 1, Prabowo nomor 2 di Pilpres 2019

Kapolresta Ambon Terkena Lemparan Batu 

Sementara itu, Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang ikut menjadi korban dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Leo yang saat itu memimpin langsung pengamanan aksi unjuk rasa para mahasiswa yang menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja ikut terkepung dan terkena lemparan batu tepat di bagian dadanya.

Leo mengungkapkan, ia terkena lemparan batu saat berada di garis depan berhadapan dengan para mahasiswa.

“Saya juga kena lemparan batu di dada tadi, kebetulan saya di garis depan ya,” kata Leo kepada waratwan, sambil menunjukan bekas lemparan batu yang membekas di seragamnya.

Leo mengaku, ia terpaksa maju ke garis depan saat bentrokan terjadi karena ingin mencegah bentrokan meluas lebih besar lagi.

Baca Juga  Lecehkan ponakan sendiri, MS dipolisikan

Dia menyebut, saat berada di garis depan itu, ia terus meminta anak buahnya untuk menahan diri dan tidak menyerang para mahasiswa.

“Kalau saya tidak berada di depan, bentroknya pasti semakin besar,” kata dia.

Meski terkena lemparan batu, namun ia mengaku kondisinya tetap baik-baik saja.

“Itu sudah menjadi konsekuensi saat bertugas ya, saya baik-baik saja,” kata dia.

Bentrokan antara mahasiswa dan polisi mulai terjadi saat para mahasiswa membokade Jembatan Merah Putih yang menghubungkan pusat Kota Ambon dengan Kecamatan Teluk Ambon.

Setelah berhasil dipukul mundur, para mahasiswa kembali ke kampus dan berorasi di sana.

Namun, beberapa saat kemudian bentrokan kembali pecah.

Dalam bentrokan itu sejumlah mahasiswa terluka dan ditangkap polisi.

Sejumlah polisi juga terluka karena terkena lemparan batu. (red/rtm/kcm/bs)