Detik Detik Terakhir Tania

Cerpen Karangan: Tytania Secondy Mulva

Di suatu sekolah, ada 3 orang bersahabat. Mereka sudah bersahabat selama 8 tahun. Sekarang mereka kelas 6 SD. Mereka adalah Tania, Rania dan Putri.

“Ra.. Kita ke taman yuk!” Tanya Tania kepada Rania.
“Hm.. Boleh juga.. Yuk!” jawab Rania.

Tiba tiba dari kejauhan, tampak Putri berlari terbirit birit sambil berkata, “Rania!! Tania!! Tungguin aku dong!” teriak Putri.
“Kamu kemana sih? Dari tadi nggak kelihatan.” Tanya Tania, Rania mengangguk angguk.
“Aku tadi disuruh guru membeli sesuatu.” jawab Putri.
“Udah ah.. Yuk kita ke taman!”

Akhirnya, bel tanda masuk pun berbunyi. Tak lama dari bel masuk, bel pulang pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar dari kelas. Nampak Tania dan Putri sudah siap untuk pulang bersama. Mereka berdua pun pergi ke bangku Rania.

“Rania cepat dong!” Kata Tania.
“Tunggu bentar napa sih?”
“Iya Rania. Cepat! Nanti kita terlambat ke base camp!”
Rania pun tersenyum lebar dan mengangguk.

Akhirnya ketiga sahabat itu pergi keluar gerbang menuju basecamp sambil bersenandung kecil.
Setibanya di basecamp, ketiga sahabat itu mengerjakan pr bersama dengan senang hati.

Tak lama kemudian, pr mereka bertiga selesai.
“Eh.. Jangan lupa besok kita jalan jalan ya!” kata Rania mengingatkan teman temannya.
“Kata papa kita kompoy aja! Oh iya aku pulang dulu ya, bye!” pamit Tania.
“Iya. Bye!!”

Hari jalan jalan mereka pun tiba. Mereka kompoy. Tiba tiba di perjalanan, mobil Tania ditabrak truk besar. Melihat itu, keluarga Rania dan Putri membawa Tania dan keluarganya ke RSUD terdekat. Banyak alat alat menancap di tubuh Tania. Tedengar suara tangisan Rania dan Putri.

Beberapa jam kemudian. Tania sadar. Rania dan Putri diperbolehkan masuk ke dalam ruangan Tania.
“Rania.. Putri.. Mama dan Papaku dimana?” Tanya Tania lemas.
“Um.. Papa dan Mamamu meninggal di tempat.” jawab Putri dengan berat hati mengatakannya.
Tania pun menangis dan langsung pingsan. Kedua sahabatnya terkejut melihat Tania pingsan dan memanggil dokter.

Setelah beberapa saat diperiksa, dokter keluar dari ruangan Tania dan berkata “Pasien ingin bertemu dengan Rania dan Putri!” kata dokter. Putri dan Rania pun pergi ke dalam ruangan.

“Rania.. Putri… Tolong maafkan aku. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tolong jaga persahabatan kalian!” kata Tania dan langsung pingsan.
“Tidakk.. Kamu masih bisa bertahan lebih lama lagi!” kata Rania sambil menangis.
Kemudian Putri memanggil dokter. Putri dan Rania menunggu di luar ruangan.

Beberapa menit berlalu, dokter keluar dari ruangan dengan muka sedih. Rania dan Putri pun menanyakan keadaan Tania. “Kami telah berusaha sebaik mungkin, tapi yang namanya takdir tidak bisa dilawan..” kata dokter.
“Maksudnya?” Tanya Rania penasaran.
“Pasien telah meninggal dunia.” jawab dokter.
“Tidakk… Pasti dokter bohong kan?” kata Rania menangis keras dan kencang.
“Sudahlah Rania, Tania sudah tenang di alam sana!” ujar Putri sambil menangis.

Setelah beberapa lama di rumah sakit, Rania dan Putri pulang ke rumah Tania. Di sana bendera kuning berkibar kibar dan para pelayat mulai berdatangan. Rania dan Putri berlari ke kamar Tania dan memeluk boneka kesayangan Tania. Sekarang hanya tersisa 2 sahabat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: