Dewan Pers Kutuk Kekerasan Jurnalis saat Liput Demo Omnibus Law

oleh -15 views
In this photograph taken on November 13, 2013 Indonesian police kicks a news photographer outside the campus of the State University of Makassar in Makassar city located in South Sulawesi province during clashes between police and students protesting government plan to increase fuel prices. New President Joko Widodo, has pledged to cut huge government subsidies on petrol and diesel which gobble up some 20 percent of the state budget, and divert the money to improving infrastructure and programmes to help the poor. AFP PHOTO / JALIN
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Dewan Pers mengutuk kekerasan terhadap pekerja media saat meliput aksi tolak Undang-undang Cipta Kerja. Dewan Pers menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kekerasan yang diterima para jurnalis.

“Mengutuk keras oknum aparat yang melakukan tindak kekerasan, intimidasi verbal, dan perusakan alat kerja wartawan yang sedang melakukan kerja jurnalistik meliput demonstrasi,” ujar Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh dalam keterangannya, Minggu (11/10/2020).

Dewan Pers mendesak aparat kepolisian memberikan penjelasan secara rinci atas apa yang terjadi dengan beberapa awak media yang diduga mengalami kekerasan saat tengah bertugas.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, kami memandang perlu pihak Kepolisian memberikan penjelasan resmi atas kekerasan dan perusakan yang terjadi,” kata dia.

Link Banner

Dewan Pers mengingatkan aparat Kepolisian saat menjalankan tugas sebagai jurnalistik, para pekerja media dilindungi oleh Undang-Undang. Pasal 8 UU Pers No. 40 tahun 1999 menyatakan, ‘Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum’.

Baca Juga  Kampanye YAMIN ADA di Soa, Diwarnai Aksi Tanda Tangan Dukungan Dari Warga

“Dalam konteks ini, semestinya pihak Kepolisian bersikap hati-hati, proporsional dan tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik,” kata Nuh.

Dia juga mengimbau kepada pihak media dan keluarga wartawan agar segera memberitahukan ke Dewan Pers, Asosiasi Wartawan dan Kepolisian jika ada unsur wartawan peliput demonstrasi yang belum ditemukan keberadaannya hingga saat ini.

“Meminta agar Kepolisian segera melepaskan para wartawan jika ada yang masih ditahan serta memperlakukan mereka dengan baik dan beradab,” kata dia.

Alasan Polisi

Enam Jurnalis turut diamankan polisi saat demonstrasi Omnibus Law di Jakarta beberapa waktu lalu. Salah satunya adalah Junalis Merahputih.com, Ponco Sulaksono.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, Ponco Sulaksono ketika itu berada di antara kerumunan demonstran yang rusuh.

Baca Juga  Satgas Yonarmed 9 Kostrad Menerima Kunjungan Kerja Pangdam XVI Pattimura

“Dia bersama-sama dengan para anarko yang kita amankan semuanya,” ucap dia, di Polda Metro Jaya, Sabtu (10/10/2020) malam.

Yusri berdalih, saat itu petugas kepolisian tak mengetahui bahwa Ponco Sulaksono adalah seorang jurnalis.

“Petugas pada saat bertugas tidak tau. Makanya kita harapkan teman-teman menggunakan id card pada saat situasi seperti itu,” ujar dia.

Saat ini, Yusri menyampaikan seluruh telah dipulangkan. Termasuk Ponco Sulaksono.

“Sudah, sudah semuanya (dibebaskan),” ucapnya.

Sementara itu, Yusri enggan berkomentar perihal penganiayaan yang menimpa Jurnalis CNNIndonesia.com, Thohirin dan Suara.com, Peter Rotti.

(red/liputan6)