Diserang OTK di Hutan Halmahera, 3 Warga Halteng Ditemukan Tak Bernyawa

oleh -1.763 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Pencarian terhadap enam warga Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, dan satu anggota TNI yang hilang di hutan Halmahera, Sabtu (20/3), membuahkan hasil.

Sayangnya, tiga dari tujuh orang itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ketujuhnya diduga diserang orang tak dikenal (OTK) saat tengah berada di dalam hutan.

Tiga orang yang ditemukan tak bernyawa adalah Risno (35 tahun) dan Yusuf Kader (40 tahun) yang merupakan warga Desa Batu Dua Kecamatan Patani Utara, dan Masani (40 tahun), warga Desa Masure, Patani Utara.

Jenazah ketiganya dievakuasi dari hutan Selasa (23/3) dini hari.

Link Banner

Sementara empat orang yang selamat adalah Jahid Hamid (40 tahun), Martawan Abdullah (45 tahun), dan Anto Latani (45 tahun) yang juga warga Batu Dua, serta Babinsa Patani Kopda Zain.

Melansir tandaseru.com, jenazah tiga orang yang meninggal dunia masih dalam perjalanan evakuasi ke kampung. Sementara warga yang selamat sudah berada di Puskesmas Patani untuk mendapatkan penanganan.

“Tiga orang meninggal itu sementara dibawa dalam perjalanan menuju ke kampung untuk dilakukan pemakaman,” ucap salah satu warga Desa Peniti, Kecamatan Patani Utara, Helmi Jafar.

Ketujuh orang tersebut diduga diserang OTK di sekitar Kali Gowonley yang merupakan perbatasan Kabupaten Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.

Baca Juga  DPRD Sultra Sepakat Tolak Kedatangan 500 TKA China

Proses pencarian dilakukan warga, TNI dan Polri yang menyusur hutan sejak Senin (22/3).

Terpisah, Danki SSK 3/Weda Satgas Pamrahwan Yonarmed 8/105 Trk. Uddhata Yudha, Kapten Arm Edy Tri Santoso saat dikonfirmasi mengatakan, jenazah Masani dan Yusuf ditemukan di lokasi yang sama. Sedangkan jenazah Risno ditemukan 12 kilometer dari dua jenazah lain.

“Selanjutnya tiga mayat yang sudah dalam keadaan hancur langsung dievakuasi dengan cara memikul secara bergantian,” tuturnya.

Sementara itu, Anto Latani (45 tahun) dan Kopda Zen Tehuayo (35 tahun), anggota Koramil 1512/02 Patani yang ditugaskan sebagai Babinsa, berhasil keluar dari belantara hutan Halmahera Tengah, Maluku Utara, dengan selamat pada Minggu 21 Maret 2021.

Mereka menyusuri hutan, menghindari kejaran orang tak dikenal dilengkapi senjata tradisional berupa panah, hingga tiba di kawasan Sungai Gwonley. Keduanya kemudian dirawat di Puskemas Tepeleo karena mengalami luka ringan.

Setelah Anto dan Kopda Zen, disusul Martawan Abdullah (45 tahun) dan Jahid Hamid (40 tahun) lebih dulu lolos dari peristiwa maut tersebut. Martawan tiba di Desa Peniti, Patani Timur, Halteng, pada Senin 22 Maret 2021.

Baca Juga  Fakta Lagu "Party in the USA" Miley Cyrus yang Bergema di Kemenangan Joe Biden

Sedangkan Jahid di Dusun Sil, Desa Bicoli, Halmahera Timur, pada malam hari. Sementara, Yusuf Kader (40 tahun), Risno (40 tahun) dan H. Masani (55 tahun) tewas di lokasi kejadian.

Melansir Halmaherapost.com, Selasa 23 Maret 2021, Ateng Piniti – menantu dari korban tewas bernama Masani – , mengabarkan saat ini mereka sedang menuju ke lokasi jenazah ditemukan. “Masih 1 kilometer lagi baru sampai di lokasi,” ujar Ateng.

Ateng menjelaskan, tim evakuasi yang terdiri dari warga Desa Masure, Patani Timur, dibagi 3 kelompok. “Kami sudah menempuh 2 jam perjalanan dari desa,” katanya.

Ia mengaku sudah ada aparat keamanan yang berjaga di lokasi jenazah ditemukan. “Jadi kami 3 kelompok ini datang untuk membawa jenazah ke desa,” jelasnya.

Seorang sumber yang enggan namanya dipublish, mengungkapkan 7 orang tersebut masuk hutan pada Sabtu 20 Maret 2021 pagi. “Mereka diserang OTK menjelang sore,” katanya.

Menurut keterangan dari salah satu korban, lanjut dia, tujuan mereka ke hutan untuk mendulang emas. “Memang kabar yang beredar mau jerat burung, tapi pengakuan dari korban yang selamat, mau dulang emas,” ungkapnya.

Baca Juga  Jubir FAM-SAH Yakin Tidak Ada PSU di Pilkada Kepulauan Sula

Ditanya keterlibatan anggota Babinsa ikut dalam rombongan tersebut, ia mengaku tidak tahu. “Setahu saya karena mereka itu baku teman, jadi mungkin baku ajak masuk hutan itu,” katanya.

Ia menjelaskan, lokasi dulang emas berada di aliran Sungai Gwonley, Patani Timur, Halteng. Kawasan tersebut adalah bekas perusahaan kayu milik seorang pria berdarah China yang oleh masyarakat setempat akrab disapa Amen.

“Jadi di sini warga masuk hutan itu kalau bukan mau ambil kayu gaharu, naik pala hutan, berarti dulang emas,” katanya.

Ia mengaku banyak jalur di kawasan perusahaan kayu. “Karena jalur logging toh,” katanya.

Dalam perjalanan ke hutan, 7 orang tersebut menaru sepeda motornya di sebuah lokasi yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan kilometer 5.

“Simpan motor di situ baru berjalan ke kilometer 8. Dari situ mereka berjalanan kaki ke kawasan Bauli. Perjalanannya sekitar 2 jam. Jadi cukup jauh dari desa,” jelasnya.

Hingga berita ini dipublish, belum ada keterangan lebih lanjut dari aparat kepolisian maupun pihak terkait lainnya.

(red/tsc/hp)